Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdikti Saintek) mendorong inovasi perguruan tinggi, dalam membantu pemulihan masyarakat pascabencana berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Melalui Seminar Dampak Pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak di Sumatra Tahun 2026, Direktorat Riset dan Pengembangan, membuka ruang untuk perguruan tinggi melakukan diseminasi inovasi untuk membantu pemulihan masyarakat pascabencana.
Advertisement
Kegiatan yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat ini menghadirkan kolaborasi nyata antara dosen, mahasiswa, dan mitra komunitas untuk berbagi praktik, serta pengalaman langsung yang telah diterapkan di lapangan, Kamis 2 Juli 2026.
Salah satu cerita inspiratif disampaikan mahasiswa Teknik Industri Universitas Tidar (Untidar) bernama Adhito Irsyad Pratama. Dia tergabung dalam Tim Sapa Maninjau.
Adhito bercerita, meski menghadapi berbagai kendala di lapangan, terjun langsung membantu masyarakat terdampak bencana memberikan kesan mendalam bagi timnya.
"Memang dalam terlaksananya ada banyak kendala, tapi Alhamdulillah bisa kita hadapi bersama, kita saling support, bisa kita saling cover, dan menunjukkan suatu hasil yang Alhamdulillah bisa membahagiakan, dan juga bermanfaat, terutama bagi lingkungan warga sekitar," ujar Adhito dalam keterangan tertulis Kemdikti Saintek, Jumat (3/7/2026).
Perjuangan Tim Lainnya
Kemudian, dosen teknik mesin sekaligus salah satu dosen pembimbing tim program Mahasiswa Berdampak Untidar Raka Mahendra Sulistyo juga menceritakan perjuangan timnya.
Raka menceritakan timnya yang terdiri dari 52 mahasiswa saat di perjalanan menuju ke lokasi pengabdian, tepatnya Desa Jorong Batung Panjang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, tidak mudah. Mereka menempuh perjalanan kurang lebih 78 jam dari Magelang, Jawa Tengah menuju Sumatra Barat dengan menggunakan bus.
Di lokasi tersebut, tim mahasiswa berdampak Untidar menghadirkan solusi teknologi tepat guna berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), penjernihan air, pengolahan ikan, dan limbah minyak jelantah. Perjuangan fisik yang melelahkan terbayarkan dengan sambutan antusias dari masyarakat sekitar.
"Ini perjuangan kami yang mungkin bisa jadi tidak seberapa nilainya bagi warga, tapi Alhamdulillah bermanfaat. Kemudian warga yang datang menyambut kami juga sangat luar biasa antusias. Bahkan setiap pelaksanaan program-program kami, Warga selalu antusias dan ingin menambah harinya," tutur Raka.
Rasa haru juga menyelimuti Tim Mahasiswa berdampak Untidar ketika program telah selesai dan harus berpamitan kepada warga setempat. Hubungan emosional yang erat membuat momen perpisahan menjadi sangat emosional.
"Kemudian ketika program telah selesai, kami berpamitan kepada warga dan dilepas dengan tarian. MasyaAllah itu saya sangat terharu merasa beruntung dan bersyukur sebagai dosen pembimbing dari teman-teman mahasiswa," tutur Raka.




