Jakarta: Organisasi Angkutan Darat (Organda) menyatakan akan segera melakukan penyesuaian penerapan bahan bakar minyak (BBM) biodiesel B50 pada armada angkutan umum di bawah naungannya. Di saat yang sama, Organda meminta pemerintah memastikan ketersediaan solar agar operasional transportasi nasional tetap berjalan lancar.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Organda Adrianto Djokosoetono mengatakan implementasi B50 bukan lagi persoalan kesiapan, melainkan kemampuan pelaku usaha beradaptasi melalui penyesuaian operasional.
"Jadi, kalau berbicara masalah B50, bukan masalah siap dan tidak siap, kita pasti harus menyesuaikan. Dengan berbagai teknik operasional, kami cukup berpengalaman sejak dulu," ujar Adrianto dikutip dari Antara, Rabu, 1 Juli 2026.
Adrianto menjelaskan armada angkutan yang saat ini beroperasi pada dasarnya belum dirancang secara khusus untuk menggunakan biodiesel B50. Karena itu, proses penyesuaian teknis perlu dilakukan secara bertahap. "Kendaraannya memang tidak disiapkan untuk B50. Tapi kami akan menyesuaikan," jelas dia.
Menurut dia, pengalaman penerapan campuran biodiesel sebelumnya menjadi modal bagi operator transportasi untuk beradaptasi dengan kebijakan energi terbaru.
Di tengah proses penyesuaian, Organda menilai ketersediaan solar di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menjadi faktor paling krusial bagi keberlangsungan layanan angkutan umum. Adrianto menegaskan jaminan distribusi solar lebih mendesak dibandingkan isu harga ataupun persentase campuran biodiesel.
"Masalah B50, kami lebih fokus bagaimana solar itu tersedia. Di setiap rapat kami selalu meminta agar solar ada di mana pun terdapat SPBU, setiap saat. Itu lebih penting dibandingkan harga maupun B50 atau campuran yang lebih tinggi ke depan," terang Adrianto.
Ia menambahkan kendala pasokan solar masih ditemukan di sejumlah wilayah seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Bali, dan daerah lainnya.
Baca juga: KAI Pastikan Seluruh Sarana Diesel Siap Gunakan Biodiesel B50
(Ilustrasi B50. Foto: Gapki.id)
Tantangan teknis pada kendaraan Euro
Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP Organda Kurnia Lesani Adnan mengatakan penerapan biodiesel B50 memerlukan penyesuaian teknis lebih lanjut karena belum sepenuhnya selaras dengan standar kendaraan Euro.
Menurut Kurnia, kandungan fatty acid methyl ester (FAME) dalam biodiesel di banyak negara umumnya berada di kisaran 12,5 persen. Sementara Indonesia telah menerapkan campuran hingga 50 persen melalui program B50.
Kondisi itu berpotensi memunculkan tantangan teknis pada kendaraan yang menggunakan teknologi exhaust gas recirculation (EGR) maupun AdBlue, seperti penumpukan sludge dan penyumbatan sistem silencer.
Akibatnya, pelaku usaha harus menyesuaikan pola operasional, termasuk memperpendek masa pakai filter solar yang berdampak pada peningkatan biaya perawatan armada.
Meski menghadapi tantangan teknis, Organda menegaskan tetap mendukung implementasi biodiesel B50 sebagai bagian dari kebijakan transisi energi nasional.
Organda berharap pemerintah dapat memastikan distribusi solar berjalan merata dan berkelanjutan agar proses transisi menuju campuran biodiesel yang lebih tinggi tidak mengganggu layanan transportasi publik.
"Konsekuensi teknis bukan untuk diabaikan, tapi kami akan menyesuaikan. Intinya itu. Namun kalau solar tidak tersedia, kami tidak bisa berbuat banyak," kata Adrianto menambahkan.




