Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) merayakan hari kemerdekaannya yang ke-250 pada Sabtu (4/7/2026). Usia ini menandai seperempat milenium sejak kemerdekaan pada 1776.
Di balik usia panjang tersebut, ada satu hal yang masih menjadi simbol utama pengaruh AS di dunia, yakni dolar AS.
Dolar bukan hanya mata uang yang dipakai warga AS untuk bertransaksi sehari-hari. Mata uang ini juga digunakan bank sentral, perusahaan, investor, hingga pemerintah di banyak negara. Dolar dipakai untuk menyimpan cadangan devisa, membayar impor, menerbitkan utang, hingga melakukan transaksi valuta asing.
Dominasi dolar terlihat jelas dari data global. Dolar masih menjadi mata uang terbesar dalam cadangan devisa dunia, digunakan dalam lebih dari separuh faktur ekspor global, dan berada di salah satu sisi dari mayoritas transaksi valuta asing dunia.
Pertanyaannya, bagaimana dolar bisa menjadi mata uang yang begitu penting bagi ekonomi global?
Awalnya dolar belum berpengaruh besarDolar AS mulai menjadi satuan uang resmi melalui Coinage Act of 1792. Aturan ini membentuk U.S. Mint dan menetapkan dolar sebagai unit uang standar AS.
Namun, pada masa awal berdirinya AS, dolar belum menjadi mata uang penting di dunia. Saat itu, pusat perdagangan dan keuangan global masih berada di Inggris. Pound sterling menjadi mata uang yang lebih banyak dipakai dalam transaksi internasional karena Inggris adalah kekuatan dagang dan industri utama dunia.
Perubahan mulai terasa pada abad ke-20. Perang Dunia I membuat banyak negara Eropa membutuhkan makanan, bahan baku, peralatan industri, dan perlengkapan perang dari AS. Pembelian besar-besaran itu membuat posisi keuangan Eropa melemah, sementara posisi AS menguat.
AS kemudian berubah dari negara yang sebelumnya banyak bergantung pada modal Eropa menjadi salah satu pusat pembiayaan dunia. Perubahan ini menjadi fondasi awal naiknya pengaruh dolar.
Bretton Woods membuat dolar naik kelasTitik penting berikutnya terjadi setelah Perang Dunia II.
Pada 1944, perwakilan dari 44 negara berkumpul dalam Konferensi Bretton Woods untuk membangun sistem moneter baru setelah perang. Dalam sistem ini, mata uang negara-negara peserta dipatok terhadap dolar AS, sementara dolar AS dipatok terhadap emas pada harga US$35 per ounce.
Sistem ini membuat dolar menjadi pusat sistem keuangan internasional. Negara-negara tidak lagi harus langsung menghubungkan mata uangnya dengan emas. Mereka cukup menghubungkannya dengan dolar, sementara AS menjamin dolar dapat ditukar dengan emas.
Posisi AS saat itu sangat kuat. Banyak negara besar di Eropa dan Asia baru keluar dari perang dan harus membangun kembali ekonominya. Di sisi lain, AS memiliki ekonomi yang relatif lebih kokoh dan cadangan emas yang besar.
Sejak saat itu, dolar semakin banyak disimpan oleh bank sentral, digunakan dalam perdagangan internasional, dan menjadi patokan dalam sistem keuangan global.
Sistem Bretton Woods tidak bertahan selamanya.
Pada 1971, Presiden AS Richard Nixon menghentikan konvertibilitas langsung dolar ke emas. Keputusan ini dikenal sebagai Nixon Shock dan menjadi akhir dari sistem Bretton Woods. Dunia kemudian masuk ke era mata uang fiat dan kurs mengambang.
Secara teori, berakhirnya kaitan dolar dengan emas bisa saja melemahkan posisi dolar. Namun, dalam praktiknya, dolar tetap menjadi mata uang utama dunia.
Salah satu faktor yang ikut menopang posisi dolar adalah perdagangan energi. Minyak mentah banyak diperdagangkan dalam dolar, sehingga negara-negara yang membutuhkan energi juga membutuhkan dolar.
Namun, soal petrodollar perlu dijelaskan dengan hati-hati. Atlantic Council mencatat tidak ada perjanjian resmi yang mewajibkan Arab Saudi menjual minyak hanya dalam dolar AS. Sejarah petrodollar lebih berkaitan dengan hubungan ekonomi, pasar minyak, dan aliran dana hasil minyak ke aset keuangan AS.
Artinya, kekuatan dolar setelah 1971 tidak lagi berasal dari emas. Kekuatan itu lebih banyak berasal dari ukuran ekonomi AS, kedalaman pasar keuangan AS, penggunaan dolar dalam perdagangan, serta kepercayaan pasar terhadap aset-aset berbasis dolar.
Kenapa banyak negara masih menyimpan dolar?Dolar disebut sebagai mata uang cadangan utama karena banyak bank sentral menyimpannya dalam jumlah besar.
Cadangan devisa dibutuhkan untuk banyak hal. Negara menggunakannya untuk membayar kewajiban luar negeri, menjaga stabilitas nilai tukar, membiayai impor, dan menghadapi tekanan pasar ketika kondisi global sedang tidak stabil.
Menurut data IMF, dolar masih menyumbang sekitar 57% dari cadangan devisa global pada kuartal I-2026. Posisinya jauh di atas euro, yen, pound sterling, dan yuan China.
Penggunaan dolar juga luas dalam perdagangan. Brookings mencatat dolar digunakan dalam sekitar 54% faktur perdagangan luar negeri global.
Di pasar valuta asing, dominasi dolar bahkan lebih besar. BIS mencatat dolar berada di salah satu sisi dari 89,2% transaksi valas global pada April 2025. Angka ini naik dari 88,4% pada 2022.
Total pangsa transaksi valas bisa mencapai 200% karena setiap transaksi selalu melibatkan dua mata uang. Misalnya euro terhadap dolar, maka euro dihitung satu sisi dan dolar dihitung satu sisi.
Pasar keuangan AS menjadi faktor utamaAlasan lain dolar sulit tergeser adalah pasar keuangan AS yang sangat besar dan likuid.
Bank sentral dan investor global membutuhkan aset yang aman, mudah dibeli, mudah dijual, dan mampu menampung dana dalam jumlah sangat besar. Kebutuhan itu banyak dipenuhi oleh pasar obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
US Treasury menjadi tempat utama bagi banyak negara dan investor besar untuk menyimpan dana. Pasarnya besar, dalam, dan bisa menyerap transaksi dalam jumlah besar dengan relatif mudah.
Ini menjadi keunggulan penting AS. Negara lain mungkin punya ekonomi besar, tetapi belum tentu punya pasar keuangan sedalam dan selikuid AS.
China memiliki ekonomi besar, tetapi renminbi belum sepenuhnya bebas digunakan karena masih ada kontrol modal. Euro juga besar, tetapi kawasan euro terdiri dari banyak negara dengan kebijakan fiskal yang berbeda. Yen dan pound sterling tetap penting, tetapi ukurannya tidak sebesar dolar dalam sistem global.
Karena itu, dolar bukan hanya kuat karena sejarah. Dolar kuat karena dunia masih membutuhkan pasar keuangan AS.
Keuntungan besar bagi ASStatus dolar sebagai mata uang utama dunia memberi keuntungan besar bagi AS.
Pertama, pemerintah AS lebih mudah membiayai utang. Banyak bank sentral dan investor global membeli surat utang AS karena membutuhkan aset berbasis dolar. Permintaan yang besar ini membantu menjaga biaya pembiayaan AS tetap relatif lebih rendah dibandingkan jika dolar tidak memiliki posisi global.
Kedua, perusahaan AS lebih mudah melakukan transaksi internasional. Mereka bisa membeli bahan baku, mencari pendanaan, dan berdagang lintas negara dengan mata uang sendiri. Risiko kurs yang mereka hadapi lebih kecil dibandingkan perusahaan dari negara yang mata uangnya tidak banyak dipakai di dunia.
Ketiga, AS memiliki pengaruh besar dalam sistem keuangan global. Karena banyak transaksi dolar melewati sistem keuangan yang terkait dengan AS, Washington memiliki ruang besar untuk menggunakan sanksi keuangan terhadap negara, perusahaan, atau individu tertentu.
Namun ada konsekuensinyaPosisi dolar sebagai mata uang utama dunia juga membawa beban bagi AS.
Dunia membutuhkan pasokan dolar yang besar. Agar dolar tersedia di luar AS, aliran dolar harus terus masuk ke sistem global. Salah satu jalurnya adalah defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan AS.
Permintaan global terhadap dolar juga dapat membuat nilai tukar dolar tetap kuat. Bagi konsumen AS, dolar kuat bisa membuat barang impor lebih murah. Namun bagi eksportir dan industri manufaktur AS, dolar kuat dapat membuat produk mereka lebih mahal di pasar global.
Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menekan daya saing sebagian sektor produksi AS.
Jadi, dominasi dolar memberi keuntungan besar, tetapi juga menciptakan tekanan ekonomi di dalam negeri.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/luc) Add as a preferredsource on Google




