Merek Mobil Cina Banjiri RI, Komitmen Produksi Lokal Dinanti

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar otomotif Indonesia diramaikan oleh sejumlah merek baru, terutama asal Cina, seperti Leapmotor, Changan, iCAR, Lepas, hingga BAW. Sederet jenama otomotif tersebut pun didorong untuk melokalisasi kendaraannya agar berdampak pada kelangsungan industri dalam negeri.

CEO PT Indomobil National Distributor Tan Kim Piauw mengatakan, perseroan berkomitmen untuk memproduksi lokal sejumlah merek Cina yang diboyong ke Indonesia, salah satunya yakni Leapmotor, yang dijadwalkan meluncur perdana di Indonesia pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026.

Produk pertama yang diperkenalkan adalah SUV listrik Leapmotor B10. Model ini akan dirakit secara lokal melalui skema completely knocked down (CKD) di fasilitas National Assemblers (NA) Purwakarta, Jawa Barat.

"Untuk Leapmotor B10 kami sudah produksi lokal di pabrik kami. Jadi ketika GIIAS, kami sudah bisa produksi dan salurkan ke konsumen. Langsung CKD di Purwakarta," ujar Tan di Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Lebih lanjut, dia mengatakan, pabrik National Assembler mampu memproduksi sekitar 40 unit Leapmotor per hari, dengan asumsi 8 jam kerja. Perusahaan juga mengejar target tingkat komponen dalam negeri (TKDN) 40% sesuai arahan pemerintah.

“Untuk TKDN kami mengejar minimal sesuai persyaratan pemerintah itu 40% dan kami pasti memenuhi itu,” jelasnya.

Baca Juga

  • Dealer Mobil Jepang Mulai Goyah kala Merek China Kian Ekspansif
  • Ford Mulai Produksi Baterai Kendaraan Listrik Pakai Lisensi Raksasa China CATL
  • Pabrikan China Ramai-ramai Genjot Mobil Listrik Rp200 Jutaan

Pabrikan asal Cina lainnya, BYD tengah memfinalisasi pabrik di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas produksi mencapai 150.000 unit per tahun. Proyek tersebut menelan investasi sekitar Rp11,2 triliun dan menjadi bagian dari strategi perusahaan memperkuat ekspansi di Indonesia.

Selain BYD, Wuling juga telah memiliki fasilitas manufaktur sendiri di Cikarang, Jawa Barat. Kendati demikian, sejumlah merek Cina lainnya seperti Chery, Geely, Lepas, hingga Jetour masih memanfaatkan fasilitas perakitan milik PT Handal Indonesia Motor (HIM) untuk merakit kendaraan yang dipasarkan di Indonesia.

Kehadiran berbagai merek baru di pasar Tanah Air menjadi tantangan tersendiri, terutama saat industri otomotif masih dibayangi sejumlah tekanan seperti pelemahan daya beli, tingginya suku bunga, hingga kondisi geopolitik yang belum sepenuhnya stabil.

Di tengah berbagai tantangan pasar, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) tetap mempertahankan proyeksi penjualan kendaraan nasional tahun ini sebesar 850.000 unit dengan harapan kondisi pasar membaik pada paruh kedua.

Pekerja menyelesaikan perakitan mobil XPENG X9 di Purwakarta, Jawa Barat, Selasa (1/7/2025)./Bisnis-Fanny Kusumawardhani

Merek Baru Harus Bawa Nilai Tambah

Masuknya berbagai merek otomotif baru ke Indonesia dinilai mencerminkan besarnya daya tarik pasar nasional di kawasan Asean. Namun, fenomena tersebut belum bisa dijadikan indikator bahwa industri otomotif domestik telah sepenuhnya pulih dari tekanan dalam beberapa tahun terakhir.

Pengamat Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, derasnya ekspansi merek baru lebih didorong oleh prospek jangka panjang pasar Indonesia serta kondisi industri global, khususnya produsen asal Cina yang tengah mencari pasar ekspor baru akibat kelebihan kapasitas produksi.

Menurut Yannes, kondisi tersebut terlihat dari masih beragamnya indikator ekonomi. Di satu sisi, penjualan wholesales kendaraan sepanjang Januari-Mei 2026 tumbuh sekitar 12,5%. Namun, di sisi lain, Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur masih berada di zona kontraksi di level 46,9

"Masuknya merek-merek baru lebih banyak didorong oleh besarnya potensi pasar Indonesia serta kelebihan kapasitas industri di Cina yang sedang mencari basis ekspor baru, bukan semata karena permintaan domestik sedang sangat kuat," kata Yannes kepada Bisnis, Kamis (2/7/2026).

Dia mengingatkan bahwa masuknya banyak pemain baru juga menjadi ujian bagi arah kebijakan industri nasional. Menurutnya, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar apabila sebagian besar merek hanya berfokus menjual kendaraan utuh (completely built up/CBU) tanpa membangun rantai pasok dan basis produksi di dalam negeri.

"Yang jadi tantangan sesungguhnya adalah jika mayoritas merek hanya berorientasi menjual CBU tanpa membangun rantai pasok lokal, Indonesia berisiko hanya menikmati pertumbuhan penjualan tanpa pendalaman industri, transfer teknologi, maupun penciptaan nilai tambah yang berkelanjutan," ujarnya.

Lebih lanjut, Yannes menilai pemerintah bersama Gaikindo perlu mengarahkan kebijakan agar setiap investasi baru memberikan dampak yang lebih luas terhadap penguatan industri nasional. 

Menurutnya, persoalan utama bukan sekadar banyaknya merek yang masuk, melainkan sejauh mana investasi tersebut mampu mendorong manufaktur, alih teknologi, dan pengembangan pemasok lokal. 

Dia menambahkan, skema CKD dan pemenuhan TKDN memang penting, tetapi pendalaman industri komponen tier-2 dan tier-3 harus menjadi prioritas agar nilai tambah yang tercipta semakin besar.

Karena itu, Yannes berpandangan insentif fiskal sebaiknya diberikan berdasarkan realisasi investasi, peningkatan TKDN secara bertahap, pengembangan pemasok lokal, kegiatan riset, hingga kontribusi terhadap ekspor, bukan hanya berpatokan pada volume penjualan.

Pada saat yang sama, pemerintah juga perlu menjaga keseimbangan kebijakan agar persyaratan lokalisasi cukup kuat untuk menarik investasi, tetapi tetap kompetitif dibandingkan negara lain seperti Thailand dan Vietnam. 

"Jika momentum ini dikelola dengan tepat, gelombang merek baru justru dapat menjadi katalis transformasi Indonesia dari pasar otomotif terbesar di Asean menjadi pusat manufaktur, inovasi, dan ekspor yang memiliki daya saing global," pungkasnya.

Butuh Investasi Besar

Di lain sisi, Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengatakan, bagi sebuah merek otomotif baru, untuk membuat pabrik membutuhkan investasi yang sangat besar.

Menurutnya, industri otomotif selalu sangat sensitif terhadap kebutuhan modal dan investasi. Terlebih, saat ini ada banyak cara agar tetap dapat meluncurkan produk dan merakitnya di Indonesia, salah satunya menggunakan fasilitas perakitan milik pihak ketiga.

“Kalau nanti volumenya sudah besar dan skala ekonominya sudah tercapai, pasti mereka akan mempertimbangkan membangun fasilitas di sini. Karena kemampuan industri komponen Indonesia sebenarnya sudah sangat baik. Tinggal nanti ada atau tidak pesanannya,” ujar Kukuh.

Lebih lanjut Kukuh mengatakan, kapasitas produksi nasional saat ini sekitar 2,5 juta unit. Namun, kapasitas tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, sebab saat ini baru terpakai sekitar 1 juta unit.

Saat penjualan domestik tertekan pada 2025, pelaku industri otomotif masih terbantu oleh kinerja ekspor yang mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) sekitar 518.00 unit.

“Kalau membangun pabrik baru, investasinya besar. Harus diperhitungkan apakah nantinya menguntungkan atau tidak. Padahal, sekarang ada fasilitas yang memungkinkan mereka membangun kendaraan di Indonesia. Jadi kenapa tidak?” pungkasnya.

10 Merek Mobil Cina Terlaris Januari-Mei 2026 (wholesales):

1. BYD: 17.993 unit

2. Jaecoo: 14.284 unit

3. Wuling: 6.534 unit

4. Geely: 6.413 unit

5. Chery: 5.302 unit

6. Aion: 3.399 unit

7. Denza: 2.359 unit

8. Morris Garage: 1.456 unit

9. GWM: 1.328 unit

10. Jetour: 1.233 unit


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polri Dukung Kejaksaan Tetapkan Brigjen LMI Tersangka: Tidak Ada Impunitas untuk Tindak Pidana
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Taufik Hidayat Sempat Datangi Rumah Dinas Dedi Mulyadi Sebelum Ditangkap Polda Jawa Barat | IU
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Kejati Jatim Periksa Kajari-Kasi Pidum Tuban: Diduga Indisipliner
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Erick Thohir: Olahraga Harus Dilihat sebagai Potensi Pendapatan Negara
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Rekrutmen Calon Dosen Tetap Universitas Airlangga 2026 Dibuka, Simak Syarat dan Cara Daftarnya
• 21 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.