Oleh: Ronald Rulindo, PhD (Wakil Ketua LP UMKM Muhammadiyah dan Dosen Program Studi Bisnis Islam Universitas Indonesia)
REPUBLIKA.CO.ID, Tekanan ekonomi global kembali menguji ketahanan perekonomian Indonesia. Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat lebih dari Rp18.000 per dolar, kenaikan harga energi dunia, hingga tingginya ketidakpastian geopolitik mendorong biaya produksi dan distribusi terus meningkat. Di sisi lain, untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, suku bunga tetap berada pada level yang relatif tinggi.
Bagi perusahaan besar, tekanan tersebut masih dapat diantisipasi melalui efisiensi, diversifikasi pasar, maupun akses pembiayaan yang lebih luas. Namun, kondisi berbeda dialami jutaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). UMKM menghadapi kenaikan harga bahan baku, biaya logistik, dan biaya operasional, sementara daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. Akibatnya, UMKM terjebak dalam cost-price squeeze: biaya produksi meningkat lebih cepat daripada kemampuan pasar menyerap kenaikan harga.
Baca Juga
Ronaldo: Kemenangan Portugal untuk Mendiang Diogo Jota
Mentan Percepat Pompanisasi Antisipasi El Nino 2026
DPRD Jabar Dorong Solusi Seimbang untuk Husein Sastranegara dan Kertajati
Persoalan ini sangat serius. UMKM menyumbang lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja, serta berjumlah lebih dari 65 juta unit usaha. Ketika UMKM melemah, sesungguhnya yang sedang melemah adalah fondasi perekonomian Indonesia.
Selama ini, solusi yang paling sering ditawarkan adalah memperbesar akses pembiayaan, baik melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun berbagai skema subsidi bunga. Bahkan pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pernah memperkuat likuiditas perbankan melalui penempatan dana sekitar Rp200 triliun di bank-bank Himbara dengan harapan penyaluran kredit meningkat. .rec-desc {padding: 7px !important;}
Sayangnya, persoalannya bukan semata-mata kekurangan modal. Likuiditas perbankan saat ini justru relatif memadai. Hambatan terbesar adalah menurunnya permintaan pasar. Ketika penjualan melemah, keuntungan UMKM ikut tertekan sehingga bank menjadi lebih berhati-hati menyalurkan pembiayaan. Menambah kredit kepada pelaku usaha yang kesulitan memperoleh pasar bukanlah solusi yang menyelesaikan akar persoalan.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.