Mata uang Garuda naik 0,28 persen ke level Rp17.945 per USD jika dibandingkan dengan posisi penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp17.995 per USD.
IDXChannel – Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat pada Jumat (3/7/2026). Mata uang Garuda naik 0,28 persen ke level Rp17.945 per USD jika dibandingkan dengan posisi penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp17.995 per USD.
Adapun pada saat yang sama indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah tipis 0,02 persen ke posisi 100,83.
Meski demikian, Analis Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksi laju nilai tukar rupiah sepanjang hari ini ditutup melemah. Fluktuasi kurs diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.990 hingga Rp18.050 per USD.
Dari lanskap global, Ibrahim memaparkan bahwa pelaku pasar saat ini tengah mengalkulasi potensi pengetatan moneter oleh bank sentral AS. Pasar bertaruh adanya probabilitas sebesar 67 persen bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan bulan September mendatang.
Selain faktor moneter, fokus perhatian investor dunia juga tertuju pada dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Laporan terbaru dari Qatar mengindikasikan bahwa pihak Iran dan AS telah mencatatkan progres positif dalam dialog tidak langsung yang berakhir pada Rabu lalu terkait upaya pembukaan blokade di Selat Hormuz.
"Meskipun lalu lintas telah sebagian pulih, kedua negara saling menyerang akhir pekan lalu setelah serangan Iran terhadap kapal kargo," kata Ibrahim dalam keterangannya, dikutip Jumat (3/7/2026).
Beralih ke faktor dalam negeri, ketahanan ekonomi Indonesia dinilai tengah menghadapi ujian berat menyusul rentetan sentimen negatif yang beruntun sepanjang kuartal kedua tahun ini.
Berbagai variabel makro seperti mencuatnya kasus korupsi kakap, kecemasan pelaku pasar terhadap postur ketahanan fiskal pemerintah pasca-defisitnya neraca perdagangan periode Mei, lonjakan laju inflasi, hingga efek rebalancing indeks MSCI menjadi pemicu utama larinya modal keluar.
Tekanan di sektor riil semakin diperparah oleh rilis data performa industri manufaktur nasional yang menunjukkan sinyal kontraksi cukup dalam.
"Selain itu, data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026. Ini adalah tingkat penurunan yang paling kuat dalam setahun," kata Ibrahim.
(NIA DEVIYANA)





