jpnn.com, JAKARTA - Mariatul Qiptiyah alias Kiki Jupe, guru honorer bergaji ratusan ribu yang sukses berbisnis kuliner dan memimpin ratusan karyawan
Perempuan kelahiran Pasuruan, 13 November 1993, bercerita sebelum terjun ke dunia usaha, ia pernah bekerja sebagai guru honorer dengan penghasilan ratusan ribu rupiah setiap bulan
BACA JUGA: Soal Nasib Guru Honorer di 2027, Mendikdasmen Bilang Begini
Kini, Mariatul mengelola usaha di sektor makanan dan minuman atau F&B yang menawarkan berbagai jajanan kekinian bagi kalangan anak muda.
"Usaha saya telah berkembang dan mempekerjakan sekitar 100 karyawan," kata Mariatul dalam keterangannya, Jumat (3/7).
BACA JUGA: Kisah Guru Honorer Puluhan Tahun Bergaji Rp200 Ribu, jadi PPPK Paruh Waktu
Perubahan karier dari guru honorer menjadi pengusaha tidak berlangsung secara instan. Mariatul membangun usahanya secara bertahap dengan mempelajari kebutuhan pasar, menjaga kualitas produk, memperkuat pelayanan, serta membangun hubungan dengan pelanggan.
Sebelum menjalankan bisnis kuliner, Mariatul bekerja sebagai guru honorer. Pada masa tersebut, ia menerima penghasilan yang relatif terbatas sehingga harus mengatur keuangan secara hati-hati untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
BACA JUGA: Kisah Guru Honorer di Pekanbaru Menyambi Berjualan Es, Brimob Bergerak
“Saya pernah menjadi guru honorer dengan gaji ratusan ribu rupiah setiap bulan. Saat itu, saya harus mengatur penghasilan dengan sangat hati-hati agar kebutuhan sehari-hari tetap dapat terpenuhi," ucapnya.
Walaupun penghasilannya terbatas, pengalaman menjadi guru memberikan banyak pembelajaran bagi Mariatul. Profesi tersebut membentuk kedisiplinan, kesabaran, kemampuan berkomunikasi, dan rasa tanggung jawab dalam menjalankan pekerjaan.
Pengalaman menghadapi berbagai karakter murid juga membantunya memahami cara berkomunikasi dengan orang lain. Kemampuan tersebut kemudian diterapkannya ketika melayani pelanggan, mengelola karyawan, dan membangun hubungan kerja dalam bisnis.
Keterbatasan penghasilan sebagai guru honorer mendorong Mariatul mencari sumber pendapatan lain. Ia ingin meningkatkan kondisi ekonomi keluarga sekaligus membangun usaha yang mampu memberikan manfaat lebih luas.
Keputusan memasuki dunia usaha diambil setelah ia melihat adanya peluang di sektor F&B, terutama pada produk jajanan kekinian yang diminati kalangan anak muda.
“Saya memutuskan mencoba dunia usaha karena ingin meningkatkan kehidupan keluarga. Saya juga ingin usaha yang saya bangun dapat membuka peluang kerja dan memberikan penghasilan kepada orang lain," ungkapnya
Pada tahap awal, Mariatul menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan modal, ketidakpastian pasar, persaingan usaha, pengelolaan bahan baku, serta kebutuhan untuk mempertahankan kualitas produk.
Menurut Mariatul, keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh keberanian memulai. Seorang pelaku usaha juga harus mampu mengevaluasi kegagalan, memperbaiki sistem kerja, mendengarkan masukan pelanggan, dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar.
“Saya membangun bisnis ini secara bertahap. Saya mempelajari kebutuhan pasar, memperbaiki kualitas produk, menjaga pelayanan, dan menjadikan setiap kesalahan sebagai bahan evaluasi,” katanya.
Mariatul berupaya menjaga kepercayaan pelanggan melalui kualitas makanan, konsistensi rasa, pelayanan, dan komunikasi yang baik. Baginya, kepercayaan pelanggan merupakan salah satu fondasi penting dalam mempertahankan dan mengembangkan bisnis.
Ia juga mulai membangun pembagian kerja yang lebih terstruktur seiring meningkatnya jumlah pesanan dan kebutuhan operasional. Pengelolaan usaha tidak lagi hanya berfokus pada penjualan, tetapi juga mencakup pengawasan kualitas, pengelolaan tenaga kerja, dan keberlanjutan bisnis.
Seiring berkembangnya usaha, jumlah tenaga kerja yang terlibat juga terus bertambah. Berdasarkan keterangannya, bisnis kuliner yang dikelola Mariatul kini memiliki sekitar 100 karyawan.
Jumlah tersebut menjadi pencapaian sekaligus tanggung jawab besar. Mariatul menyadari bahwa keberlangsungan usaha berkaitan langsung dengan pendapatan para pekerja dan keluarga mereka.
Mariatul menilai keberhasilan bisnis tidak cukup diukur dari omzet, popularitas, atau pertumbuhan penjualan. Kemampuan sebuah usaha dalam menciptakan pekerjaan dan memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat juga menjadi ukuran penting.
Di tengah kesibukannya mengelola usaha, Mariatul menggunakan TikTok sebagai sarana berkomunikasi dengan masyarakat.
Melalui nama Kiki Jupe, ia membagikan aktivitas, pengalaman hidup, dan proses yang dijalaninya dalam membangun usaha.
Media sosial juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan identitas publik serta membangun hubungan yang lebih dekat dengan audiens.
Namun, Mariatul menyadari bahwa keterbukaan, konsistensi informasi, dan tanggung jawab dalam menyampaikan konten harus tetap dijaga.
Penyebutan nama asli dan nama publik secara konsisten menjadi bagian dari upayanya memperjelas identitas. Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui bahwa akun Kiki Jupe benar-benar merepresentasikan Mariatul Qiptiyah. (esy/jpnn)
Redaktur : Djainab Natalia Saroh
Reporter : Mesyia Muhammad




