Monosodium Glutamat (MSG) kerap dianggap menjadi pemicu masalah kesehatan di masyarakat. Padahal, anggapan itu disebut tidak berdasar pada landasan ilmiah.
Menurut dr Reisa Broto Asmoro health expert, belum ada bukti ilmiah yang menyebut bahwa MSG berbahaya bagi kesehatan. Terutama jadi penyebab gangguan fungsi otak.
“Secara klinis sebenarnya tidak ada studi yang mendukung itu. Apalagi jika penggunaan MSG dalam takaran yang tepat,” katanya pada Sabtu (4/7/2026).
Adapun berdasar data FDA dan WHO, kadar natrium dalam MSG hanya sebesar 12 persen. Ini jauh lebih rendah dibanding garam dapur yang mencapai 40 persen, dalam jumlah takaran yang sama.
Selain itu, dalam riset “Journal of Food Science” menyebut, penggunaan MSG bisa memangkas kebutuhan garam hingga 30 persen.
Sementara itu, Mochammad Rizal sebagai dietisien dan nutrisionis menyampaikan, meski secara klini MSG memiliki kandungan natrium lebih rendah, masyarakat perlu memperhatikan porsi takarannya.
“Untuk garam, asupan maksimal satu hari adalah satu sendok teh,” tambahnya.
Berdasar pada kandungan per takaran, natrium pada garam bisa mencapai 40 persen. Sedangkan MSG dan glutamat yang memberikan rasa gurih pada makanan, hanya mencapai 12 persen.
“Jadi untuk orang yang ingin mengontrol asupan natrium atau mencegah terjadinya hipertensi, bisa menambahkan MSG dengan takaran yang cukup,” tutupnya. (kir/saf/faz)




