Permintaan Batu Bara Dunia Melonjak Tapi Kok Harga Adem Ayem?

cnbcindonesia.com
9 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara masih bergerak sangat landai.

Merujuk Refinitv, harga batu bara pada Kamis (2/7/2026) ditutup di US$ 129,25 per ton atau turun tipis 0,12%. Artinya, harga batu bara turun 0,13% dalam dua hari terakhir ini.

Harga batu bara melandai meski ada kabar baik.

Pengiriman batu bara global melonjak 14% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni 2026.

Kenaikan didorong lonjakan 41% (yoy) ekspor batu bara ke China. Negeri Tirai Bambu meningkatkan impor untuk menutupi melemahnya produksi domestik sekaligus memenuhi permintaan listrik yang lebih tinggi.

"Sejak awal tahun, pengiriman batu bara global telah meningkat 3% yoy, berbalik dari tren tahun lalu ketika pengiriman turun 4% yoy," kata Shipping Analysis Manager BIMCO, Filipe Gouveia, dikutip dari marinelink.com.

Sepanjang tahun ini, impor batu bara China sebenarnya masih turun 3% yoy.

Namun, tren tersebut berbalik sejak Mei 2026 setelah produksi batu bara domestik melemah akibat kecelakaan tambang di Shanxi pada 28 Mei 2026.

Pasca kecelakaan tersebut, 109 tambang di Shanxi ditutup sementara untuk menjalani inspeksi keselamatan. Meskipun sebagian tambang mulai kembali beroperasi pada Juni, produksinya masih berada di bawah level sebelum insiden.

Baca: Amerika Beri 'Kado' Jelang HUT ke-250, IHSG-Rupiah Bisa Senyum Bareng

 

Di luar China, impor batu bara ke Korea Selatan, Jepang, dan Uni Eropa juga tetap kuat pada Juni, masing-masing naik 25%, 13%, dan 15% yoy, sehingga turut menopang peningkatan pengiriman batu bara global.

Negara-negara tersebut mencari alternatif pasokan energi di tengah ketatnya pasokan gas alam cair (LNG) sejak Maret 2026 akibat gangguan pelayaran di Selat Hormuz.

"Peningkatan volume batu bara berdampak positif terhadap pasar angkutan curah kering (dry bulk), khususnya segmen Panamax, karena batu bara menyumbang sekitar separuh permintaan tonne-mile segmen tersebut pada Juni. Hal ini mendorong kenaikan tarif angkut, tercermin dari indeks Platts KMAX 9 milik S&P Global Energy yang melonjak 73% yoy pada Juni," ujar Gouveia.

Dari sisi eksportir, Indonesia dan Rusia mencatat kenaikan pengiriman terbesar, masing-masing sebesar 12% dan 33% yoy pada Juni.

Baca: Runtuh! Sawit Indonesia Kehilangan Tahta di China

 

Ke depan, prospek pengiriman batu bara dinilai masih beragam. Produksi batu bara China diperkirakan kembali meningkat setelah inspeksi keselamatan selesai, yang berpotensi menekan kebutuhan impor negara tersebut.

Sebaliknya, fenomena El Niño diperkirakan akan mendorong permintaan batu bara di India dan Asia Tenggara.

El Niño biasanya menyebabkan musim hujan (monsoon) yang lebih lemah.

Tahun ini, India bahkan mencatat Juni terkering dalam 12 tahun terakhir, sehingga mengurangi produksi listrik tenaga air dan meningkatkan kebutuhan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.

Menurut Gouveia, kondisi di Selat Hormuz masih menjadi faktor ketidakpastian utama bagi prospek perdagangan batu bara global.

Baca: 250 Tahun Amerika Serikat: Masih Superpower, tapi Tak Sehebat Dulu

 

"Jika Selat Hormuz kembali dibuka secara penuh dan berkelanjutan, permintaan impor batu bara di pasar seperti Korea Selatan, Jepang, dan Uni Eropa bisa melemah karena pasokan LNG kembali normal," katanya.

Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran memang telah meningkatkan jumlah kapal yang kembali melintasi Selat Hormuz.

Namun, tantangan operasional dan keamanan masih membayangi. Selain itu, normalisasi arus pelayaran secara berkelanjutan masih bergantung pada tercapainya perjanjian damai yang bersifat final.

Sementara itu, dalam perkembangan di Juli, harga batu bara domestik di pelabuhan China utara kembali turun karena stok masih melimpah.

Permintaan dari pembangkit listrik dan industri tetap lesu. Pembeli lebih memilih memenuhi kebutuhan dari kontrak jangka panjang dibanding membeli di pasar spot.

Persediaan di pelabuhan tetap tinggi, sehingga pedagang terus menurunkan harga untuk mempercepat penjualan. Di sisi lain, aktivitas perdagangan masih minim karena banyak pembeli memperkirakan harga akan turun lebih lanjut.

Harga batu bara impor juga ikut melemah. Penurunan harga internasional membuat penawaran batu bara impor lebih murah, tetapi belum cukup menarik minat pembeli karena utilitas listrik masih memiliki stok yang besar.

Baca: 10 Mata Uang Terlemah Dunia Semester I-2026, Ada Rupiah-Won!

Musim panas belum mampu mendongkrak permintaan secara signifikan. Meskipun periode puncak konsumsi listrik telah dimulai, cuaca yang relatif lebih sejuk dan curah hujan tinggi di sejumlah wilayah membatasi kenaikan penggunaan listrik untuk pendingin udara. Akibatnya, kebutuhan pembelian batu bara tidak meningkat seperti biasanya.

Prospek pasar masih bearish. Pelaku pasar memperkirakan harga tetap berada di bawah tekanan dalam jangka pendek karena kombinasi pasokan yang melimpah, stok tinggi di pelabuhan dan pembangkit listrik, serta lemahnya permintaan spot.

Dari Eropa dilaporkan, Dewan Uni Eropa (European Council) memberikan persetujuan akhir atas reformasi Dana Riset Batu Bara dan Baja (Research Fund for Coal and Steel/RFCS) dengan memperpanjang program tersebut hingga 2034.

Melalui skema ini, Uni Eropa akan mengalokasikan pendanaan hingga 120 juta euro per tahun, atau sekitar 800 juta euro selama periode program.

Wakil Menteri Riset, Inovasi, dan Kebijakan Digital Siprus, Nicodemos Damianou, mengatakan dukungan tersebut akan difokuskan untuk mempercepat transisi hijau, meningkatkan daya saing, dan mendorong keberlanjutan sektor batu bara dan baja.

Kerangka hukum yang diperbarui terdiri dari dua keputusan Dewan Uni Eropa yang mengatur pengelolaan aset keuangan European Coal and Steel Community (ECSC) serta pedoman pendanaan jangka menengah hingga panjang.

Berdasarkan aturan baru, tingkat pendanaan bersama (co-funding) akan disesuaikan dengan standar program Horizon Europe. Dengan demikian, perusahaan di sektor industri dapat memperoleh pendanaan dari Uni Eropa hingga 70% dari nilai proyek.

Sementara itu, usaha kecil dan menengah (UKM/SMEs), perusahaan rintisan (startup), dan lembaga akademik berhak memperoleh pendanaan hingga 100%.

Selain itu, aturan baru juga menyederhanakan proses pengajuan pendanaan guna mempermudah integrasi dengan program-program riset Uni Eropa lainnya.

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Jumat 3 Juli 2026
• 11 jam lalubisnis.com
thumb
21 Adegan Bongkar Cara Sadis Taufik Hidayat Siksa Yuvita
• 9 jam laluliputan6.com
thumb
RSUD Tobelo Perluas Akses Layanan Jantung Anak, Didukung Alat Echocardiography Bantuan NHM
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
Pertamina Dorong Budaya HSSE sebagai Kunci Keandalan Operasional
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
OCBC Sekuritas Raih Penghargaan The Most Integrated Investment Ecosystem di BIA 2026
• 16 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.