Cara Efektif Perkuat Fraud Management di Era Digital, AI dan Budaya Integritas Jadi Kunci

viva.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Meningkatnya transaksi keuangan digital membuat ancaman fraud atau penipuan semakin kompleks. Karena itu, bank dan perusahaan fintech tidak lagi cukup mengandalkan pengawasan manual maupun pemeriksaan setelah insiden terjadi.

Penguatan Fraud Management System (FMS) kini menjadi kebutuhan. Sistem tersebut harus mampu mencegah, mendeteksi, hingga merespons potensi fraud secara real-time agar risiko kerugian dapat ditekan sejak dini.

Baca Juga :
Susul Argentina, Kolombia Ramaikan Wakil Amerika Selatan di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026 usai Taklukkan Ghana
Korban Tewas Akibat Gempa di Venezuela Bertambah Jadi 2.645 Orang

Upaya tersebut juga perlu sejalan dengan POJK Nomor 12 Tahun 2024 tentang Penerapan Strategi Anti-Fraud bagi Lembaga Jasa Keuangan. Regulasi ini menekankan bahwa strategi anti-fraud harus menjadi bagian dari tata kelola risiko yang berkelanjutan, bukan sekadar memenuhi aspek kepatuhan.

Secara umum, penguatan fraud management dilakukan melalui empat pilar utama, yakni pencegahan, deteksi, respons, serta monitoring dan evaluasi. Keempatnya saling melengkapi untuk menghadapi berbagai modus penipuan yang terus berkembang.

Langkah Memperkuat Fraud Management

Agar sistem anti-fraud berjalan lebih efektif, organisasi dapat menerapkan beberapa langkah berikut.

Pencegahan

  • Membangun budaya kerja yang berintegritas.
  • Memberikan pelatihan anti-fraud secara berkala.
  • Mengurangi proses manual melalui workflow automation.

Deteksi

  • Memanfaatkan AI untuk transaction monitoring dan behavioral analytics.
  • Menggunakan risk scoring otomatis.
  • Mengoptimalkan whistleblowing system.

Respons dan Monitoring

  • Menggunakan platform case management yang terintegrasi.
  • Memperkuat audit trail digital.
  • Melakukan evaluasi dan memperbarui sistem AI berdasarkan pola fraud terbaru.
Risiko Fraud Semakin Besar

M2P Fintech bersama PT Reka Karya Teknologi (RKT) menilai penguatan Fraud Management System berbasis AI menjadi kebutuhan mendesak bagi industri keuangan Indonesia. Teknologi ini membantu bank dan perusahaan fintech mendeteksi risiko lebih awal, mempercepat respons, sekaligus menjaga kepercayaan nasabah.

Risiko fraud kini tidak lagi terbatas pada transaksi ilegal. Modusnya berkembang menjadi social engineering, account takeover, identity fraud, application fraud, payment fraud, penyalahgunaan akses internal, hingga cyber-enabled fraud.

Di sisi lain, aktivitas digital terus meningkat. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat pengguna internet di Indonesia telah mencapai 221,56 juta orang. Sementara Bank Indonesia melaporkan volume transaksi pembayaran digital pada April 2026 mencapai 5,15 miliar transaksi, naik 42,86 persen secara tahunan.

Baca Juga :
Harga Emas Pegadaian Hari Ini 4 Juli 2026 Naik Serentak, Antam Tembus Rp2,758 Juta per Gram
Wamenaker Sebut Tiap Investasi Harus Beri Dampak Bagi Penciptaan Lapangan Kerja
Polisi Amankan 3 Remaja di Cengkareng Gegara Bawa Narkoba Jenis Sintetis

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Momen Langka Piala Dunia, Penyerang Timnas Australia Ini Masuk Islam Jelang Laga Lawan Mesir
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Terbanyak di Indonesia Ada 103.092 Pemain Judi Online di Bogor, Ini Kata Bupati Rudy
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Gebrakan Fathi Demokrat, Luncurkan Bank Kafan Gratis untuk Warga Bandung dan Cimahi
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Imigrasi Bogor Hadirkan Layanan MEDISA, Warga Bisa Bikin Paspor di Hari Sabtu
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Taylor Swift dan Travis Kelce Donasi Milaran
• 22 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.