VIVA – Anak Patrick Kluivert, Justin Kluivert, menjadi sasaran perundungan di media sosial. Hal ini beriringan dengan kegagalannya membantu Timnas Belanda melenggang ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.
De Oranje mengakhiri kiprahnya di Piala Dunia 2026 pada babak 32 besar. Pada Selasa (30/6/2026) pagi WIB lalu, Belanda tersingkir karena kalah adu penalti dari Maroko.
Duel berakhir dengan skor 1-1 setelah 120 menit dan dimenangkan Maroko dengan skor 3-2 dalam sesi tos-tosan. Sebanyak tiga penendang Belanda gagal melaksanakan tugasnya, yaitu Justin Kluivert, Crysencio Summerville, dan Quinten Timber.
Ketiga pemain ini menjadi sasaran hujatan netizen di media sosial setelah laga. Kluivert, secara khusus, mencuri perhatian netizen Indonesia karena sang ayah, Patrick Kluivert.
Patrick Kluivert merupakan mantan pelatih Timnas Indonesia, yang menjabat pada sepanjang tahun 2025 lalu. Kegagalan skuad Garuda menembus Piala Dunia 2026 terjadi di tangan Kluivert, yang dipecat pada Oktober 2025 lalu seusai dipastikan tersingkir di putaran keempat babak kualifikasi zona Asia.
Ketiga pemain yang gagal penalti itu mendapatkan perundungan secara online oleh para netizen. Kebanyakan adalah karena kekecewaan mereka setelah Belanda gagal.
Kluivert dan Summerville bahkan sampai mematikan kolom komentar mereka di Instagram agar menghentikan hujatan publik. Hal ini membuat Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) turun tangan, sebagaimana dilaporkan oleh media Belanda, NOS.
Mereka mengajukan laporan kepada kepolisian mengenai hal ini. “KNVB mengajukan laporan polisi terkait pernyataan diskriminatif di media sosial terhadap para pemain tim nasional Belanda,” demikian laporan dari NOS.
Dilaporkan oleh NOS, hujatan yang diterima Kluivert secara spesifik diterima dari para netizen Indonesia. Hal ini disinyalir terkait dengan kegagalan sang ayah dalam menangani Timnas Indonesia.
- Instagram @patrickkluivert9
“Dalam kasus [Justin] Kluivert, yang juga mencolok adalah banyak komentar kebencian tampaknya berasal dari akun-akun Indonesia. Dalam komentar-komentar tersebut, seringkali dikaitkan dengan ayahnya, Patrick Kluivert, yang sebelumnya gagal lolos ke Piala Dunia sebagai pelatih tim nasional Indonesia,” demikian laporan NOS.
”Terdapat juga komentar-komentar kebencian yang dapat diidentifikasi, tetapi ini lebih sering melibatkan pelecehan verbal dan kekalahan judi daripada komentar-komentar rasis secara eksplisit,” tambahnya.





