JAKARTA, KOMPAS.com – Di balik wajah yang dicat putih pucat, alis dan bibir yang digaris tegas dengan warna hitam, tersimpan perjuangan para seniman pantomim yang jarang terlihat.
Setiap kali tampil, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Hanya gerak tubuh yang berbicara.
Namun, di balik pertunjukan seni tanpa kata itu, ada dapur yang harus tetap mengepul dan keluarga yang harus dinafkahi.
Menjadi seniman tanpa kata atau pantomimer itulah yang selama ini menjadi andalan Amar (38), warga Cilincing, Jakarta Utara, untuk mencari nafkah bagi keluarganya.
Baca juga: Seniman Pantomim Ramaikan CFD Jakarta, Anak-anak Ikut Tampil
Awal mula terjunPria asal Cilincing itu bercerita, dirinya mulai terjun ke dunia pantomim secara profesional sejak 2008.
Sementara itu, ia telah mengenal seni pantomim sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) di salah satu pesantren di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Saat itu, di sekolahnya terdapat sanggar seni bernama Sanggar Kobong yang mengajarkan berbagai kesenian tradisional, termasuk teater.
"Kebetulan saat itu ada pertunjukan happening art yang lebih banyak menggunakan teater tubuh. Saya mempelajari teater tubuh di sana," kata Amar ketika ditemui di Gelanggang Remaja Jakarta Utara (GRJU), Rabu (1/7/2026).
Singkat cerita, setelah lulus SMA, Amar pergi ke Jakarta dan bertemu dengan rekan-rekannya yang berprofesi sebagai penari di Dunia Fantasi (Dufan).
Baca juga: Ditinggal Merantau Orangtua, 2 Siswa SD di Bangkalan Raih Prestasi Bidang Seni Pantomim
Sejak saat itulah Amar mulai terlibat dalam pertunjukan pantomim di pusat-pusat perbelanjaan karena telah memiliki kemampuan teater tubuh.
Sejak 2008, Amar terus memperdalam dunia pantomim hingga sekarang.
Selain karena kecintaannya pada seni, Amar memutuskan menekuni dunia pantomim karena melihat adanya peluang ekonomi yang menjanjikan.
"Jadi, selain berkarya, saya juga berpikir bagaimana hobi ini bisa menjadi ladang ekonomi. Akhirnya, saya geluti secara profesional sampai sekarang," sambung dia.
Pada awal menekuni dunia pantomim, Amar tentu tidak langsung tampil di panggung-panggung besar. Ia mengawali kariernya dengan tampil di lampu merah.
Baca juga: Mengenal Sejarah Badut, Karakter Konyol dalam Sirkus dan Pantomim
Ia bercerita, salah satu pengalamannya adalah berpantomim di lampu merah di depan Mal Pejaten Village, Jakarta Selatan, sambil membagikan brosur promosi pusat perbelanjaan tersebut kepada para pengendara.
Jasa membagikan brosur itu dibayar sesuai kesepakatan dengan pihak mal. Di sisi lain, Amar juga memperoleh tambahan penghasilan dari para pengendara yang mengira dirinya sedang mengamen.
Pekerjaan membagikan brosur dengan mengenakan kostum pantomim itu dijalaninya selama kurang lebih dua tahun.
Seiring berjalannya waktu, Amar mulai mendapat banyak panggilan untuk tampil di berbagai panggung.




