MSF Luncurkan Aksi Nyata Pengentasan Kemiskinan Ekstrem di Desa

jpnn.com
10 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Sebuah gerakan kolaboratif berskala nasional melalui Multi-Stakeholder Forum (MSF) Pengentasan Kemiskinan resmi diperkuat untuk menjembatani berbagai sektor demi mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Digagas oleh Forum Zakat (FOZ), Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI), dan Humanitarian Forum Indonesia (HFI), MSF hadir sebagai jawaban atas tantangan fragmentasi kelembagaan di Indonesia. 

BACA JUGA: Gelar Aksi di Kedubes Singapura, FPAR Desak Pengembalian Aset Koruptor dan Hentikan Kejahatan Ekonomi Lintas Negara

Sekretaris Umum FOZ, Udhi Tri Kurniawan mengatakan platform tersebut menyatukan aktor filantropi, pemerintah, sektor swasta, akademisi, hingga masyarakat sipil agar tidak lagi berjalan sendiri-sendiri dalam mengentaskan kemiskinan.

Menurutnya, skema transisi yang digagas oleh MSF bukanlah perkara yang mudah, namun menjadi keharusan di tengah kondisi sosial-ekonomi masyarakat saat ini.

BACA JUGA: Srikandi Jaga Desa, Pilar Ketahanan Ekonomi Perempuan Nusantara

“Tetapi harus dilakukan dan implementasikan. Dengan kondisi yang sekarang, maka permasalahan kemiskinan bukan hanya bahasan diskusi di atas kertas, tetapi juga penyelesaian yang konkret," tegas Udhi.

MSF sendiri menerapkan strategi co-creation (ko-kreasi) program yang berbasis pada temuan masalah di lapangan dan diselaraskan dengan indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Oleh karena itu, Udhi menggarisbawahi kunci dari keberhasilan pengentasan kemiskinan ini terletak pada sejauh mana para pemangku kepentingan mampu menurunkan ego sektoral untuk menghasilkan dampak nyata.

"Butuh kolaborasi sehingga menghasilkan praktik baik sampai pada ruang engagement (keterlibatan aktif bersama masyarakat)," jelas Udhi menambahkan.

Sebagai tonggak penting transisi dari perencanaan ke tindakan nyata, MSF menggelar Workshop Transisi Menuju Implementasi Program Pengentasan Kemiskinan pada Jumat (3/7/2026). 

Rangkaian ini merupakan kelanjutan dari proses panjang sejak awal 2026 yang meliputi diskusi sektoral, Focus Group Discussion (FGD), asesmen lapangan, hingga rembuk desa.

Direktur Eksekutif PFI Rully Amrullah memaparkan potret sosiologis Indonesia saat ini masih dipenuhi tantangan besar di tingkat akar rumput. 

Data makro mencatat terdapat sekitar 10.467 desa sangat tertinggal, puluhan ribu desa rawan bencana, serta mayoritas desa yang belum mandiri secara ekonomi dan fasilitas kesehatan.

Namun, di balik tantangan tersebut, desa menyimpan potensi yang sangat besar. MSF mencatat ada 49% populasi masyarakat yang menetap di desa, perputaran Dana Desa yang mencapai Rp71 triliun, serta keberadaan 146.876 industri kecil dan mikro.

"Potensi-potensi besar inilah yang berusaha kami jahit melalui kolaborasi lintas sektor antara FOZ, PFI, HFI, PSI Agro, dan Global Compact, baik dalam aspek pendanaan, riset, hingga implementasi," ujar Rully.(era/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mendikdasmen Abdul Mu’ti Lantik BSANP untuk Perkuat Standar dan Akreditasi Pendidikan Nasional
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Penghormatan Terakhir untuk Khamenei: Pejabat Hadir-Kantor di Teheran Diliburkan
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Piala AFF 2026: Media Vietnam Soroti Tantangan The Golden Star Warriors saat Hadapi Timnas Indonesia di Pakansari
• 22 jam lalubola.com
thumb
4 Penyembelih Tapir di Mesuji Ditangkap, 2 Buron
• 23 jam lalurctiplus.com
thumb
Rumah Tangganya Dikaitkan dengan Konten Viral di TikTok, Brisia Jodie Meradang: Itu Bukan Kita!
• 20 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.