Terkini, Makassar — Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Makassar merekonstruksi kurikulum untuk memperkuat arah pendidikan sekaligus menyiapkan lulusan yang adaptif, kritis, dan berdaya saing di era digital.
Rekonstruksi kurikulum tersebut dibahas melalui forum akademik bertema “Mengukuhkan Profil Lulusan Pendidikan Sosiologi yang Adaptif, Kritis, Berdaya Saing di Era Digital” yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, Jumat, 3 Juli 2026.
Kegiatan itu menghadirkan dosen Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta, Amika Wardana, M.A., Ph.D., sebagai reviewer.
Forum tersebut menjadi ruang evaluasi akademik bagi Prodi Pendidikan Sosiologi FKIP Unismuh Makassar untuk menata kembali arah kurikulum. Kurikulum tidak lagi dipandang sekadar sebagai daftar mata kuliah, tetapi menjadi peta jalan dalam membentuk lulusan yang relevan dengan kebutuhan pendidikan, masyarakat, dan dunia kerja.
Ketua Prodi Pendidikan Sosiologi FKIP Unismuh Makassar, Dr. Jamaluddin Arifin, mengatakan penggunaan istilah “rekonstruksi” dipilih karena prodi ingin melakukan penataan kurikulum secara menyeluruh.
“Sengaja kami memilih kata rekonstruksi, bukan review, karena kami ingin kurikulum ditata ulang secara total. Kami ingin kurikulum Pendidikan Sosiologi tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan sekolah, masyarakat, dan dunia kerja. Lulusan kami harus adaptif, kritis, dan memiliki daya saing di era digital,” kata Jamaluddin.
Menurut dia, rekonstruksi kurikulum juga menjadi bagian dari komitmen prodi menjaga mutu akademik setelah dua kali meraih akreditasi Unggul, masing-masing pada 2019 dan 2024.
Jamaluddin menegaskan, predikat Unggul harus diterjemahkan ke dalam proses akademik yang terukur, implementatif, dan memiliki kekhasan.
“Kami tidak ingin akreditasi Unggul hanya menjadi label administratif. Itu harus terlihat dalam proses pembelajaran, profil lulusan, capaian pembelajaran, riset dosen dan mahasiswa, serta kontribusi prodi kepada masyarakat,” ujarnya.
Reviewer Soroti Fokus dan Koherensi Kurikulum
Dalam forum tersebut, Amika Wardana memberikan sejumlah catatan terhadap rancangan kurikulum Prodi Pendidikan Sosiologi FKIP Unismuh Makassar.
Ia menilai dokumen kurikulum yang disusun telah menunjukkan keseriusan prodi dalam merespons perkembangan pendidikan sosiologi kontemporer.
Kurikulum tersebut telah memuat berbagai isu strategis, mulai dari pembelajaran berbasis digital, etnososiologi, nilai Islam Berkemajuan, riset kolaboratif, pemberdayaan masyarakat, hingga sociopreneurship.
Namun, menurut Amika, seluruh elemen tersebut masih perlu ditata agar menjadi satu bangunan kurikulum yang lebih fokus dan koheren.
“Kurikulum ini sudah kaya gagasan. Tantangannya sekarang adalah bagaimana gagasan-gagasan itu dibuat lebih fokus, tidak terlalu penuh jargon, dan benar-benar terlihat hubungan antara visi keilmuan, profil lulusan, CPL, body of knowledge, dan mata kuliah,” kata Amika.
Salah satu catatan utama yang disampaikan adalah perlunya membedakan secara tegas antara pembelajaran berbasis digital dan sosiologi digital. Keduanya dinilai penting, tetapi memiliki fokus yang berbeda.
Pembelajaran berbasis digital berkaitan dengan pemanfaatan teknologi dalam proses belajar, seperti learning management system, media pembelajaran, video edukatif, kelas daring, dan berbagai perangkat digital lainnya.
Sementara itu, sosiologi digital berfokus pada kajian mengenai perubahan masyarakat akibat perkembangan teknologi, termasuk media sosial, komunitas daring, relasi sosial berbasis platform, dan perubahan budaya di ruang digital.
“Kalau pembelajaran berbasis digital, fokusnya pada bagaimana teknologi membantu proses belajar. Kalau sosiologi digital, fokusnya pada bagaimana masyarakat berubah karena teknologi. Dua hal ini bisa menjadi kekuatan prodi, tetapi harus dibedakan secara konseptual,” ujar Amika.
Pendidikan Sosiologi dan IPS Tetap Jadi Basis Utama
Amika juga menekankan pentingnya memperjelas orientasi utama program studi. Sebagai Prodi Pendidikan Sosiologi, kurikulum dinilai perlu tetap menempatkan pendidikan dan pembelajaran sosiologi atau Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah menengah sebagai basis utama.
Dengan arah tersebut, etnososiologi, literasi digital, sosiologi digital, pemberdayaan komunitas, dan Islam Berkemajuan dapat menjadi kekhasan yang memperkuat kurikulum, bukan justru membuat orientasi keilmuan menjadi terlalu melebar.
“Menurut saya, fokus utamanya tetap harus jelas, pendidikan dan pembelajaran sosiologi atau IPS. Etnososiologi, digitalisasi, dan Islam Berkemajuan bisa menjadi penciri yang memperkaya arah itu,” katanya.
Catatan lainnya menyangkut profil lulusan. Dokumen kurikulum sebelumnya memuat sejumlah profil, di antaranya guru sosiologi dan IPS, sosiolog pendidikan dan komunitas digital, perancang pembelajaran sosiologi, pengembang media pembelajaran digital, peneliti sosial dan pendidikan, serta sociopreneur pendidikan sosiologi.
Amika mengingatkan agar rumusan profil lulusan disesuaikan dengan jenjang sarjana atau Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) level 6.
Menurut dia, penggunaan istilah seperti “guru profesional” atau “peneliti profesional” perlu dilakukan secara hati-hati karena sejumlah profesi membutuhkan pendidikan lanjutan maupun sertifikasi profesi.
Ia menyarankan profil lulusan dirumuskan secara lebih realistis, antara lain sebagai calon pendidik sosiologi atau IPS, pengembang perangkat pembelajaran sosiologi, asisten peneliti sosial dan pendidikan, fasilitator pemberdayaan komunitas, pengembang media pembelajaran digital, serta penggerak sociopreneurship pendidikan sosiologi.
“Profil lulusan harus ambisius, tetapi tetap realistis sesuai level sarjana. Lulusan S1 bisa diarahkan menjadi calon pendidik, pengembang perangkat pembelajaran, asisten peneliti, atau fasilitator komunitas. Setelah itu, mereka bisa melanjutkan ke PPG, studi lanjut, atau sertifikasi profesi,” jelas Amika.
Body of Knowledge Disarankan Lebih Ringkas
Dari sisi body of knowledge atau rumpun keilmuan, Amika merekomendasikan agar bahan kajian diringkas. Cakupan kurikulum yang terlalu luas dinilai berpotensi membuat arah keilmuan sulit terbaca.
Ia menyarankan body of knowledge dirumuskan ke dalam lima hingga tujuh rumpun utama, meliputi nilai institusional dan kebangsaan, pedagogi dan desain pembelajaran sosiologi atau IPS, teori sosiologi dan analisis sosial, etnososiologi dan pendidikan multikultural, teknologi pembelajaran dan sosiologi digital, metodologi penelitian, serta pemberdayaan komunitas dan sociopreneurship.
Struktur mata kuliah juga dinilai perlu ditata berdasarkan alur belajar mahasiswa.
Pada tahap awal, mahasiswa perlu memperoleh fondasi nilai, wawasan kebangsaan, komunikasi akademik, ilmu pendidikan, dan pengantar sosiologi.
Memasuki tahap menengah, mahasiswa diperkuat dengan teori sosiologi, metode penelitian, pedagogi sosiologi atau IPS, kurikulum, asesmen, dan media pembelajaran.
Sementara pada tahap lanjut, mahasiswa diarahkan pada praktik pembelajaran, laboratorium, riset terapan, pengembangan bahan ajar, pemberdayaan komunitas, sociopreneurship, hingga penyelesaian skripsi.
Jamaluddin menyambut berbagai catatan tersebut sebagai masukan penting bagi pengembangan Prodi Pendidikan Sosiologi FKIP Unismuh Makassar.
Ia mengatakan, proses rekonstruksi akan dilanjutkan melalui penyempurnaan dokumen, penataan mata kuliah, dan penguatan capaian pembelajaran lulusan.
“Masukan reviewer menjadi bahan penting bagi kami. Setelah forum ini, tim kurikulum akan bekerja menajamkan rumusan visi keilmuan, profil lulusan, CPL, body of knowledge, dan struktur mata kuliah agar semuanya lebih koheren,” kata Jamaluddin.
Kegiatan rekonstruksi kurikulum diikuti dosen Prodi Pendidikan Sosiologi FKIP Unismuh Makassar. Melalui forum tersebut, prodi menargetkan lahirnya kurikulum yang lebih fokus, berbasis data, serta memiliki kekhasan akademik dalam bidang pendidikan sosiologi.
Rekonstruksi kurikulum tersebut tidak sekadar menjadi penyesuaian dokumen akademik. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi ikhtiar untuk memastikan lulusan Pendidikan Sosiologi mampu bergerak di tengah perubahan, mengajar secara kreatif, berpikir kritis, peka terhadap realitas sosial, serta cakap memanfaatkan teknologi secara bermakna.




