Bisnis.com, JAKARTA — Emiten produsen Taro, PT FKS Food Sejahtera Tbk. (AISA) memilih memperkuat efisiensi operasional dan rantai pasok sebagai strategi utama menghadapi potensi kenaikan inflasi yang berisiko menekan biaya produksi dan daya beli masyarakat.
Berdasarkan rilis data BPS terbaru, pada Juni 2026, Indonesia mencatatkan inflasi 3,34% secara tahunan dan inflasi 1,79% secara year to date. Data BPS menyebutkan adanya kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 111,40 pada Mei 2026 meningkat menjadi 111,89 pada Juni 2026.
Tak hanya inflasi, laporan S&P Global menunjukkan indeks PMI Manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 pada Juni 2026 dari posisi 50,0 pada Mei. S&P Global menyebut penurunan tersebut menandai perubahan kondisi operasional yang hampir stagnan di sektor manufaktur.
VP Corporate Communication and Sustainability FKS Group Beatrice Susanto mengatakan perseroan terus memantau perkembangan kondisi makroekonomi, termasuk tren inflasi, serta mengevaluasi secara berkala potensi pengaruhnya terhadap biaya operasional dan perilaku konsumsi masyarakat.
"Hingga saat ini, perseroan terus berfokus pada pengelolaan operasional yang efisien, optimalisasi rantai pasok, serta pengendalian biaya agar tetap dapat menjaga daya saing dan keberlangsungan kinerja usaha," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (5/7/2026).
Menurut Beatrice, perkembangan inflasi merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat memengaruhi industri barang konsumsi, baik dari sisi kenaikan biaya produksi maupun perubahan pola belanja konsumen.
Meski demikian, pihaknya masih melakukan pemantauan sehingga belum dapat mengukur secara pasti dampaknya terhadap pendapatan dan laba.
Sebagai langkah mitigasi, perseroan berkomitmen menjaga pertumbuhan usaha melalui peningkatan efisiensi operasional, penguatan portofolio produk, serta pengelolaan biaya yang disiplin agar mampu meredam tekanan akibat perubahan kondisi ekonomi.
Terkait dengan antisipasi menghadapi potensi inflasi yang lebih tinggi pada paruh kedua tahun ini, AISA akan mengoptimalkan berbagai aspek operasional, mulai dari efisiensi di seluruh rantai bisnis, optimalisasi pengadaan bahan baku, menjaga produktivitas, hingga terus menghadirkan inovasi produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Sementara itu, mengenai kemungkinan penyesuaian harga jual, AISA belum akan mengambil langkah secara terburu-buru.
Beatrice mengatakan kebijakan harga akan mempertimbangkan sejumlah faktor, seperti perkembangan biaya produksi, tingkat persaingan industri, daya beli masyarakat, dan dinamika pasar.
"Setiap penyesuaian harga akan dilakukan secara selektif dan terukur apabila memang diperlukan, dengan tetap mempertimbangkan kepentingan konsumen serta keberlanjutan bisnis perseroan," katanya.
Memasuki paruh kedua 2026, perseroan juga menyiapkan sejumlah fokus strategi untuk menjaga pertumbuhan bisnis.
Prioritas tersebut meliputi peningkatan penetrasi pasar dan penguatan jaringan distribusi, menjaga ketersediaan produk melalui rantai pasok yang efisien, mengoptimalkan struktur biaya dan modal kerja, mempercepat inovasi produk sesuai preferensi konsumen, serta menjaga kesehatan arus kas dan profitabilitas melalui pengelolaan operasional yang disiplin.
Direktur Utama AISA Gerry Mustika mengatakan fokus utama perseroan adalah memastikan aksesibilitas produk dengan harga ekonomis di tengah situasi ekonomi yang menantang. Gerry melanjutkan saat ini secara aktif telah merancang ukuran kemasan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan konsumen.
AISA menyediakan variasi kemasan mini dengan harga ekonomis dan tetap menyediakan kemasan menengah dan besar.
“Kami berkomitmen tetap memberikan kualitas produk yang baik, meski dalam kemasan kecil. Kami mulai memproduksi Taro seharga Rp1.000 dan Rp2.000, ada juga Mie Kremez dan Mocabe di harga Rp2.000. Ini bagian dari strategi agar produk kami tetap dapat dinikmati oleh masyarakat luas," katanya.
Berdasarkan laporan keuangan AISA yang berakhir 31 Maret 2026, emiten di bawah kendali PT Pangan Sejahtera Investama ini mencatatkan penjualan bersih Rp505,23 miliar, tumbuh 4,9% dibandingkan pencapaian kuartal I/2025 sebesar Rp481,48 miliar.
Adapun besaran laba periode berjalan yang diatribusikan ke pemilik entitas induk pada kuartal I/2026 senilai Rp11,28 miliar, melemah sebesar 67,7% dari laba bersih kuartal I/2025 sebesar Rp34,94 miliar.
AISA pada tahun ini berencana melakukan kuasi reorganisasi untuk mengeliminasi akumulasi defisit atau saldo rugi per 31 Desember 2025 mencapai Rp2,73 triliun, Langkah ini bertujuan menyehatkan neraca keuangan perseroan ke depan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





