JAKARTA, KOMPAS.com - Pengungsi asal Somalia, Sudan, dan Afghanistan kembali menempati trotoar di belakang kantor United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) di Jalan Setiabudi Selatan, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (3/7/2026).
Padahal, sehari sebelumnya, Kamis (2/7/2026), mereka telah mengikuti mediasi bersama Direktorat Jenderal Imigrasi, UNHCR, dan Pemerintah Kota Jakarta Selatan.
Dalam pertemuan itu, para pengungsi diberi pemahaman bahwa mereka tidak diperbolehkan mengokupasi trotoar karena dinilai mengganggu ketertiban umum.
Baca juga: Sempat Ditertibkan, Pengungsi Somalia Balik Lagi ke Trotoar Setiabudi Jaksel
Mereka juga diminta meninggalkan lokasi yang telah ditempati selama beberapa bulan terakhir.
Namun, bagi Wiyam, pengungsi asal Sudan yang tiba di Indonesia sekitar satu tahun lalu, permintaan tersebut sulit dipenuhi karena ia mengaku tidak memiliki tempat tinggal lain.
"Saya dibilang harus pulang ke rumah. Tapi rumah di mana? Saya enggak punya rumah," ungkap Wiyam saat ditemui di lokasi, Jumat.
Wiyam mengatakan, para pengungsi tidak dapat bekerja maupun mengenyam pendidikan formal selama berada di Indonesia.
Kondisi itu membuat mereka tidak memiliki penghasilan untuk menyewa tempat tinggal.
Baca juga: Nasib Pengungsi Somalia di Jaksel: Diminta Tinggalkan Trotoar, tapi Tak Ada Tempat Relokasi
"Kalau saya punya uang saya pergi. Ngapain diam di sini panas-panasan? Bayi saya nangis terus kepanasan begini," ujar Wiyam.
Ia kemudian menunjukkan anak perempuannya yang baru berusia satu tahun.
Menurut Wiyam, sang anak mengalami alergi dan diare, yang kondisinya diperparah karena harus bertahan di bawah terik matahari.
Awalnya, kata Wiyam, ia dan keluarganya masih merasa aman tinggal di Indonesia karena memperoleh uang saku.