REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Fenomena pemadaman listrik yang sempat melanda sebagian wilayah Jawa dan Sumatra menjadi sinyal peringatan serius bagi sektor energi nasional. Pemadaman tersebut dinilai sebagai indikasi bahwa batas aman pasokan listrik nasional (margin safety) kini sudah mulai menipis.
Menurut pakar di bidang Energi dan Infrastruktur yang juga alumni Teknik Kimia ITB, Triharyo Soesilo, kondisi pasokan listrik yang kian kritis ini dipicu oleh terhentinya pembangunan pembangkit listrik sejak tahun 2019 lalu. Di sisi lain, konsumsi listrik masyarakat akibat pertumbuhan ekonomi terus berjalan selama tujuh tahun terakhir tanpa diimbangi oleh penambahan kapasitas pembangkit baru.
"Untuk mengejar ketertinggalan pasokan tersebut secara cepat, pemanfaatan solar panel atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dinilai sebagai opsi yang paling realistis saat ini," ujar Triharyo Soesilo saat menerima Penghargaan Widya Jasa Adiutama di Gedung Aula Barat, Kampus ITB, Jumat (3/7/2026).
Pria yang akrab disapa Hengki ini menerima Penghargaan Widya Jasa Adiutama. Hengki adalah Alumni Teknik Kimia ITB, yang masuk tahun 1977 dan lulus November 1981. Penghargaan ini, diberikan atas jasa dan kontribusi yang luar biasa dalam pengembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Seni dan Humaniora di Indonesia.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Hengki menjelaskan pilihan energi konvensional seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara kini sudah dilarang. Sementara itu, potensi panas bumi di pulau Jawa sudah tidak bisa ditambah lagi. Opsi pembangunan pembangkit berbasis gas juga menghadapi kendala besar karena membutuhkan biaya yang sangat mahal serta memakan waktu lama untuk membangun turbinnya.
Melihat situasi tersebut, percepatan instalasi tenaga surya skala besar menjadi langkah yang mendesak. Pemanfaatan area terbuka seperti permukaan air dinilai dapat menjadi jalan keluar yang efisien.
"Kenapa kita tidak segera memasang solar panel skala besar di danau-danau secara cepat? Itu pengerjaannya tidak sampai setahun bisa selesai," katanya.
Melawan Dominasi Asing
Hengki dikenal sebagai alumni ITB yang telah melahirkan berbagai karya penting di bidang industri. Setelah menyelesaikan pendidikan di ITB, ia melanjutkan studi magister (S-2) di University of Arizona. Tesisnya yang berjudul Computer Software for Plant Design on Micro Computer kemudian dibawa dan dikembangkan di Indonesia ketika ia bergabung dengan PT Rekayasa Industri (Rekind).
Pada dekade 1980-an, perancangan pabrik-pabrik industri masih memerlukan komputer skala besar (mainframe computer) yang harganya sangat mahal bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia. Berbekal tesisnya, bersama putra-putri terbaik Indonesia, ia turut berperan dalam pembangunan seluruh pabrik pupuk di Indonesia, serta sejumlah pabrik di Malaysia dan Brunei. Tidak hanya itu, bersama para teknolog Indonesia, ia juga berhasil mengantarkan Rekind mampu bersaing dan mengurangi dominasi kontraktor asing dalam pembangunan industri di Indonesia.
Pada era tahun 2000-an, mulailah Kontraktor Nasional, mampu membangun kilang-kilang minyak secara mandiri, seperti Proyek Kilang Langit Biru di Balongan, yang sering dikenal sebagai Proyek Kilang Merah-Putih. Lalu Proyek Kilang Recycle Offgas to Propylene Project (ROPP) dan banyak lagi. Sampai saat inipun, hanya segelintir negara di dunia, yang para insinyurnya mampu membangun kilang-kilang minyak, secara mandiri.
Melawan dominasi kontraktor asing, nampaknya menjadi Misi Hengki. Ia akhirnya, bersama Team Rekind membangun pipa gas bawah laut, menyeberang dari Sumatera ke Jawa. Kemudian mendominasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) oleh para Putra-putri Indonesia. Kedua Teknologi ini, sebelumnya dikuasai oleh Kontraktor Asing di Indonesia dan belum pernah dilakukan oleh Kontraktor Nasional.
Menurut Hengki, salah satu tantangan terberat-nya adalah ketika ia menerima penugasan dari Menteri BUMN dan Menteri ESDM, untuk menjadi Komisaris Utama (Komut), PT Kilang Pertamina Internasional atau KPI. Saat ini PT KPI, sudah digabung dengan PT Patra Niaga). Awalnya tugas dari Menteri ESDM ini, bertujuan untuk percepatan penyelesaian Proyek-Proyek Kilang di Pertamina, seperti Proyek RDMP Balongan, RDMP Balikpapan dan banyak lagi.
Tanpa disadari oleh Hengki, saat menerima tugas pada Juni 2020 tsb, ternyata kilang-kilang Pertamina, hampir setiap 3(tiga) bulan, mengalami musibah kebakaran hebat. Namun akhirnya semua penyebab Kebakaran, berhasil dimitigasi satu per satu, oleh seluruh jajaran PT KPI. Selain itu, dalam waktu bersamaan, jajaran PT KPI berhasil menuntaskan satu per satu proyek-proyek kilang di Pertamina.
Pengalaman memecahkan berbagai permasalahan, pada banyak Proyek-Proyek Skala besar, dan juga kiat-kiat mendominasi Pasar, dituliskan oleh Hengki dalam buku yang berjudul Ilmu Menerobos Sumbatan. Buku tersebut membuka banyak rahasia ke publik untuk pertama kalinya, seperti Sejarah Biodiesel di Indonesia, penyelesaian Proyek 35.000 MW, Proyek LNG Tangguh-3, Operasi Intelijen penyelesaian Proyek Pupuk di Aceh dan banyak lagi.




