JAKARTA, KOMPAS — Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN berhasil mengidentifikasi spesies baru katak semak endemik Jawa dari genus Philautus, yaitu Philautus candrageni. Spesies ini menambah daftar keragaman genus Philautus di Jawa yang sebelumnya hanya terdiri atas tiga spesies endemik.
Penemuan spesies baru ini hasil penelitian tim peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN yang dipimpin oleh Alamsyah Elang Nusa Herlambang bersama sejumlah kolaborator. Penelitian ini melalui survei lapangan intensif di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2017-2025, serta kajian koleksi spesimen yang tersimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI) BRIN.
Hasil penelitian telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Zootaxa Volume 5768 edisi Maret 2026 dengan judul ”Revisiting the Taxonomy of Javan Philautus (Anura: Rhacophoridae), with the Description of a New Species”.
Mayoritas spesies sangat bergantung pada habitat hutan yang spesifik.
Dalam publikasinya, tim peneliti melaporkan Philautus candrageni merupakan spesies baru katak semak yang ditemukan di kawasan Gunung Merapi, Yogyakarta. Penelitian ini juga berhasil memperjelas status taksonomi spesies terancam punah, Philautus jacobsoni, yang sebelumnya dikenal sangat terbatas dan bahkan sempat dikategorikan sebagai ”lost species”.
Alamsyah mengemukakan, spesies baru tersebut memiliki karakteristik morfologi, genetik, dan bioakustik yang berbeda dibandingkan spesies kerabatnya.
”Philautus candrageni memiliki ciri tubuh berukuran sedang, struktur kepala dengan canthus rostralis yang tegas, tekstur kulit dorsal relatif halus, serta pola panggilan kawin unik yang terdiri dari tiga nada berbeda,” ujar Alamsyah dalam keterangannya, Minggu (5/7/2026).
Identifikasi spesies baru dilakukan menggunakan pendekatan taksonomi integratif yang menggabungkan analisis morfologi, filogenetik molekuler berbasis DNA mitokondria, serta analisis bioakustik suara panggilan. Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti membedakan garis evolusi yang sebelumnya tersembunyi atau cryptic diversity.
Penelitian dilakukan melalui pengambilan sampel lapangan di Gunung Ungaran, Pegunungan Menoreh, dan Gunung Merapi. Seluruh spesimen dianalisis secara morfometrik, genetik, dan didokumentasikan sebagai bagian dari koleksi nasional di MZB, DPKI BRIN.
Berdasarkan hasil penelitian, Philautus candrageni diketahui memiliki distribusi terbatas di kawasan lereng Gunung Merapi dan hidup pada habitat perkebunan serta area pegunungan dengan ketinggian menengah.
Penemuan ini menambah data penting keanekaragaman hayati amfibi Indonesia, khususnya kelompok katak endemik Pulau Jawa. Selain itu, temuan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara megabiodiversitas dunia dengan kekayaan spesies yang masih terus terungkap melalui penelitian ilmiah.
Alamsyah menilai, spesies endemik dengan distribusi terbatas memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap perubahan lingkungan. Hal ini termasuk dari ancaman degradasi habitat akibat aktivitas manusia maupun perubahan ekosistem di kawasan pegunungan.
”Oleh karena itu, diperlukan upaya konservasi yang lebih terarah untuk menjaga habitat alami spesies endemik agar keberlangsungan populasinya tetap terjaga di alam,” katanya.
Profesor Riset bidang Herpetologi BRIN, Amir Hamidy, mengatakan, perubahan iklim menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya keterancaman amfibi, termasuk katak. Kenaikan suhu, perubahan intensitas cahaya, serta pergeseran pola musim dapat mengganggu fisiologi dan siklus reproduksi katak yang bergantung pada kondisi lingkungan tertentu.
”Ketika pola musim berubah, misalnya musim kemarau menjadi lebih panjang dan musim hujan semakin singkat, siklus reproduksi katak juga akan berubah. Kondisi ini berdampak besar terhadap kelangsungan hidup populasinya,” ujarnya.
Selain itu, penyakit akibat infeksi jamur chytrid juga menjadi ancaman bagi populasi katak. Jamur yang menginfeksi kulit katak itu telah memicu kematian massal dan bahkan menyebabkan beberapa spesies mengalami kepunahan.
Menurut Amir, jamur chytrid berasal dari Amerika Selatan dan menyerang kulit katak yang berfungsi sebagai organ pernapasan sekaligus penyerap air. Ketika kulit terinfeksi, fungsi tersebut terganggu sehingga katak kesulitan bernapas dan akhirnya mati, yang berujung pada penurunan populasi amfibi di berbagai wilayah.
Kemudian ancaman lainnya bagi keberlangsungan katak yakni perubahan habitat. Alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, kawasan industri, permukiman, maupun perkebunan membuat banyak spesies katak kehilangan tempat hidupnya.
Amir tidak menampik terdapat spesies katak yang mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Namun, mayoritas spesies sangat bergantung pada habitat hutan yang spesifik. Selain kehilangan habitat, pencemaran air juga mempercepat penurunan populasi amfibi ini karena perairan merupakan tempat katak bertelur dan berudu tumbuh hingga berkembang.
Amir juga menyoroti tentang pentingnya dukungan regulasi dalam mendukung populasi suatu spesies khususnya katak. Sebab, dari hampir 500 spesies katak di Indonesia, baru satu spesies yang dilindungi secara hukum. Padahal, data dari Badan Konservasi Dunia (IUCN) mencatat beberapa spesies katak sudah masuk kategori terancam punah.
”Kita hanya punya satu spesies katak yang dilindungi, yaitu kodok merah yang endemik di Gunung Gede Pangrango dan Halimun Salak. Namun, kita ada beberapa spesies yang terancam punah dan belum dilindungi. Jadi, ini yang harus segera kita prioritaskan untuk perlindungan,” ungkapnya.




