LPEI Buka Jalan UKM ke Kanada, Begini Cara Program Akses Pasar Menghasilkan Kontrak Ekspor

bisnis.com
17 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Menembus pasar ekspor bukan hanya soal memiliki produk yang berkualitas. Bagi banyak usaha kecil dan menengah (UKM), tantangan terbesar justru terletak pada menemukan pembeli, memenuhi standar negara tujuan, hingga memahami proses logistik dan regulasi perdagangan internasional.

Hal itu yang coba dijembatani Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank melalui Export Market Access Program, sebuah program pendampingan yang menghubungkan UKM dengan calon pembeli di luar negeri. Hasilnya, tujuh UKM Indonesia berhasil memperoleh kontrak ekspor ke Kanada senilai US$190.000 atau sekitar Rp3,4 miliar.

Kontrak tersebut ditandatangani sejak Maret 2026 lalu. Tujuh UKM yang berhasil memperoleh pembeli berasal dari berbagai sektor pangan olahan, yakni PT Kultiva, CV Menara Desa, PT Wins Organic, PT Anak Garuda Sejahtera, PT Indo Tropikal, CV Dua Sholeha, dan PT Azaki International.

Produk yang diekspor meliputi olahan tempe siap saji, gula kelapa dan gula aren, permen jahe, bawang goreng, hingga keripik buah.

Keberhasilan program tersebut tidak berhenti pada penandatanganan kontrak. Hingga 12 Juni 2026, enam UKM telah merealisasikan ekspor senilai US$170.000, sedangkan pengiriman produk PT Azaki International senilai US$20.000 dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026.

Keberhasilan itu menunjukkan bahwa hambatan UKM memasuki pasar ekspor tidak selalu berasal dari kualitas produk. Banyak pelaku usaha justru membutuhkan pendampingan untuk memenuhi standar ekspor, memperbaiki kemasan, memahami kebutuhan pasar, hingga memperoleh akses langsung kepada calon pembeli.

Kepala Divisi Jasa Konsultasi Indonesia Eximbank Maria Sidabutar mengatakan Export Market Access Program dirancang sebagai pendampingan menyeluruh bagi UKM yang ingin menjadi eksportir.

Menurutnya, Indonesia Eximbank mendampingi pelaku usaha sejak proses kurasi produk, peningkatan kualitas dan kemasan, pemenuhan standar ekspor, business matching dengan calon pembeli, hingga fasilitasi perluasan akses pasar di negara tujuan.

"Indonesia Eximbank melalui Export Market Access Program hadir memberikan pendampingan end-to-end kepada UKM, mulai dari kurasi produk, peningkatan kualitas dan kemasan, pemenuhan standar ekspor, business matching, hingga fasilitasi perluasan akses pasar internasional. Pelepasan ekspor ini menjadi bukti nyata bahwa UKM Indonesia mampu menembus pasar global ketika didukung dengan ekosistem yang tepat," ujar Maria.

Kanada sendiri dinilai masih menjadi salah satu pasar yang prospektif bagi produk pangan Indonesia, terutama untuk kategori makanan sehat, produk organik, dan olahan berbasis buah tropis.

Atase Perdagangan KBRI Ottawa Mahdewi Silky mengatakan sejumlah produk seperti keripik pisang, olahan mangga, serta bahan baku mangga mendapat respons positif dari importir di Kanada.

Potensi tersebut tercermin dari tren perdagangan kedua negara. Nilai ekspor produk makanan olahan Indonesia pada kelompok HS 16–21 ke Kanada meningkat dari US$56,35 juta pada 2023 menjadi US$116,56 juta pada 2025. Dalam dua tahun, nilainya tumbuh 106,85%, menunjukkan permintaan terhadap produk pangan olahan Indonesia terus meningkat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
10 Hari Pascagempa, Venezuela Catat 2.954 Korban Tewas dan 50 Ribu Orang Masih Hilang
• 4 jam lalueranasional.com
thumb
Pratinjau Brasil vs Norwegia: Peluang Selecao mengakhiri rekor buruk
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Usai Ramai Dikira Lari Kena Pajak, Pengguna Strava Minta Sosialisasi Pajak Digital Ditingkatkan
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Kepala BPIP: Pancasila tak Cukup Dihafal, Harus Menjadi Karakter
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Ada Marathon, Lima Layanan Transjakarta Mulai Beroperasi Pukul 10.00 WIB pada 5 Juli 2026 Mulai dari Senen–Tanah Abang hingga Gondangdia–Balai Kota
• 6 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.