Harga minyak ditutup menguat tipis pada Kamis (2/7/2026) seiring pelaku pasar memburu pasokan menjelang libur panjang Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (AS).
IDXChannel - Harga minyak ditutup menguat tipis pada Kamis (2/7/2026) seiring pelaku pasar memburu pasokan menjelang libur panjang Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (AS).
Aksi short covering, yakni pembelian kembali kontrak oleh investor untuk menutup posisi jual (short), turut menopang kenaikan harga minyak pada perdagangan tersebut.
"Kami melihat aksi short covering dalam perdagangan Kamis. Fokus pasar kini bergeser dari seberapa besar pasokan yang akan hilang menjadi seberapa banyak pasokan yang akan masuk ke pasar," kata Partner Again Capital John Kilduff, dikutip Reuters.
Minyak mentah Brent ditutup naik 0,32 persen ke USD71,80 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 0,16 persen ke USD68,69 per barel.
Dalam perdagangan, kedua acuan sempat menyentuh level terendah sejak sebelum perang AS-Israel melawan Iran pecah pada akhir Februari.
Secara mingguan, Brent turun 0,60 persen, sedangkan WTI melemah 0,78 persen.
Qatar selaku mediator menyatakan AS dan Iran mencatat kemajuan dalam pembicaraan menuju perjanjian damai permanen untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama empat bulan dan sempat mengganggu jalur pelayaran minyak strategis di Selat Hormuz.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan pembahasan mengenai nota kesepahaman yang menghentikan perang pada Juni menunjukkan "kemajuan positif".
Namun, belum ada indikasi kedua pihak berhasil mencapai terobosan menuju perdamaian yang berkelanjutan.
Kementerian tersebut juga menyebut pertemuan berikutnya antara perunding Iran dan AS akan digelar setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 9 Juli.
Kepala Analis Komoditas SEB Bjarne Schieldrop mengatakan arus minyak melalui Selat Hormuz tetap berjalan normal.
Di saat yang sama, pelepasan minyak dari cadangan strategis terus berlangsung, sementara pembelian minyak oleh China dan permintaan global belum sepenuhnya pulih.
"Situasi ini bisa memicu harga turun tajam lebih dulu sebelum akhirnya berbalik menguat pada titik tertentu," ujarnya.
Sedikitnya lima kapal tanker raksasa yang mengangkut total 10 juta barel minyak Saudi dari Ras Tanura telah melewati Selat Hormuz.
Pada saat yang sama, Saudi Aramco beralih menggunakan harga spot untuk mempercepat penjualan ke pasar Asia, berdasarkan sumber perdagangan dan data pelayaran.
Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn mengatakan kilang minyak tampaknya tidak kesulitan memperoleh pasokan minyak mentah, tetapi tantangan justru berada pada proses pengolahan di kilang.
"Pasar menilai situasi Iran mulai membaik. Meski masih akan ada pasang surut, arahnya terlihat semakin positif," katanya.
Di sisi lain, Administrasi Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah AS pekan lalu turun ke level terendah sejak 2018 seiring meningkatnya permintaan dari kilang domestik. Persediaan bensin juga tercatat menurun.
Sementara itu, UBS memangkas proyeksi harga Brent karena meningkatnya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Bank tersebut memangkas proyeksi harga Brent untuk kuartal III sebesar USD25 menjadi USD80 per barel dan menurunkan proyeksi kuartal IV sebesar USD10 menjadi USD80 per barel.
Proyeksi harga untuk 2027 juga dipangkas USD10 menjadi USD75 per barel.
Analis HSBC memperkirakan pasar mampu menyerap kembali pasokan minyak dari Timur Tengah melalui pengisian kembali persediaan secara bertahap, seiring berakhirnya pelepasan cadangan strategis oleh Badan Energi Internasional (IEA) pada Juli.
"Ketika kondisi kelebihan pasokan jangka pendek mulai mereda, harga Brent berpotensi kembali menuju USD80 per barel atau bahkan lebih tinggi," tulis HSBC dalam laporannya. (Aldo Fernando)





