BPOM: Akses ke obat inovatif yang aman kuatkan penanganan diabetes

antaranews.com
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebutkan akses ke obat-obat inovatif yang aman menguatkan penanganan bagi pasien diabetes, sehingga pihaknya berkomitmen untuk memastikan keamanan obat-obatan tersebut guna melindungi masyarakat.

Kepala BPOM Taruna Ikrar di Jakarta, Jumat, mengatakan bahwa data Kementerian Kesehatan menunjukkan angka penderita diabetes di Indonesia sangat tinggi, yakni mencapai 31 juta jiwa atau mencakup 11 persen populasi akibat faktor genetik dan pola konsumsi tinggi glukosa, sehingga kehadiran obat inovatif yang terawasi dengan baik menjadi sangat krusial.

"Selain memperketat kontrol fisik, perlindungan masyarakat oleh BPOM juga diwujudkan melalui percepatan akses terhadap obat-obat inovatif yang sangat dibutuhkan publik, salah satunya adalah obat dengan zat aktif tirzepatide untuk penderita diabetes tipe 2 dan manajemen berat badan," katanya

Dia mengatakan bahwa pihaknya berhasil menyelesaikan proses registrasi obat tersebut hanya dalam kurun waktu 98 hari, tanpa sedikit pun mengurangi prinsip evaluasi ilmiah.

Sebagai bentuk komitmen untuk melindungi publik, pihaknya juga melakukan kunjungan kerja langsung ke National Distribution Center (NDC) PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), guna memastikan obat yang dikonsumsi masyarakat senantiasa terjaga mutu, keamanan, dan khasiatnya dari hulu hingga ke tangan pasien.

Baca juga: BPOM: "Gene therapy" perlu dibarengi regulasi kuat pastikan manfaat

Dia menjelaskan bahwa pengawasan sekarang tidak lagi hanya berpusat di belakang meja administrasi atau sekadar menerbitkan sertifikasi. BPOM mengambil langkah proaktif turun langsung ke industri untuk mengawal ketat seluruh proses rantai distribusi obat nasional.

Namun demikian, BPOM mengingatkan bahwa perlindungan setelah obat beredar (post-marketing) tetap menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, Kepala BPOM meminta seluruh pelaku usaha termasuk distributor untuk memperkuat sistem farmakovigilans atau pengawasan keamanan obat pasca-pemasaran guna mencegah risiko efek samping merugikan di masyarakat.

"Kami baru saja mengeluarkan regulasi. Vigilans ini sangat penting karena salah satu yang belum berkembang dengan baik adalah tentang farmakovigilans. Apakah itu adverse reactions (efek samping) atau hal-hal lain yang tidak diinginkan, please report it. Karena itu adalah fungsi dari post-marketing," katanya.

Melalui sinergi kolaboratif antara BPOM dan pelaku usaha yang taat pada prinsip Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) menjadi kunci kokohnya ekosistem kesehatan nasional.

Sebagai regulator yang diakui secara global lewat status WHO-Listed Authority (WLA), BPOM terus memodernisasi pengawasan lewat inovasi digital, seperti pelacakan 2D barcode secara real-time.

"Langkah progresif ini menjadi benteng utama untuk mengunci mati pergerakan obat ilegal atau palsu yang dapat mengancam keselamatan masyarakat Indonesia," katanya.

Baca juga: BPOM kuatkan pengawasan hadapi ancaman narkoba yang terus berevolusi

President Director PT APL Christophe Piganiol menyambut baik pengawasan ketat yang dilakukan oleh regulator demi kepentingan pasien di Indonesia. Ia memaparkan bahwa fasilitas NDC yang dibangun di atas lahan Cikarang ini dirancang khusus dengan standar kualitas internasional serta infrastruktur yang tangguh demi menjaga integritas produk farmasi secara konsisten.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Negara Jagoannya Gugur, Pemain Persija Ini Favoritkan Messi atau Spanyol Piala Dunia
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Suasana Kediaman Bupati Langkat Syah Afandin di Medan
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Saat Rumah Tidak Lagi Menjadi Tempat yang Aman
• 1 menit lalukumparan.com
thumb
Media AS: Israel Bersiasat Bunuh Negosiator Penting Iran
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
Dishub DKI Kaji Usulan 5 Rute Baru Transjabodetabek dari Depok ke Jakarta
• 3 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.