Prambanan Jazz Festival 2026 akan digelar pada 3, 4, dan 5 Juli 2026 di Pelataran Candi Prambanan, Yogyakarta, mengusung tema "Celebrate The Joy".
Dalam sesi jumpa pers yang digelar di Taman Agastya, Kompleks Candi Prambanan, Kamis (2/7), CEO Prambanan Jazz, Anas Syahrul Alimi, bersama Festival Curator Shadu Rasjidi memaparkan sejumlah perubahan konsep tahun ini, salah satunya soal peningkatan porsi musisi jazz dalam line up sebagai respons atas kritik publik yang selama ini mempertanyakan identitas festival.
Anas mengungkapkan, hampir 63 persen dari keseluruhan line up tahun ini mengandung unsur jazz, naik signifikan dibandingkan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya yang berada di bawah 50 persen.
"Kami mendengar semua kritikan, kami berterima kasih dan kami memperbaiki diri. Insyaallah kemarin kita hitung hampir 63 persen mengandung jazz. 63 persen, kalau kemarin jauh di bawah 50 persen," ujar Anas.
Menurut Anas, peningkatan tersebut merupakan respons penyelenggara terhadap kritik yang selama bertahun-tahun mempertanyakan identitas Prambanan Jazz Festival sebagai festival bergenre jazz. Ia mengaku membaca setiap masukan yang disampaikan publik, bahkan tak jarang membalasnya secara langsung.
"Kami mendengar banyak kritikan, membaca kritikan tuh saya baca satu-satu. Saya baca, saya balas kadang-kadang. Tapi kalau saya terbiasa balasnya nulis, saya tulis agak panjang," katanya.
Anas menegaskan, penyelenggara tidak pernah menutup diri terhadap kritik. Evaluasi terhadap berbagai masukan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sejumlah perubahan pada penyelenggaraan tahun ini.
Salah satu langkah yang diambil adalah menghadirkan program Playing Jazz, yakni mengajak musisi yang tidak berlatar belakang jazz untuk membawakan karya mereka dengan pendekatan jazz. Program ini disusun melalui proses diskusi bersama masing-masing musisi, salah satunya The Panturas.
"Kami mendengar banyak kritikan, misalnya kok mainnya bukan genre jazz kok main di festival jazz. Makanya kita bikin satu program, dan ini discuss-nya dengan band-nya langsung, salah satunya The Panturas," jelas Anas.
Menurut Anas, Barasuara yang juga diajak berdiskusi dalam program tersebut menunjukkan komitmennya untuk menyesuaikan penampilan dengan karakter Prambanan Jazz Festival.
"Kalau saya diundang di Festival Jazz ya saya akan menyesuaikan musiknya," ujar Anas menirukan pernyataan tersebut.
Penguatan identitas festival tidak hanya dilakukan melalui kurasi line up, tetapi juga diwujudkan lewat aspek artistik. Tahun ini, Prambanan Jazz Festival menggandeng seniman Eko Nugroho sebagai Commissioned Artist yang bertugas menerjemahkan tema Celebrate The Joy ke dalam identitas visual yang menyambut pengunjung sejak memasuki kawasan festival.
Anas mengatakan, kolaborasi tersebut dipilih karena rekam jejak Eko Nugroho di panggung seni internasional.
"Kita tahu Mas Eko ini salah satu-satunya perupa kita yang sudah kolaborasi sama Lollapalooza. Kita gandeng beliau," ujar Anas.
Selain menghadirkan identitas visual baru, Prambanan Jazz Festival 2026 juga memperkenalkan theme song berjudul "Kembali ke Prambanan Jazz" yang dibawakan oleh grup musik Society The Harmony, beranggotakan Natasha Elvira dan Andi Gomes. Keduanya turut hadir sebagai bagian dari line up dalam sesi jumpa pers.
Line up Prambanan Jazz Festival 2026 juga diwarnai sejumlah penampilan perdana dan momen eksklusif dari para musisi. NIKI dijadwalkan tampil untuk pertama kalinya di Prambanan Jazz Festival, sementara Tulus akan membawakan lagu terbarunya, "Teh Hijau", untuk pertama kali di Yogyakarta.
Sementara itu, Festival Curator, Shadu Rasjidi menilai kritik dan masukan yang selama ini muncul justru menjadi wujud kepedulian publik terhadap keberlangsungan Prambanan Jazz Festival. Karena itu, menurutnya, berbagai masukan tersebut menjadi pijakan dalam menyusun kurasi tahun ini.
"Saya melihat semua kritik dan masukan sebagai bentuk kepedulian pada festival ini. Ini tugas saya sebagai kurator, mendengarkan lalu menerjemahkan kepedulian itu menjadi langkah yang nyata melalui kurasi tahun ini," katanya.
Shadu mengatakan, penguatan unsur jazz diwujudkan dengan menghadirkan lebih banyak musisi yang dinilai merepresentasikan genre tersebut secara kuat.
"Karena itu tahun ini kami mencoba memperkuat representasi jazz dengan menampilkan nama-nama seperti Joy Alexander, Tari Mata, Tante Marji Segers The Legend, ada Trisum juga," ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa upaya memperkuat identitas jazz tidak dilakukan dengan mengorbankan keberlangsungan festival.
"Saya percaya sebuah festival harus tetap memiliki identitas. Namun di saat yang sama, kita harus memastikan festival ini terus hidup dan berkembang," katanya.
Menurut Shadu, pendekatan yang diambil tim kurator adalah mencari keseimbangan antara kualitas musikal dan konsistensi identitas jazz agar festival dapat terus berkembang dari tahun ke tahun.
"Kami berusaha mencari keseimbangan. Kami ingin menghadirkan kualitas musikal yang baik sekaligus memastikan festival ini tetap sehat, sehingga setiap tahun kami memiliki kesempatan untuk terus memperkuat unsur jazz di dalamnya," ujar Shadu.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama kurasi bukanlah menghadirkan line up yang dapat memuaskan semua pihak, melainkan memastikan Prambanan Jazz Festival terus hidup, bertumbuh, dan memiliki identitas jazz yang semakin kuat setiap tahunnya.
"Saya tidak mencari line up yang sempurna untuk semua orang. Saya sedang berusaha membuat festival yang bisa terus hidup, bertumbuh, dan setiap tahun bisa kuat identitas jazz-nya," katanya.





