Damaskus: Ledakan menghantam sebuah kafe di Ibu Kota Suriah, Damaskus. Sembilan orang dilaporkan tewas dalam kejadian ini.
Televisi Alikhbariah melaporkan ledakan di dekat Istana Kehakiman Damaskus disebabkan oleh alat peledak yang ditanam di lokasi kejadian
“Setidaknya sembilan orang tewas dan 20 lainnya luka-luka dalam ledakan bom di sebuah kafe di pusat Damaskus pada Kamis 2 Juli 2026,” demikian disampaikan Kementerian Kesehatan Suriah kepada Televisi Alikhbariah, seperti dikutip dari Anadolu, Jumat 3 Juli 2026.
Sebelumnya, Ahmed Bakour, direktur departemen ambulans kementerian, mengatakan kepada televisi bahwa semua korban luka telah dipindahkan ke beberapa rumah sakit di ibu kota Suriah.
Menurut koresponden Alikhbariah, ledakan itu disebabkan oleh alat peledak yang ditanam di dalam kafe di Jalan Al-Nasr, dekat Istana Kehakiman.
Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan tersebut, sementara penyelidikan masih berlangsung.
Dampak ledakan di sebuah kafe di pusat Damaskus terlihat pada hari Kamis - dengan laporan awal dari pihak berwenang menunjukkan lima orang tewas dan 11 luka-luka.
Rekaman menunjukkan bercak darah di tanah, puing-puing berserakan di lokasi kejadian, dan warga serta personel keamanan berkumpul di tempat tersebut.
Kementerian Dalam Negeri Pemerintah Transisi Suriah mengatakan unit-unitnya merespons setelah sebuah alat peledak meledak di dalam sebuah kafe di lingkungan Al-Hijaz di Damaskus. Orang-orang yang terluka menerima pertolongan pertama, sementara pengamanan dikerahkan.
Bakour menambahkan, korban luka dipindahkan ke Rumah Sakit Al-Mujtahid, sementara satu orang luka lainnya dibawa ke Rumah Sakit Bulan Sabit Merah Arab Suriah.
Beberapa pengeboman telah terjadi di Suriah, termasuk di ibu kota Damaskus, dalam beberapa bulan terakhir. Yang terbaru adalah serangan bom mobil pada bulan Mei yang menewaskan satu orang dan melukai 23 lainnya. Pendukung pemerintah transisi menyalahkan pendukung pemerintahan sebelumnya dan beberapa kelompok bersenjata atas kekerasan tersebut.
Pemerintah transisi mengambil alih kekuasaan di Damaskus pada Desember 2024. Ahmad al-Sharaa diangkat sebagai presiden transisi dan berjanji untuk membentuk pemerintahan inklusif.




