MAKASSAR, KOMPAS - Palang Merah Indonesia atau PMI mengerahkan sedikitnya 400 tangki air ke sejumlah provinsi untuk menghadapi kekeringan akibat El Nino. Sementara itu, PMI Kota Makassar, Sulawesi Selatan, akan membuat sumur bor di wilayah terdampak parah kekeringan.
Ketua PMI Kota Makassar Syamsu Rizal, Sabtu (4/7/2026), mengatakan, ada sejumlah langkah yang disiapkan untuk mengantisipasi ancaman kekeringan. Salah satunya adalah pembentukan tim antisipasi kekeringan yang merupakan bagian dari tim climate change. Selain itu, pembuatan sumur bor pun akan dilakukan.
“Saat ini, kita lagi inisiasi untuk pembuatan sumur bor di dua lokasi di Makassar. Rencananya di Kecamatan Tallo dan Ujung Tanah. Saat ini tim sudah assesmen dan melakukan pertemuan dengan warga untuk penentuan titik,” kata Syamsu.
Syamsu menambahkan, selain pembuatan sumur bor, penyaluran bantuan air bersih melalui tangki air juga rutin dilakukan. PMI Kota Makassar juga menyalurkan tandon kepada warga untuk penampungan air.
Di Makassar, Kecamatan Tallo dan Kecamatan Ujung Tanah memang menjadi daerah terdampak parah kekeringan. Setiap tahun, warga di wilayah tersebut menghadapi kesulitan air bersih terlebih saat terjadi kekeringan panjang. Saat kekeringan melanda, warga di wilayah itu pun harus membeli air bersih untuk keperluan sehari-hari.
“Sejak akhir Maret lalu, air PDAM sudah mulai tidak mengalir. Tak ada sumur bor karena di sini air tanah kuning dan berbau. Air untuk semua keperluan harus kami beli. Jadinya harus diirit-irit,” kata Rabiah (50), warga Kelurahan Pattingalloang Baru, Kecamatan Ujung Tanah.
Rabiah menyebut, tahun ini, kekeringan datang lebih awal. Jika biasanya air bersih mulai tidak mengalir pada Juni atau Agustus, pada tahun ini, pasokan air bersih mulai terbatas pada akhir Maret. Sementara itu, mulai April, air tak pernah lagi mengalir.
Sementara itu, Ketua Umum PMI Jusuf Kalla menyebut, setidaknya 400 mobil tangki air akan dikerahkan ke sejumlah provinsi untuk menghadapi dampak kekeringan. Provinsi yang menjadi prioritas adalah Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
"Kekeringan memiliki dua dampak utama, yaitu terhadap sektor pertanian dan kemanusiaan. PMI akan fokus pada penanganan dampak kemanusiaan, terutama penyediaan air bersih untuk kebutuhan memasak, minum, mencuci, dan mandi," ujar Kalla usai memimpin Apel Operasi Dampak Kekeringan Ekstrem Akibat El Nino di Gudang Logistik PMI, Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Kalla menjelaskan, 400 mobil tangki air yang disiapkan itu terdiri dari 200 mobil berkapasitas besar dan 200 mobil berkapasitas kecil. Kendaraan berukuran kecil diprioritaskan untuk menjangkau wilayah perkotaan yang mengalami kesulitan pasokan air bersih.
Sejak akhir Maret lalu, air PDAM sudah mulai tidak mengalir. Tak ada sumur bor karena di sini air tanah kuning dan berbau. Air untuk semua keperluan harus kami beli. Jadinya harus diirit-irit
Dalam pelaksanaan distribusi air bersih, PMI akan bekerja sama dengan rumah-rumah ibadah sebagai pusat penyaluran bantuan kepada masyarakat. Mekanisme tersebut dipilih agar distribusi air bersih dapat berlangsung lebih cepat, tertib, dan merata.
"Air akan disalurkan hingga ke rumah ibadah, kemudian pengurus setempat yang membagikannya kepada masyarakat. Cara ini dinilai lebih efektif dibandingkan distribusi dari rumah ke rumah," kata Kalla.
Kalla menambahkan, pendistribusian air bersih di sejumlah daerah telah dimulai. Seluruh armada dan logistik telah dipersiapkan sejak Mei sebagai langkah antisipasi menghadapi dampak El Nino.





