Harga Aluminium Menguat saat Harapan Kenaikan Suku Bunga Mereda

idxchannel.com
2 jam lalu
Cover Berita

Harga aluminium menguat pada perdagangan Jumat (3/7/2026), ditopang pelemahan dolar serta meredanya kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed.

Harga Aluminium Menguat saat Harapan Kenaikan Suku Bunga Mereda. (Foto: iStock)

IDXChannel - Harga aluminium menguat pada perdagangan Jumat (3/7/2026), ditopang pelemahan dolar serta meredanya kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat.

Harga aluminium tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,53 persen menjadi USD3.108 per ton hingga pukul 10.00 WIB.

Baca Juga:
IHSG Bertahan di Zona Hijau, Sesi I Menguat 2,46 Persen ke 5.886

Sementara itu, kontrak aluminium yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) menguat 1,18 persen menjadi 22.755 yuan atau sekitar USD3.355,60 per ton.

Pelaku pasar mencermati perkembangan kondisi makroekonomi yang mampu mengimbangi tekanan dari sejumlah kabar pada pekan ini mengenai prospek pasokan aluminium yang membaik.

Baca Juga:
TikTok Buka Suara Soal Kabar PHK Massal di Tokopedia

Dalam riset yang diterbitkan pada Kamis (2/7), Citi menyebut kekhawatiran terhadap kembalinya pasokan aluminium dari Timur Tengah secara cepat dinilai berlebihan.

Menurut Citi, tambahan pasokan tersebut diperkirakan tidak datang cukup cepat untuk mengimbangi pertumbuhan permintaan.

Baca Juga:
MSIN Raih Penghargaan di BIA 2026, Angela: Motivasi untuk Terus Berkembang dan Berinovasi

Data terbaru yang menunjukkan pasar tenaga kerja AS mulai mendingin juga meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Kondisi ini memberikan sentimen positif bagi logam industri, mengingat suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menekan aktivitas ekonomi dan permintaan logam.

Peluang kenaikan suku bunga pada Juli kini turun menjadi sekitar sepertiga, meski pasar masih memperkirakan Federal Reserve tetap menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini.

"Pelemahan dolar AS dan meredanya kekhawatiran terhadap pengetatan kebijakan moneter meningkatkan selera risiko investor dan mendorong harga logam lebih tinggi," kata Analis Strategi Komoditas Senior ANZ, Daniel Hynes, dikutip Reuters.

Dolar AS yang lebih lemah membuat komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Harga tembaga juga menguat meskipun saham-saham sektor semikonduktor belakangan melemah.

Dalam beberapa tahun terakhir, logam merah tersebut mendapat dukungan dari prospek peningkatan permintaan seiring pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), modernisasi jaringan listrik, dan pertumbuhan kendaraan listrik.

Data indeks manajer pembelian (PMI) yang dirilis pekan ini menunjukkan aktivitas manufaktur di China, konsumen tembaga terbesar dunia, tumbuh selama tujuh bulan berturut-turut hingga Juni.

Di sisi lain, premi tembaga Yangshan yang menjadi indikator minat beli di China bertahan di level tertinggi sejak 2025.

Di LME, harga tembaga naik 0,72 persen, sedangkan di SHFE menguat 0,8 persen.

Logam dasar lainnya di LME juga bergerak positif. Harga seng naik 0,33 persen, timbal menguat 0,32 persen, nikel melonjak 1,26 persen, dan timah bertambah 1,84 persen.

Sementara itu di SHFE, harga seng turun tipis 0,1 persen. Kemudian, timbal naik 0,35 persen, nikel menguat 0,51 persen, dan timah bertambah 0,78 persen. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
2 Demokrasi, 1 Ruang Digital: Apa Arti Kunjungan Narendra Modi bagi UMKM Indonesia?
• 2 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Bima Arya Sebut Karnaval Budaya Nusantara Cerminkan Semangat Kolaborasi
• 7 menit laludetik.com
thumb
Balap Liar hingga Tutup Jalan di Bogor, Pelaku Kocar-kacir Dikejar Polisi
• 47 menit laludetik.com
thumb
KPK Dalami Peran Petinggi Telkomsel di Kasus Korupsi BRI
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
Usulan Jatah 20 Persen PAD untuk Kepala Daerah Dinilai Keliru, Berpotensi Disalahgunakan
• 5 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.