HARIAN.FAJAR.CO.ID, INGLEWOOD—Spanyol bertekad menjaga rekor mereka saat menghadapi Austria di babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Stadion SoFi, dini hari nanti. Ini tugas berat karena kondisi skuad.
Sang juara Eropa yang melaju ke fase knockout sebagai juara Grup H menyongsong laga ini dengan rekor yang sangat menakutkan.
Spanyol tidak hanya mencatatkan rekor tanpa kebobolan 100% di Piala Dunia sejauh ini, namun juga belum pernah menghadapi tembakan tepat sasaran di babak pertama.
Pertahanan yang begitu kokoh membuat La Roja berhasil melanjutkan rentetan tanpa kekalahan mereka. Saat ini, Tim Matador total sudah melewatkan 34 pertandingan di semua kompetisi—tidak termasuk kekalahan adu penalti—tanpa kekalahan.
Mereka kini hanya terpaut satu pertandingan dari rekor tim nasional mereka sebelumnya yaitu 35 pertandingan yang ditorehkan antara 2007 dan 2009.
Pasukan Luis de la Fuente juga hampir menyamai rekor terbaik sepanjang masa yang dipegang timnas Italia. Gli Azzurri yang berjaya di Euro 2020 memegang rekor tak terkalahkan terpanjang dalam sepak bola dengan 37 pertandingan.
Namun, misi mempertahankan rekor bagus ini sedikit terganggu dengan masalah di sektor sayap yang menjadi senjata Spanyol saat juara EURO 2024 serta laga-laga tak terkalahkan mereka selanjutnya setelah turnamen itu.
Menyusul cedera Nico Williams dan Yeremy Pino saat mereka menang 1-0 melawan Uruguay di laga terakhir fase grup, posisi sayap Spanyol yang bertugas menyuplai bola untuk Mikel Oyarzabal benar-benar mengkhawatirkan.
Pemain baru Liverpool, Victor Munoz, yang diharapkan jadi alternatif belum tampil di Piala Dunia karena masalah otot dan menit bermain bintang Barcelona, Lamine Yamal perlu diatur dengan hati-hati setelah kembali dari cedera hamstring.
Kondisi ini membuat daya tekan Spanyol akan sangat berkurang. Apalagi jika Yamal belum bisa bermain selama 90 menit seperti di tiga pertandingan sebelumnya di fase grup.
Terlepas dari kekhawatiran tersebut, Luis De la Fuente tetap senang dengan kemajuan timnya secara keseluruhan, meskipun ia mengakui Spanyol gagal mencapai standar biasanya dalam penguasaan bola.
“Kami ingin menjadi lebih baik dari sekarang, tetapi kami sudah bermain sangat baik. Kami perlu meningkatkan kecepatan operan dan ritme permainan kami,” katanya di Goal.
Terkait masalah di sektor sayap, De la Fuente menegaskan mereka kini harus lebih kreatif menciptakan peluang. “Kami harus memperbaiki cara mengalirkan bola dan menciptakan peluang dari berbagai sisi, bukan hanya dari sayap,” ujarnya.
Sang pelatih juga percaya bahwa laga melawan Austria akan berbeda. “Setiap pertandingan berbeda. Setiap lawan berusaha memaksimalkan kelebihannya masing-masing,” tandasnya.
Fabian Ruiz juga mencoba mengurangi kekhawatiran penggemar Spanyol. “Saya percaya tim secara bertahap semakin membaik dalam beberapa pertandingan terakhir,” kata Ruiz kepada AFP.
“Kami tahu bahwa Piala Dunia sangat sulit, tetapi kami memiliki banyak kepercayaan diri pada diri kami sendiri dan pada kerja keras kami,” lanjutnya.
Sejak generasi emas Spanyol yang meliputi Andres Iniesta, Xavi Hernandez, Sergio Ramos, dan Carles Puyol memenangkan Piala Dunia untuk pertama kalinya pada tahun 2010 serta gelar Piala Eropa 2008 dan 2012, Spanyol kesulitan di panggung global.
Mereka tersingkir di babak grup sebagai juara bertahan pada tahun 2014, kemudian tereliminasi melalui adu penalti melawan Rusia dan Maroko di babak 16 besar pada dua Piala Dunia terakhir. Dan, kekhawatiran itu muncul lagi setelah melihat kejutan di Piala Dunia 2026 ini.
Makanya, Ruiz memastikan mereka harus benar-benar siap. “Kita telah melihat bahwa saat ini, tim mana pun dapat mengalahkan Anda. Saya pikir kami siap untuk itu dan menantikan pertandingan,” ujarnya.
Terlepas dari masalah Spanyol, kubu Austria yang finis sebagai runner up Grup J di belakangan Argentina setelah hasil imbang 3-3 yang dramatis melawan Aljazair tidak berani sesumbar akan membuat kejutan.
Pelatih Austria, Ralf Rangnick menegaskan timnya butuh performa terbaik untuk bisa meladeni permainan Spanyol. “Kami harus memberikan performa terbaik. Karena hanya dengan mencapai level tertinggi kita dapat bersaing dengan Spanyol,” tegasnya di All Football.
Meski begitu, eks pelatih Manchester United itu tetap menyimpan harapan bahwa dewi fortuna akan memihak Das Team, julukan timnas Austria dan mereka bisa melaju untuk menghadapi Portugal atau Kroasia di babak 16 besar.
“Kami pasti akan berjuang untuk kesempatan ini. Lagipula, apa pun mungkin terjadi dalam pertandingan sistem gugur. Piala Dunia FIFA ini telah membuktikannya,” katanya.
Marko Arnautovic dan David Alaba sedikit kurang fit setelah laga seru kontra Aljazair, tetapi keduanya diperkirakan bisa tampil. Danso dan Michael Gregoritsch juga siap menggantikan mereka jika diperlukan sehingga Rangnick tidak punya masalah berarti.
Sementara Spanyol, absennya Pino, Williams, dan Munoz membuat Alex Baena yang mencetak gol kemenangan melawan Uruguay akan turun sejak awal bersama Yamal di kedua sisi sayap. Sedangkan di lini tengah, Mikel Merino, Fabian Ruiz, Dani Olmo, dan Gavi bersaing untuk tampil bersama Rodri dan Pedri.
Kedua negara ini terakhir kali bertemu 2009 silam ketika David Villa mencetak dua gol dalam kemenangan 5-1 Spanyol. Austria terakhir kali menang atas Spanyol saat unggul 3-2 dalam laga persahabatan pada tahun 1990. (amr)
Prakiraan pemain
Spanyol (4-3-3): Simon; Llorente, Cubarsi, Laporte, Cucurella; Merino, Rodri, Pedri; Yamal, Oyarzabal, Baena
Austria (4-2-3-1): A. Schlager; Posch, Lienhart, Alaba, Mwene; Siewald, X. Schlager; Laimer, Schmid, Sabitzer; Arnautovic





