Produser sekaligus pendiri Langit Pictures, Ferly Halim, menemui Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya, untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi industri perfilman nasional, khususnya bagi rumah produksi independen.
Pertemuan yang berlangsung di Gedung Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta itu menjadi ajang diskusi mengenai perkembangan industri kreatif sekaligus masa depan perfilman Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Ferly mengungkapkan bahwa tantangan rumah produksi independen tak hanya berhenti pada proses pembuatan film. Menurutnya, perjuangan berlanjut pada distribusi, promosi, pemasaran, hingga bagaimana sebuah film bisa memperoleh ruang tayang yang cukup untuk menjangkau masyarakat.
"Sebagai rumah produksi, perjuangan kami tidak berhenti ketika film selesai dibuat. Justru tantangan berikutnya adalah bagaimana menghadirkan film tersebut kepada masyarakat. Kami berharap semakin banyak ruang dan kesempatan bagi film Indonesia untuk berkembang sehingga karya-karya yang membawa nilai edukasi dapat benar-benar sampai kepada publik," ujar Ferly.
Ferly Halim menilai masa awal penayangan di bioskop menjadi periode krusial bagi sebuah film untuk membangun kesadaran publik dan menarik minat penonton. Karena itu, ia berharap ada kebijakan yang semakin mendukung pertumbuhan industri film nasional, termasuk ketersediaan layar yang lebih memadai bagi film-film Indonesia.
Dalam pertemuan itu, Ferly juga memperkenalkan film keluarga terbaru garapannya, Takkan Kubiarkan Kau Menangis, yang dijadwalkan tayang di jaringan bioskop XXI mulai 16 Juli mendatang.
Menurut Ferly, film tersebut mengangkat pentingnya komunikasi dalam keluarga, khususnya hubungan antara orang tua generasi milenial dan anak-anak generasi Z.
"Kadang kita lebih mudah menunjukkan perhatian dan kasih sayang kepada orang lain dibandingkan kepada keluarga sendiri. Padahal rumah adalah tempat pertama lahirnya mimpi, harapan, dan masa depan seorang anak," katanya.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengapresiasi kiprah Ferly dalam membangun rumah produksi independen di tengah persaingan industri yang semakin ketat. Ia juga menilai kehadiran sineas muda yang mampu mengembangkan perusahaan kreatif menjadi modal penting bagi pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia.
Riefky menyebut, pemerintah berkomitmen untuk terus mendukung perkembangan rumah produksi nasional, termasuk memperkuat ekosistem perfilman dan mendorong penambahan layar bioskop di berbagai daerah agar akses masyarakat terhadap film Indonesia semakin luas.





