JAKARTA, KOMPAS.com- Asap tebal masih menyelimuti kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, meski kebakaran telah memasuki hari keempat, Jumat (3/7/2026).
Kobaran api memang sudah tidak terlihat. Namun, asap putih masih terus membumbung dari sela-sela gunungan sampah.
Kebakaran yang berlangsung selama berhari-hari menyebabkan kualitas udara di sekitar TPA Jatiwaringin memburuk hingga masuk kategori berbahaya.
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Rasio Ridho Sani mengatakan, asap kebakaran TPA sangat tidak sehat karena mengandung senyawa kimia berbahaya, seperti sulfur oksida (SOx) dan nitrogen oksida (NOx), yang berasal dari pembakaran sampah plastik.
"Pemantauan kualitas udara menunjukkan kondisinya sangat tidak sehat. Untuk itu kami harapkan teman-teman bisa menggunakan masker, alat pelindung, untuk mengatasi dampak-dampak kesehatan yang ada, seperti ISPA," ujar Rasio.
Buruknya kualitas udara berdampak langsung pada kesehatan warga yang tinggal di sekitar lokasi.
Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat sedikitnya 154 warga mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat terpapar asap pekat.
Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Hendra mengatakan, sebagian besar pasien merupakan kelompok rentan, seperti ibu hamil dan balita.
"Ada 154 orang, tapi berobat jalan semua dan sudah diobati," kata Hendra.
Dari jumlah tersebut, satu ibu hamil harus dirujuk ke rumah sakit karena mengalami gangguan pernapasan yang cukup serius.
Baca juga: Gubernur Banten: Tinggi Gunungan Sampah TPA Jatiwaringin Setara Gedung 7 Lantai
Kandungan gas metanaKepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan BPBD Kabupaten Tangerang Ahmad Ruslan menjelaskan, asap tersebut muncul karena bara api masih menyala di dalam timbunan sampah akibat kandungan gas metana.
"Kalau untuk saat ini, ya, api sudah tidak ada. Tapi, karena kandungan gas metana jadi asap tetap mengebul," jelas Ruslan saat ditemui di lokasi, Jumat.
Kandungan gas metana juga berpotensi memicu kobaran api muncul kembali, terutama saat terjadi hembusan angin kencang.
Baca juga: Penyebab Kebakaran TPA Jatiwaringin Tak Kunjung Padam dan Dampaknya Bagi Warga
Selain itu, luasnya area yang terbakar membuat proses pemadaman berlangsung sulit.
Luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 15 hingga 18 hektare atau sekitar 80 persen dari total luas TPA Jatiwaringin yang mencapai 33 hektare.





