Setelah 3 Kali Kalah, Keiko Fujimori Menang di Pilpres Peru 2026

erabaru.net
1 jam lalu
Cover Berita

Kemenangan Keiko Fujimori memperpanjang tren menguatnya kubu konservatif di Amerika Latin setelah hasil pemilu di Argentina, Chile, Ekuador, Bolivia, dan Kolombia.

EtIndonesia.com Keiko Fujimori dipastikan memenangkan pemilihan presiden Peru setelah otoritas pemilu negara itu menyelesaikan penghitungan seluruh suara pada 30 Juni.

Kemenangan pada pilpres Peru 2026 kali ini diraihnya setelah ia gagal memenangkan Pilpres pada 2011, 2016 dan 2021 lalu. 

Politikus konservatif tersebut mengalahkan anggota Kongres berhaluan kiri, Roberto Sánchez, dengan selisih kurang dari 50.000 suara. Hasil akhir yang diumumkan Kantor Proses Pemilu Nasional Peru (ONPE) menunjukkan Fujimori memperoleh 50,135 persen suara, sementara Sánchez meraih 49,865 persen.

Pemilu kali ini berlangsung di tengah perdebatan mengenai tingginya angka kejahatan, kesenjangan sosial, sektor pertambangan, serta jurang pembangunan antara wilayah perkotaan dan pedesaan di Peru.

Dalam unggahan di media sosial X pada 29 Juni, Fujimori menyatakan akan menunggu pengumuman resmi hasil pemilu dengan sikap rendah hati dan penuh tanggung jawab.

“Kita semakin dekat untuk memulai jalan menuju ketertiban dan harapan bagi seluruh rakyat Peru,” tulisnya.

Sementara itu, Sánchez menolak menerima hasil pemilu begitu saja dan berencana mengajukan gugatan ke Komisi Hak Asasi Manusia Antar-Amerika.

Ia menuduh otoritas pemilu mengubah aturan penghitungan suara pemilih di luar negeri pada putaran kedua pemilu.

“Kami meyakini telah terjadi pelanggaran serius terhadap proses pemilu karena aturan permainan diubah saat pemilu sedang berlangsung,” tulis Sánchez dalam unggahannya di X pada 30 Juni.

Sánchez berkampanye dengan agenda reformasi sektor pertambangan, yang menyumbang hampir 12 persen produk domestik bruto (PDB) Peru. Negara tersebut merupakan salah satu produsen utama tembaga, emas, dan perak di dunia.

“Tiga puluh tahun kegiatan pertambangan berlalu, tetapi daerah-daerah tambang masih menjadi wilayah termiskin di negara kami,” kata Sánchez kepada Reuters pada 5 Juni.

Warisan Politik Alberto Fujimori

Keiko Fujimori merupakan putri mantan Presiden Peru Alberto Fujimori, yang memimpin negara itu dari 1990 hingga 2000.

Alberto Fujimori dikenal karena keberhasilannya menumpas pemberontakan kelompok komunis Maois Shining Path (Jalan Bersinar) dan memulihkan stabilitas negara. Namun, para pengkritiknya menuduh pemerintahannya bersifat otoriter dan bertanggung jawab atas berbagai pelanggaran hak asasi manusia.

Pada 2009, ia dijatuhi hukuman 25 tahun penjara atas kasus pelanggaran HAM dan korupsi, termasuk tanggung jawab atas pembunuhan 25 orang yang dilakukan oleh regu kematian pada masa pemerintahannya.

Meski tidak terbukti memerintahkan pembunuhan tersebut secara langsung, pengadilan menyatakan ia bertanggung jawab karena kejahatan itu dilakukan di bawah pemerintahannya.

Alberto Fujimori dibebaskan pada 2023 setelah pengampunannya dipulihkan dan meninggal dunia pada tahun berikutnya pada usia 86 tahun.

Gelombang Konservatif di Amerika Latin

Kemenangan Keiko Fujimori terjadi di tengah menguatnya dukungan terhadap kandidat konservatif di berbagai negara Amerika Latin.

Di Argentina, Javier Milei terpilih sebagai presiden pada 2023 dengan janji memangkas ukuran birokrasi negara dan mengendalikan inflasi yang tinggi. Milei turut mengucapkan selamat atas kemenangan Fujimori.

“Peru berhasil keluar dari sosialisme,” tulis Milei di X pada 30 Juni.

“Rakyat Peru telah mengirimkan pesan yang jelas bahwa kawasan ini ingin kembali ke jalur kebebasan dan keamanan.”

Di Chile, José Antonio Kast memenangkan pemilihan presiden pada 2025 dengan mengalahkan kandidat komunis. Pada tahun yang sama, Bolivia mengakhiri dua dekade dominasi politik sosialis melalui pemilu nasional.

Sementara itu, Presiden Ekuador Daniel Noboa kembali terpilih pada April lalu dengan kampanye yang menitikberatkan pada pemberantasan kejahatan.

Di Kolombia, kandidat konservatif Abelardo de la Espriella memenangkan pemilu putaran kedua pada 22 Juni dengan mengalahkan senator kiri Iván Cepeda Castro.

Sebelum pemilu berlangsung, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mendukung de la Espriella.

“Hasil pemilu ini sangat penting bagi masa depan Kolombia dan hubungannya dengan Amerika Serikat,” tulis Trump di platform Truth Social pada 3 Juni.

Trump juga menyebut Cepeda sebagai “Marxis Kiri Radikal.”

De la Espriella berjanji membangun 10 penjara berkapasitas besar untuk menekan angka kriminalitas, sebuah kebijakan yang membuatnya sering dibandingkan dengan Presiden El Salvador Nayib Bukele.

Di bawah kepemimpinan Bukele, El Salvador melakukan penangkapan besar-besaran terhadap anggota geng kriminal, termasuk kelompok terkenal MS-13, dan menempatkan banyak dari mereka di Pusat Penahanan Terorisme, sebuah penjara raksasa yang mampu menampung sekitar 40.000 narapidana.

Melanie Sun turut berkontribusi dalam laporan ini.

Artikel ini terbit di The Epoch Times edisi bahasa Inggris


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pramono Pastikan Siswa Sekolah Rakyat Tetap Terima KJP
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
Terungkap Niat Israel Bunuh Pejabat Iran Saat Berunding Akhiri Perang
• 20 jam laludetik.com
thumb
Simak! Jadwal KA Panoramic Edisi Juli 2026 Lengkap Beserta Rutenya
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Raja Juli Mengaku Baru Sadar Ditinggali Amplop oleh Bupati Kuansing Saat Audiensi
• 8 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Gus Ipul Tekankan Persiapan Matang MPLS Sekolah Rakyat, Sebut Fase Awal Sangat Krusial
• 12 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.