JAKARTA, KOMPAS — Gelombang pemutusan hubungan kerja di Tokopedia bisa menjadi sinyal perubahan strategi yang lebih besar dari sekadar langkah efisiensi perusahaan. Di bawah kendali ByteDance, induk Tiktok, peran Tokopedia diperkirakan bergeser dari lokapasar yang mandiri, menjadi bagian dari ekosistem digital Tiktok yang lebih luas.
Insight Lead di Momentum Works, Weihan Chen, berpendapat, gelombang PHK di Tokopedia bukan sekadar upaya rebranding Tokopedia, melainkan lebih sebagai tahap selanjutnya yang wajar dari integrasi pasca-akuisisi.
Tiktok Shop dan Tokopedia telah beroperasi bersama selama lebih dari setahun. Wajar jika fungsi-fungsi yang tumpang tindih dalam operasional, logistik, pemasaran, dan tim dukungan digabungkan.
“Kisah yang lebih besar bukanlah tentang PHK (karyawan Tokopedia) sendiri, melainkan ByteDance selaku induk Tiktok tampaknya beralih dari strategi mengintegrasikan bisnis ke mengoptimalkannya. Pusat gravitasi organisasi secara bertahap bergeser menuju model operasional terpadu daripada mempertahankan dua organisasi paralel,” ujar Chen saat dihubungi Jumat (3/7/2026) dari Jakarta.
Gelombang PHK karyawan Tokopedia, menurut dia, juga bukanlah sinyal yang menunjukkan pasar e-dagang Indonesia menjadi kurang penting. Sebaliknya, Indonesia tetap menjadi pasar e-dagang terbesar Tiktok di Asia Tenggara.
Chen memperkirakan, strategi Tiktok di Asia Tenggara adalah membangun ekosistem perdagangan terkemuka di kawasan ini, bukan sekadar membangun aplikasi super, mengikuti jejak perusahaan teknologi lain yang lebih dulu mengembangkan aplikasi super.
Keunggulan terbesar Tiktok ada pada konten, pencarian, dan transaksi sudah terjadi dalam perjalanan pengguna. Prioritas perusahaan kemungkinan besar adalah memperdalam integrasi tersebut dan meningkatkan monetisasi, daripada berekspansi ke setiap layanan konsumen.
Secara lebih luas, Chen mengamati, bisnis e-dagang Tiktok di Asia Tenggara memasuki fase baru. Fokusnya bergeser dari ekspansi cepat menuju efisiensi operasional, integrasi yang lebih kuat, dan keberlanjutan jangka panjang. Perubahan organisasi dia lihat konsisten dengan transisi tersebut.
“Saya rasa PHK itu sendiri bukanlah berita terbesar. PHK setelah akuisisi, hampir sudah diperkirakan. Pertanyaan yang lebih menarik adalah seperti apa organisasi baru itu setelah integrasi selesai,” ucap Chen.
Pandangan senada disampaikan oleh Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda. Dalam setiap akuisisi, selalu akan ada unit kerja yang serupa dan ada biaya yang harusnya diefisiensikan. Maka, PHK karyawan menjadi opsi yang paling mudah diambil oleh perusahaan yang mengakuisisi.
Kemudian, kondisi keuangan perusahaan juga menjadi salah satu pendorong adanya PHK. Apalagi perusahaan global dengan beban biaya yang tinggi. Ketika ada kondisi harus untung, maka yang dilakukan adalah pengurangan beban.
Mereka juga perlu perbaikan neraca perusahaan untuk terlihat bagus di mata investor. Investor saat ini bukan hanya melihat valuasi tapi juga rekam jejak keuntungan ataupun potensi keuntungan di masa depan. Apalagi, ada kabar ByteDance mau melantai di bursa saham.
“Siapa yang mengakuisisi akan menentukan strategi operasional dari perusahaan yang diakuisisi. Sejak awal, saya menduga Tiktok perlu lisensi Tokopedia untuk operasional Tiktok Shop-nya. Di sisi lain, kalau melihat perkembangan Tiktok di luar negeri, ada kemungkinan Tiktok juga ingin menjadi aplikasi super,” ucap dia.
Tiktok, pada Kamis (2/7/2026), telah mengkonfirmasi bahwa mereka telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan Tokopedia Indonesia sebagai bagian dari restrukturisasi organisasi. Meski demikian, perusahaan belum mengungkapkan jumlah karyawan yang terkena dampak atau unit bisnis yang terlibat.
Konfirmasi ini muncul setelah platform komunitas teknologi Indonesia, Ecommurz, menyebarkan rumor bahwa ByteDance, perusahaan induk Tiktok, dilaporkan telah memangkas sekitar 90 persen karyawan Tokopedia.
“Kami tengah menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan pada ranah yang dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan bagi bisnis kami, komunitas kreator, dan penjual di platform kami,” kata Tiktok dalam keterangan resmi yang disebar ke berbagai media.
Menurut Tiktok, PHK karyawan Tokopedia bukan keputusan yang mudah. Tiktok sekarang fokus untuk memberikan dukungan kepada karyawan yang terdampak selama masa transisi ini.
Tiktok juga mengklaim terus berinvestasi untuk menjadikan Tokopedia sebagai platform yang lebih baik bagi pengguna dan penjual, serta terus memberdayakan pelaku usaha lokal dalam membangun ekosistem perdagangan secara elektronik atau e-dagang yang berkelanjutan di Indonesia.
Tiktok yang dimiliki oleh perusahaan raksasa teknologi asal China yaitu ByteDance mengakuisisi 75 persen saham Tokopedia dari GoTo Grup pada Desember 2024. GoTo Grup tetap menggenggam 24,99 persen saham Tokopedia dan bersifat non-dilutif.
Akuisisi Tokopedia oleh Tiktok terjadi setelah pemerintah Indonesia melarang Tiktok, sebagai perusahaan media sosial, mengoperasikan layanan e-dagang atau social commerce yang bernama Tiktok Shop. Pemerintah Indonesia beralasan ada potensi monopoli. Tiktok Shop bahkan sempat dihentikan layanannya oleh Tiktok.
PHK yang terjadi di Tokopedia kali ini bukan yang pertama kali. Pada 2025, usai akuisisi sah, Tiktok memangkas staf di seluruh tim e-dagang, termasuk logistik, operasi, pemasaran, dan pergudangan di Indonesia.
Mengutip pemberitaan Bloomberg, Jumat (30/5/2025), PHK lebih lanjut akan dilakukan pada Juli 2025. PHK tersebut bakal membuat Tokopedia dan Tiktok Shop di Indonesia hanya memiliki total karyawan 2.500 orang.
Sebelumnya, setelah penggabungan Tiktok Shop dan Tokopedia selesai awal 2024, bisnis e-dagang ByteDance di Indonesia memiliki sekitar 5.000 karyawan.
Tahun 2025, Tech in Asia dan sejumlah media nasional melaporkan meningkatnya ketidakpuasan di kalangan penjual di Tokopedia setelah adanya kebijakan integrasi seller center dengan Tiktok Shop. Banyak juga penjual yang berpendapat Tokopedia telah kehilangan identitasnya sebagai pemain e-dagang lokal setelah diakuisisi Tiktok.
Kemudian, pada awal 2026, beredar rumor di media sosial mengenai aplikasi Tokopedia yang bakal diganti oleh aplikasi khusus e-dagang untuk TikTok Shop yang terpisah dari aplikasi Tiktok. Pada saat itu, pihak Tiktok hanya mengonfirmasi dengan menjelaskan Tiktok bakal terus berinvestasi di Tokopedia dan Indonesia. Hal ini menjadi bagian dari strategi untuk mendorong pertumbuhan dan inovasi berkelanjutan.
Pada Rabu (1/7/2026), berbagai media internasional menuliskan kalau Tiktok juga melakukan pemangkasan karyawan di negara lain, seperti Irlandia, Singapura, dan Malaysia. Bedanya, di tiga negara ini, PHK dikabarkan menyasar ke bagian moderasi konten.
TechCrunch dalam artikel pada Minggu (26/6/2026) menyebutkan, Tiktok ingin tidak lagi sekadar platform media sosial yang menonjolkan video pendek. Tiktok sekarang tengah berevolusi menjadi aplikasi super, yakni aplikasi serba ada yang memungkinkan pengguna melakukan berbagai aktivitas digital dalam satu ekosistem.
Untuk mewujudkan ambisi menjadi aplikasi super, Tiktok memperluas bisnisnya jauh melampaui konten hiburan, mulai dari e-dagang melalui TikTok Shop, layanan pencarian dan peta yang menyaingi mesin pencari, hingga pemesanan hotel dan atraksi wisata melalui fitur Tiktok Go.
Perusahaan juga merambah layanan pembayaran dan teknologi finansial untuk membangun ekosistem transaksi yang lebih tertutup dan efisien.
Pada saat yang sama, Tiktok memperkuat fitur hiburan seperti live streaming, drama mikro, dan gim kasual agar pengguna menghabiskan lebih banyak waktu di dalam aplikasinya.
Strategi ini menunjukkan bahwa bagi ByteDance, induk TikTok, e-dagang kelak bukan semata bisnis utama, melainkan salah satu instrumen untuk memperkuat monetisasi, mengumpulkan data perilaku pengguna, dan meningkatkan retensi dalam ekosistem digital yang semakin terintegrasi.
Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Budi Primawan, saat dihubungi Jumat, berpendapat, jika melihat tren industri secara umum, perkembangan ini lebih mencerminkan bahwa industri e-dagang memasuki fase yang semakin matang.
Setelah bertahun-tahun berfokus pada pertumbuhan yang agresif, kini platform mulai lebih menekankan efisiensi, profitabilitas, dan keberlanjutan bisnis. Di banyak negara, fase seperti ini memang biasanya diikuti dengan konsolidasi maupun penyesuaian organisasi.
“Namun, untuk kasus Tokopedia secara spesifik, sebaiknya penjelasan disampaikan langsung oleh Tiktok/Tokopedia karena itu merupakan keputusan dan strategi bisnis internal perusahaan. Soal isu perubahan nama aplikasi Tokopedia juga kami belum menerima pemberitahuan resmi dari perusahaan. Jadi, sebaiknya kita tunggu informasi resmi dari TikTok/Tokopedia ya,” ujar Budi.
Lebih jauh, Budi menyampaikan, idEA melihat pemerintah Indonesia semakin aktif menyusun berbagai regulasi untuk memperkuat tata kelola ekosistem digital. Pada prinsipnya, idEA mendukung tujuan tersebut. Namun, setiap kebijakan juga perlu mempertimbangkan kesiapan implementasi, memberikan kepastian usaha, dan tetap menjaga ruang bagi inovasi agar industri dapat terus berkembang.





