Terumbu Karang Rusak Imbas Kapal Wisata Kandas di Berau, Penyebabnya Ditelusuri

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

BALIKPAPAN, KOMPAS — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan pemerintah pusat menginvestigasi penyebab kapal wisata yang kandas di area terumbu karang di Kabupaten Berau. Peristiwa pada Jumat, 19 Juni 2026, itu membuat salah satu titik penyelaman terbaik di sana rusak.

Area tersebut dikenal sebagai Channel Tornado Barracuda di Kepulauan Maratua yang masuk ke dalam Kawasan Strategis Nasional Tertentu. Area itu juga tercatat sebagai pencadangan Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K KDPS).

“Kapal wisata life on board (LOB) itu tercatat membawa wisatawan asing dari Kota Tarakan,” kata Kepala Badan Layanan Umum Daerah UPTD KKP3K KDPS Didik Riyanto S, dihubungi dari Balikpapan, Kamis (2/7/2026).

Ia mengatakan, kapal yang kandas telah dievakuasi beberapa saat setelah kejadian. Perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pun disebut telah memeriksa nahkoda kapal. Tim KKP, kata Didik, sedang melakukan identifikasi dan pendataan kerusakan di tempat kandasnya kapal.

Didik menyebut, kapal tersebut menawarkan konsep berlibur dan menginap di atas kapal selama beberapa hari di berbagai titik, termasuk kepulauan Berau. Kecelakaan pelayaran ini akan diinvestigasi mengingat insiden terjadi di salah satu destinasi wisata selam kelas dunia di sana.

Channel Tornado Barracuda di perairan Maratua merupakan tempat ribuan ikan barracuda berenang melingkar seperti tornado. Di sekitarnya, pengunjung pun bisa menikmati berbagai ikan warna-warni di antara terumbu karang.

Dari informasi awal, kata Didik, kapal tersebut mengalami mati mesin saat dalam perjalanan di perairan Berau. Lantaran terbawa arus, kapal tersebut kemudian menabrak perairan dangkal yang terdapat terumbu karang yang rapat.

Pasca insiden ini, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau Yudha Budi Santosa mengatakan, operator wisata diminta melibatkan masyarakat lokal dalam kegiatan wisata. Hal itu dinilai penting agar ada penunjuk arah di perairan dangkal.

Ketika terjadi insiden, kata dia, masyarakat lokal bisa turut membantu agar tak menimbulkan kerusakan terumbu karang. “Gunakan pemandu lokal dan belanjakan kebutuhan di Berau agar manfaat ekonominya juga dirasakan masyarakat,” katanya.

Baca JugaIngin Tiru Raja Ampat, Ekowisata Berau Songsong Pengelolaan Lebih Profesional

Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji mengatakan, pihaknya berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menyelesaikan penyelidikan insiden tersebut. Hasil penyelidikan akan digunakan sebagai landasan agar ada pihak yang bertanggung jawab dan memulihkan kerusakan yang timbul.

“Saat ini masih dalam proses penyelidikan,” ujarnya.

Seno berpendapat, hasil penyelidikan akan memberikan gambaran utuh mengenai detail yang perlu dievaluasi atau ditambahkan. Hal tersebut akan menjadi acuan tata kelola operasional kapal wisata di perairan dan pulau-pulau kecil di Berau.

Didik mengatakan, pihaknya terlibat dalam penyusunan Peraturan Daerah Kalimantan Timur tentang tarif layanan memasuki KKP3K KDPS. Setelah perda itu terbit, pihaknya berencana membuat standar layanan prosedur bagi operator wisata yang masuk kawasan konservasi di perairan dan pulau kecil Kabupaten Berau.

“Salah satunya, misalnya, kapal wisata yang masuk ke kawasan konservasi perlu pendampingan pegiat wisata lokal,” katanya.

Baca JugaDulu Diburu, Kini Dirindu: Penyu dan Jalan Baru Warga Pesisir Berau

Berau selama ini dikenal sebagai daerah wisata unggulan. Ada dua wilayah yang banyak dikunjungi wisman di Berau, yakni Pulau Derawan dan Pulau Maratua. Beberapa kapal pinisi dari luar daerah kerap singgah membawa banyak turis asing ke sana.

Keunikan pesisir Berau adalah tutupan hutan mangrovenya seluas 17.704 hektar dan padang lamun seluas 1.808 hektar. Habitat ini menjadi rumah bagi setidaknya 397 spesies, termasuk di antaranya 162 spesies yang bernilai konservasi tinggi. Keistimewaan itulah yang menyedot kunjungan pada April-Mei 2026 mencapai 10.000 wisman menuju Berau.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
OJK Siap Awasi Bursa Mineral Mulai 2027
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Kenapa Megawati Hangestri Belum Juga Gabung Hyundai Hillstate? Ternyata Ini Alasannya
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Membuka Hambatan Investasi, Belajar dari MoU dengan Negara Mitra
• 20 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kemenperin Perkuat Implementasi HGBT untuk Dongkrak Daya Saing Industri di Tengah Penurunan PMI Manufaktur
• 17 jam lalupantau.com
thumb
Asosiasi DPLK Ungkap Pengaruh Kenaikan BI Rate Jadi 5,75% terhadap Investasi Dana Pensiun
• 10 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.