BKPM sebut investor Australia berencana bangun fasilitas pCAM di RI

antaranews.com
6 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Investasi dan Hilirisasi menyampaikan perusahaan teknologi pemrosesan material baterai asal Australia, Pure Battery Technologies (PBT), berencana membangun fasilitas precursor Cathode Active Material (pCAM) di Indonesia dengan investasi 350 juta dolar AS.

Rencana investasi tersebut dibahas dalam pertemuan antara Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu dengan Chairman Pure Battery Technologies Stephen Wilmot, didampingi Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) Sydney Leidy Surianingrat, di Kantor IIPC Sydney, Australia.

Dalam pernyataan resmi terkonfirmasi di Jakarta, Kamis, Todotua menyampaikan di pertemuan itu, PBT memaparkan rencananya mengembangkan industri pCAM berbasis Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) yang dipasok dari fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) domestik, dengan tujuan jangka panjang membangun fasilitas produksi pCAM di Indonesia senilai 350 juta dolar AS.

"Indonesia sudah memiliki HPAL dan akan segera memiliki manufaktur sel baterai. Mata rantai yang tersisa adalah pCAM dan katoda. Justru di sinilah investasi seperti Pure Battery Technologies menjadi krusial untuk melengkapi ekosistem baterai yang terintegrasi penuh," ujar Todotua.

Menurut dia, kehadiran investasi tersebut akan melengkapi rantai nilai industri baterai nasional, mulai dari nikel, Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), pCAM, katoda, hingga sel baterai. Langkah ini juga diyakini memperkuat daya saing Indonesia sebagai pusat ekosistem kendaraan listrik.

Baca juga: KLRI memaparkan empat pilar sistem sirkularitas baterai di Korea

Baca juga: Manajemen limbah baterai menjadi fokus pembangunan industri

Pemerintah menilai investasi pCAM memiliki peran strategis karena mampu mengisi kesenjangan pada rantai pasok industri baterai di tahap midstream sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas nikel di dalam negeri.

Saat ini, tahapan battery precursor masih belum dikembangkan di Indonesia, padahal merupakan salah satu segmen dengan penciptaan nilai tertinggi dalam rantai industri nikel.

Direktur IIPC Sydney Leidy Surianingrat menyatakan pihaknya akan terus mendukung proses realisasi investasi tersebut, termasuk menjembatani koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan dan calon mitra strategis.

"IIPC Sydney berkomitmen untuk terus memfasilitasi perjalanan investasi Pure Battery Technologies di Indonesia, dengan menghubungkan perusahaan ke pemangku kepentingan pemerintah dan mitra strategis yang relevan, serta mendukung langkah-langkah selanjutnya menuju realisasi proyek," ujar Leidy.

Selain membahas rencana investasi, kedua belah pihak juga mendiskusikan pendirian badan hukum PBT di Indonesia, opsi lokasi pembangunan fasilitas produksi, skema pembiayaan, serta peluang kemitraan strategis di sektor pertambangan dan pengolahan nikel.

Baca juga: BKPM: Indonesia tawarkan peluang investasi pengembangan baterai EV

Baca juga: Dorong industri baterai nikel, Indonesia bidik kemandirian energi




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IHSG Anjlok 34% dan Net Sell Asing Rp 88 T, Sentimen Apa yang Hantam Pasar RI?
• 21 jam lalukatadata.co.id
thumb
Gadis Tasikmalaya Disekap Bos Koperasi Gegara Utang, Ortu Pilih Damai
• 7 jam laludetik.com
thumb
Jadikan Ojol Pelaku UMKM, Pemerintah Akan Koordinasi dengan Aplikator
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Gelombang Panas Eropa, Spanyol Catat Rekor Kematian Tertinggi Pada Bulan Juni
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Andre Rosiade Berangkatkan Buk Ema Umrah usai Viral Doakan Jemaah Haji
• 13 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.