Seluruh badan usaha milik negara (BUMN) yang berada dalam ekosistem Danantara Indonesia telah menyelesaikan laporan keuangan tahun buku 2025 per 30 Juni 2026. Penyelesaian laporan individual tersebut menjadi dasar bagi Danantara Indonesia untuk melanjutkan penyusunan laporan keuangan konsolidasian 2025 yang masih berada dalam proses audit.
Danantara belum mengungkapkan nilai aset, liabilitas, pendapatan, laba, maupun posisi ekuitas secara konsolidasian. Lembaga tersebut menyatakan laporan keuangan konsolidasian akan disampaikan setelah seluruh tahapan audit selesai sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
“Laporan Keuangan Konsolidasian 2025 Danantara Indonesia masih berada dalam proses penyelesaian sesuai tahapan audit yang berlaku dan akan disampaikan setelah seluruh proses audit selesai sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” demikian pernyataan Danantara dalam siaran pers yang diterbitkan Kamis (2/7/2026).
Penyelesaian laporan keuangan individual BUMN tersebut dilakukan di tengah agenda konsolidasi pengelolaan aset negara dan investasi pemerintah di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara. Laporan keuangan tahun buku 2025 dari masing-masing BUMN disebut telah tersedia di situs resmi perusahaan terkait.
Danantara menyampaikan sejumlah contoh perkembangan kinerja BUMN untuk periode April 2025 hingga April 2026. Data tersebut bukan laporan keuangan konsolidasian Danantara dan bukan pula daftar lengkap seluruh BUMN dalam ekosistemnya, melainkan sorotan atas sejumlah entitas yang mencatat perbaikan kinerja pada tahun pertama berada dalam ekosistem pengelolaan Danantara.
Kinerja BUMN dalam Sorotan Danantara BUMN Posisi April 2026 Perubahan dibanding April 2025 Keterangan Pertamina Laba Rp24,9 triliun Naik Rp11 triliun atau 80% Peningkatan laba Pupuk Indonesia Laba Rp4,8 triliun Naik Rp3,2 triliun atau 202% Peningkatan laba Pelindo Laba Rp1,5 triliun Naik Rp900 miliar atau 169% Peningkatan laba InJourney Laba Rp300 miliar Naik Rp74 miliar atau 33% Peningkatan laba BRI Laba Rp21,2 triliun Naik Rp2,8 triliun atau 15% Peningkatan laba Bank Mandiri Laba Rp21,3 triliun Naik Rp2,5 triliun atau 13% Peningkatan laba BNI Laba Rp7,2 triliun Naik Rp381 miliar atau 6% Peningkatan laba Adhi Karya Laba Rp69 miliar Naik Rp60 miliar atau 667% Peningkatan laba Krakatau Steel Laba Rp635 miliar Dari rugi Rp981 miliar Perbaikan pascarestrukturisasi dan dukungan modal DAM Kimia Farma Laba Rp108 miliar Dari rugi Rp160 miliar Perbaikan pascarestrukturisasi dan dukungan modal DAM Semen Indonesia Laba Rp106 miliar Dari rugi Rp66 miliar Transformasi bisnis oleh DAMCatatan: Perbandingan menggunakan periode April 2025 hingga April 2026 untuk menggambarkan satu tahun pertama BUMN berada dalam ekosistem pengelolaan Danantara Indonesia.
Pertamina mencatat kenaikan laba terbesar secara nominal dalam daftar tersebut. Laba perusahaan energi negara itu mencapai Rp24,9 triliun pada April 2026, meningkat Rp11 triliun atau 80% dibandingkan periode April 2025.
Di sektor perbankan, Bank Mandiri membukukan laba Rp21,3 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan BRI yang mencatat laba Rp21,2 triliun. Namun, pertumbuhan laba BRI mencapai 15%, lebih tinggi dari pertumbuhan laba Bank Mandiri sebesar 13%.
Pupuk Indonesia membukukan kenaikan laba tertinggi secara persentase di antara BUMN yang masih mencatat laba pada kedua periode pembanding, yakni 202%. Laba Pupuk Indonesia tercatat Rp4,8 triliun pada April 2026, naik Rp3,2 triliun dibandingkan April 2025.
Sementara itu, Adhi Karya membukukan laba Rp69 miliar atau meningkat Rp60 miliar setara 667%. Angka pertumbuhan tersebut berasal dari basis laba yang relatif rendah pada periode pembanding.
Tiga BUMN Berbalik LabaDanantara juga menyoroti perbaikan kinerja Krakatau Steel, Kimia Farma, dan Semen Indonesia. Ketiganya mencatat perubahan dari posisi rugi menjadi laba pada April 2026.
Krakatau Steel membukukan laba Rp635 miliar setelah pada April 2025 mencatat rugi Rp981 miliar. Danantara mengaitkan perbaikan tersebut dengan restrukturisasi dan dukungan modal dari Danantara Asset Management (DAM).
Kimia Farma mencatat laba Rp108 miliar dari posisi rugi Rp160 miliar pada periode sebelumnya. Semen Indonesia juga membukukan laba Rp106 miliar setelah sebelumnya rugi Rp66 miliar.
Namun, angka-angka tersebut merupakan sorotan kinerja berbasis periode April 2025–April 2026. Danantara belum memaparkan laporan keuangan penuh tahun buku 2025 masing-masing BUMN dalam siaran pers tersebut, termasuk pendapatan, arus kas, aset, liabilitas, dan ekuitas seluruh entitas yang ditampilkan.
Dividen BUMN Dialokasikan untuk Investasi StrategisDi luar proses konsolidasi laporan keuangan, Danantara menyatakan mulai merealisasikan mandat investasinya dengan menggunakan antara lain dividen BUMN yang diterima sepanjang 2025.
Danantara menyebut sebagian dana tersebut telah dialokasikan untuk pengembangan ekosistem haji dan umrah Indonesia di Makkah serta proyek waste-to-energy atau pengolahan sampah menjadi energi.
Pengembangan ekosistem haji dan umrah di Makkah ditujukan untuk meningkatkan layanan bagi jemaah Indonesia dan memperkuat keterlibatan Indonesia dalam ekosistem haji global. Sementara proyek waste-to-energy diarahkan untuk mendukung pengelolaan sampah, ketahanan energi, dan transisi ekonomi hijau.
Danantara menyatakan investasi tersebut dijalankan dengan mengedepankan tata kelola, disiplin investasi, manajemen risiko yang prudent, dan orientasi penciptaan nilai jangka panjang.





