Wasiat Terakhir Bos Toko di SAGA yang Lompat dari Gedung Terungkap, Warga Kirim Bunga Hingga Aparat Bertindak Seolah Menghadapi Musuh Besar 

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

Insiden seorang pemilik toko di pusat perbelanjaan SAGA (SEG International Shopping Center) di Xi’an, Shaanxi, Tiongkok  yang diduga bundir dengan melompat dari gedung memicu kemarahan publik. Warga secara spontan datang untuk meletakkan bunga sebagai bentuk belasungkawa, sementara pihak berwenang mengerahkan banyak aparat keamanan untuk menjaga ketertiban. Polisi bahkan menyita bunga-bunga yang dibawa warga dan memeriksa kurir pengantar bunga, namun tetap tidak mampu menghentikan masyarakat yang terus berdatangan untuk memberikan penghormatan.

EtIndonesia.com Berdasarkan foto-foto yang beredar di internet, pada 2 Juli, kawasan sekitar SEG Shopping Center dipenuhi aparat keamanan. Jalan-jalan dipenuhi mobil polisi, sementara polisi dan petugas keamanan berpatroli di berbagai titik. Jembatan penyeberangan dan pintu keluar stasiun metro juga dijaga ketat.

Seorang kurir yang mendekati pusat perbelanjaan langsung dikerumuni enam hingga tujuh petugas keamanan. Mereka memeriksa pesanan di ponselnya untuk memastikan apakah ia mengantarkan bunga.

Sejumlah warganet berkomentar:

“Bahkan mendekat pun sulit. Keempat persimpangan dijaga sangat ketat.”

“Sepertinya nanti harus menaburkan uang kertas persembahan untuk orang meninggal. Benar-benar sudah tidak ada hukum.”

Video lain memperlihatkan seorang warga yang membawa seikat bunga hendak memasuki kawasan SAGA, tetapi langsung dikepung enam hingga tujuh pria berpakaian hitam. Bunganya kemudian dirampas.

Meski demikian, masih banyak warga yang berhasil datang ke lokasi dan meletakkan bunga di sekitar pusat perbelanjaan tersebut.

Pada malam 1 Juli, banyak warga berkumpul di alun-alun depan pusat perbelanjaan SAGA untuk melakukan aksi protes. Mereka meneriakkan slogan-slogan dan bahkan menyanyikan lagu kebangsaan Republik Rakyat Tiongkok yang diawali lirik, “Bangkitlah, mereka yang tidak mau menjadi budak.”

Pihak berwenang kemudian mengerahkan banyak polisi untuk menangkap para demonstran. Dalam sejumlah video terlihat lima hingga enam polisi mengangkat paksa para pengunjuk rasa dengan memegang tangan dan kaki mereka.

Wasiat terakhir korban terungkap, diduga dijebak untuk merebut hak usahanya

Sebuah unggahan terakhir di akun WeChat milik korban, Yan Peng (严鹏), mengungkap penderitaan yang telah ia alami selama empat tahun terakhir.

Dalam pesannya ia mengatakan bahwa selama ini dirinya tidak pernah melakukan pelanggaran ataupun perbuatan yang melanggar hati nurani. Menurutnya, seluruh pelaku usaha di kawasan perdagangan Xi’an mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam acara promosi toko beberapa tahun lalu. Semua toko melakukan praktik yang sama, tetapi hanya dirinya yang menjadi sasaran hukuman.

Ia menulis bahwa dirinya dipaksa hingga ke jalan buntu akibat denda yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Ia telah menjual seluruh aset, menghabiskan seluruh tabungan, namun tetap tidak mampu menutup lubang keuangan yang ditimbulkan.

Ia juga menulis : “Saya terlilit berbagai gugatan hukum, menjadi objek eksekusi pengadilan, dikenai pembatasan konsumsi, setiap hari dikejar para kreditur. Saya telah mengecewakan para karyawan dan keluarga saya.”

Ia mengaku sudah tidak sanggup lagi bertahan dan menderita depresi berat.

Seorang warganet yang mengaku mengetahui kasus tersebut mengatakan bahwa temannya merupakan staf keuangan perusahaan milik Yan.

Menurutnya, denda sebesar 10 juta yuan menyebabkan arus kas perusahaan terputus. Perusahaan terpaksa meminjam uang, bahkan hingga meminjam dari rentenir. Setelah itu, pihak SAGA menyatakan akan mengelola merek tersebut sendiri dan memaksa toko mereka keluar dari pusat perbelanjaan. Hal itulah yang disebut telah mendorong korban ke jalan buntu.

“Ia bukan sekadar melompat, tetapi didorong hingga jatuh”

Sebuah tulisan yang banyak beredar di internet berjudul “Ia bukan melompat dari gedung, tetapi didorong hingga jatuh.”

Tulisan tersebut menyebutkan bahwa empat tahun lalu, praktik membuka gulungan kain untuk melayani pesanan pelanggan merupakan aturan yang secara diam-diam diizinkan oleh pihak SAGA. Semua toko melakukannya.

Namun pada akhirnya, hanya toko milik Yan yang dijatuhi hukuman.

Tulisan itu menyatakan: “Ini bukan penegakan aturan, tetapi sebuah jebakan.”

Disebutkan pula bahwa pihak SAGA menahan pembayaran hasil penjualan milik Yan sehingga memutus arus kas perusahaannya, kemudian memaksanya menutup toko.

Tulisan tersebut menyimpulkan: “Apakah sekarang sudah mengerti? Ini bukan sengketa bisnis, tetapi sebuah perburuan yang dirancang. Ia sudah tidak memiliki jalan keluar lagi karena setiap jalan telah ditutup oleh SAGA.”

Disebut bukan kasus pertama

Beberapa orang yang mengaku mengetahui situasi tersebut mengatakan bahwa kasus Yan bukanlah yang pertama.

Menurut mereka, pihak SAGA sebelumnya juga pernah menggunakan cara serupa terhadap pelaku usaha lain. Ketika ingin mengambil alih suatu merek untuk dikelola sendiri, mereka terlebih dahulu menjatuhkan denda yang sangat besar sehingga memutus arus kas pemilik toko, lalu memaksa mereka keluar dari pusat perbelanjaan. Yan akhirnya tidak mampu bertahan menghadapi tekanan tersebut.

Selain itu, berbagai informasi yang beredar di internet juga menuduh bahwa SAGA memiliki “pelindung” dari kalangan pejabat pemerintah. Disebutkan bahwa gedung yang semula diperuntukkan bagi pendidikan akhirnya diubah menjadi pusat perbelanjaan SEG International Shopping Center.

Tulisan-tulisan yang beredar juga mengklaim bahwa setelah insiden lompat dari gedung tersebut, jenazah korban telah dievakuasi sebelum polisi tiba di lokasi, keluarga korban disebut-sebut dikurung di toilet, dan pihak terkait bahkan dapat mengerahkan polisi bersenjata khusus.

Dilaporkan oleh Li Li/Disunting oleh Lin Qing

Artikel ini terbit sebelumnya di NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dicap Penyusup, Suhadi Ungkap Alasan Interupsi saat Sidang Praperadilan Roy Suryo
• 19 jam laluokezone.com
thumb
Water Break PSSI Pers samakan visi menuju juara Piala AFF
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Kemensos Perkuat Sekolah Rakyat untuk Cetak Generasi Unggul dan Putus Rantai Kemiskinan hingga 2029
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Anggota Polres Tegal Kota Ditahan Propam Polda Jateng karena Diduga Aniaya Wanita
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Pelepasan Angkatan Pertama SD Tunas Muda Jhonlin, Tingkatkan Mutu Pendidikan
• 13 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.