Pemakaman Khamenei Digelar, Analis: Beijing Tetap Mendukung Teheran tetapi Berusaha Menghindari Risiko “Terkena Sekaligus” 

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Pada Jumat (3 Juli), pemerintah Iran menggelar upacara pemakaman Ali Khamenei. Partai Komunis Tiongkok (PKT) hanya mengirimkan He Wei, Wakil Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional (NPC), sebagai perwakilan untuk menghadiri upacara tersebut. Langkah ini dinilai sebagai upaya Beijing untuk tetap menjaga hubungan politik dengan Iran, namun pada saat yang sama menekan risiko politik dan menghindari kemungkinan “terkena sekaligus” apabila terjadi situasi yang tidak diinginkan.

Khamenei tewas pada akhir Februari lalu akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel. Namun, upacara pemakamannya baru dilaksanakan lebih dari empat bulan kemudian dan sengaja dijadwalkan menjelang Hari Kemerdekaan Amerika Serikat. Sejumlah pengamat menilai waktu pelaksanaan tersebut mengandung unsur simbolisme dan kepentingan politik.

Dalam upacara tersebut, hampir seluruh negara utama di Eropa dan Amerika Utara tidak mengirimkan perwakilan, sehingga acara itu dinilai lebih menyerupai pertemuan negara-negara yang berada dalam kelompok politik yang sama.

Daftar tamu undangan juga menjadi sorotan. Pada 2 Juli, Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengumumkan bahwa He Wei, Wakil Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional, akan mewakili Beijing menghadiri pemakaman. 

Sejumlah akademisi menilai keputusan mengirim pejabat setingkat wakil nasional, bukan pemimpin tertinggi, merupakan langkah yang disengaja untuk mengurangi risiko politik dan menghindari kemungkinan seluruh jajaran puncak terdampak apabila terjadi insiden keamanan.

“PKT tidak mengirim Xi Jinping, Li Qiang, Wang Yi, atau tokoh tertinggi lainnya. Dengan demikian, Beijing juga menghindari penafsiran bahwa mereka sepenuhnya mempertaruhkan dukungan kepada Iran,” ujar Wakil Rektor Universitas Kainan di Taiwan sekaligus pakar geopolitik, Chen Wenjia. 

“Hal ini menunjukkan bahwa dukungan tersebut bukan tanpa syarat, melainkan mencerminkan diplomasi pragmatis khas PKT—di permukaan memberikan dukungan, tetapi sesungguhnya penuh dengan perhitungan dan pertimbangan risiko,” jelasnya. 

Para analis juga berpendapat bahwa meskipun PKT dan Iran memiliki ideologi yang berbeda, dasar hubungan keduanya adalah sama-sama menentang Amerika Serikat, yang mereka pandang sebagai simbol demokrasi liberal.

“Ketika Khamenei memimpin Revolusi Islam dan menggulingkan Dinasti Pahlavi, ia pernah bersekutu dengan kelompok Marxis di Iran. Namun setelah Revolusi Islam berhasil dan pemerintahan teokrasi terbentuk, Khamenei justru memenjarakan seluruh kelompok Marxis tersebut,” ujar Komentator politik yang bermukim di Amerika Serikat, Lan Shu. 

“Kini, karena memiliki musuh bersama, yaitu Amerika Serikat, rezim keagamaan yang sangat konservatif di Iran dan rezim komunis Beijing yang berlandaskan ateisme kembali menjalin hubungan erat,” lanjutnya. 

Laporan hasil wawancara disusun oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yi Xin dan Chang Chun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ukraina dan Polandia Bahas Rekonsiliasi, Perkuat Kerja Sama Hadapi Rusia
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
5 Zodiak Paling Hoki 6 Juli 2026: Gemini Dapat Pemasukan Tambahan, Capricorn Jangan Lewatkan Peluang Emas
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Tolak Keras Aktivitas Penyimpangan Seksual, MUI Dorong Pemkot Palembang Terbitkan Perwali Tolak LGBT
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Dosen Unismuh Makassar Perkuat Kompetensi Pragmatik Pendidik lewat PKM Internasional Bersama Isabela State University Filipina
• 5 jam laluterkini.id
thumb
Kepala Bakom soal Kasus MBG: Hukum Ditegakkan Tanpa Pandang Bulu, Apa pun Latar Belakangnya
• 23 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.