Jakarta: Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH)/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Diaz Hendropriyono, menginstruksikan seluruh kepala daerah di Indonesia untuk memperketat pengawasan dan mengantisipasi risiko kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Langkah preventif ini mendesak dilakukan menyusul adanya peringatan dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) terkait dampak ekstrem fenomena iklim El Nino yang memicu kemarau lebih kering.
"Pak Menteri Jumhur sudah mengeluarkan surat edaran kepada kepala daerah untuk mengantisipasi. WMO sudah memberikan warning bahwa El Nino ini akan lebih gawat lagi, artinya kita harus antisipasi akan ada potensi kebakaran lain di TPA di seluruh Indonesia," kata Wamen Diaz dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, dilansir Antara, Minggu, 5 Juli 2026.
Baca Juga :
Kebakaran TPA Jatiwaringin Masuk Hari Kelima, Wamen LH: Karakteristiknya Mirip Lahan GambutDiaz menjelaskan, Surat Edaran (SE) tertanggal 1 Juli 2026 tersebut memuat poin-poin krusial dan panduan taktis bagi pemerintah daerah guna meminimalkan potensi kelalaian di lapangan. Langkah tanggap darurat dinilai sangat vital untuk meredam lonjakan risiko kebakaran infrastruktur pengelolaan sampah, terutama pada TPA berkonsep open dumping yang memproduksi gas metana secara masif dan mudah tersulut cuaca panas.
Pernyataan tersebut disampaikan Diaz usai meninjau langsung penanganan kebakaran di TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu, 4 Juli 2026. Kebakaran di TPA tersebut dilaporkan telah memasuki hari kelima sejak kepulan asap pertama kali terdeteksi warga pada 28 Juni lalu dan mencapai puncaknya pada 30 Juni 2026.
Petugas dari pemadam kebakaran melakukan penyemprotan ke sejumlah titik api yang membakar area TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Rabu (2/7/2026). ANTARA/HO-Pemkab Tangerang.
Di lokasi kejadian, KLH/BPLH memprioritaskan keselamatan dan penanganan dampak kesehatan warga yang bermukim di sekitar TPA. Diaz juga mengapresiasi dukungan Kementerian Kehutanan yang telah menerjunkan pasukan Manggala Agni untuk membantu menjinakkan api karena berpengalaman mengatasi kebakaran lahan gambut.
"Kami sudah minta dilakukan koordinasi dengan pihak bandara dan pihak TNI AU agar bisa melakukan monitoring analisa melalui drone secara berkala, kami juga sudah deploy 2 mobile monitoring system untuk memonitor beberapa hal seperti SO2 (sulfur dioxide), NO2 (nitrogen dioxide), PM 10, PM 2.5 yang kita lihat sudah di atas baku mutu," pungkas Diaz Hendropriyono.




