Bisnis.com, BANDUNG — Tingkat kesejahteraan dan daya beli petani di Jawa Barat menunjukkan tren positif pada periode Juni 2026.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati menjelaskan, berdasarkan data terbaru, Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Barat tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,57% dibandingkan Mei 2026, merangkak dari angka 118,30 menjadi 118,97.
"Kenaikan NTP ini dipicu oleh laju Indeks Harga yang Diterima Petani (IT) yang lebih tinggi dibandingkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (IB)," ungkapnya, belum lama ini.
Tercatat, indeks hasil produksi pertanian melonjak 0,70%, sementara indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi petani hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 0,14%.
Kenaikan IT gabungan dari lima subsektor pertanian tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi harga sejumlah komoditas unggulan seperti gabah, bawang merah, kol atau kubis, serta wortel.
Secara sektoral, subsektor hortikultura menjadi motor utama pertumbuhan dengan kenaikan IT mencapai 2,23%, diikuti oleh subsektor perikanan sebesar 0,80%, tanaman pangan 0,78%, dan tanaman perkebunan rakyat 0,67%. Sebaliknya, subsektor peternakan justru mengalami kontraksi dengan penurunan IT sebesar 1,95%.
Baca Juga
- Inflasi Jabar Terendah Se-Jawa pada Juni 2026, BI Ungkap Alasannya
- Kejar Target Investasi Rp314 Triliun, Jabar Tawarkan Insentif Fiskal dan Jaminan Pasokan Listrik
Dari sisi pengeluaran, kenaikan IB dipicu oleh meningkatnya harga komoditas konsumsi dan biaya produksi. Bawang merah, bensin, jengkol, dan bawang putih menjadi penyumbang utama kenaikan indeks konsumsi rumah tangga di perdesaan yang mengalami inflasi 0,15%.
Selain itu, Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) juga naik 0,15%, didorong oleh kenaikan harga bahan bakar, pupuk urea, bibit bawang daun, serta pakan ikan atau pelet.
Sejalan dengan kenaikan NTP, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Jawa Barat pada Juni 2026 turut terdongkrak sebesar 0,55%. Indikator ini mencerminkan kemampuan daya tukar hasil pertanian terhadap biaya produksi yang dikeluarkan oleh para petani di 18 kabupaten di Jawa Barat.
Secara sektoral, subsektor hortikultura memimpin kenaikan NTP dengan lonjakan 1,99% menjadi 135,91. Subsektor tanaman pangan naik 0,61% menjadi 118,62, disusul subsektor perikanan yang meningkat 0,56% menjadi 111,90, dan subsektor tanaman perkebunan rakyat naik 0,46% menjadi 120,15. Namun, subsektor peternakan terkoreksi 1,77% menjadi 102,95.
Jika dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Jawa, Jawa Barat berada dalam tren penguatan bersama Jawa Tengah (naik 0,75%) dan Banten (naik 0,02%). Sebaliknya, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur mencatatkan penurunan NTP pada periode yang sama.
Secara nasional, NTP pada Juni 2026 mengalami penurunan tipis sebesar 0,06%, dari 127,73 pada Mei 2026 menjadi 127,65 pada Juni 2026.
"Meskipun demikian, capaian Jawa Barat yang tetap berada di atas ambang batas 100 menunjukkan bahwa daya beli petani di wilayah ini masih berada pada level yang kuat dan kompetitif," tandasnya.





