Lautan Manusia Berduka di Pemakanan Khamenei, Serukan Balas Dendam

cnbcindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita
Foto: (Office of the Iranian Supreme Leader via REUTERS)
Daftar Isi
  • Seruan Balas Dendam
  • Loyalitas Publik Masih Sulit Diukur
  • Makna Religius di Balik Pemakaman

Jakarta, CNBC Indonesia - Puluhan ribu warga Iran memadati kompleks salat terbuka Imam Khomeini Grand Mosalla di Teheran, Sabtu (4/7/2026), untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang tewas pada awal perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran.

Prosesi pemakaman besar-besaran ini digelar di tengah jeda perang dan menjadi demonstrasi dukungan publik terhadap Republik Islam, meski situasi politik di dalam negeri masih menyisakan banyak tanda tanya.

Warga yang mengenakan pakaian serba hitam dan membalut diri dengan bendera merah-putih-hijau Iran mengangkat foto Khamenei serta putranya, Mojtaba Khamenei, yang telah ditetapkan sebagai penerus kepemimpinan tertinggi negara.


Iran menjadikan pekan ini sebagai rangkaian prosesi pemakaman nasional bagi Khamenei, yang tewas akibat serangan udara pembuka perang yang dilancarkan AS dan Israel pada Februari lalu.

Setelah sebelumnya disemayamkan di dalam ruangan agar para pejabat tinggi Iran dan tamu asing dapat memberikan penghormatan, peti jenazah Khamenei kemudian dipindahkan ke area terbuka dan dipamerkan di balik kaca. Di sampingnya, juga disemayamkan peti jenazah putrinya, menantu laki-laki, menantu perempuan, serta cucunya yang masih berusia 14 bulan.

Hingga kini belum ada penampilan publik ataupun foto terbaru Mojtaba Khamenei sejak serangan tersebut. Media Iran hanya menyebut pemimpin baru itu mengalami luka dalam serangan yang sama.

Ribuan pelayat terus berdatangan ke halaman luas kompleks Imam Khomeini Grand Mosalla. Mereka memukul dada, menangis, dan mengibarkan bendera Republik Islam Iran. Para perempuan mengenakan cadar hitam, sementara sebagian memakai pelindung wajah berwarna putih atau membawa payung untuk menghindari terik matahari pagi.

"Mari kita menangis!" seru seorang pembawa acara melalui pengeras suara, mengajak massa larut dalam suasana duka, sebagaimana dilansir Reuters.

Di tengah prosesi, terdengar pula pekikan "Matilah Amerika" yang menggema di seluruh aula salat.

Baca: Kemlu Buka Suara soal Wakil RI di Penghormatan Terakhir Khamenei

Seruan Balas Dendam

Suasana berkabung juga dibarengi dengan seruan pembalasan terhadap Amerika Serikat.

"Semua orang yang datang ke sini ingin membalas darah pemimpin tertinggi mereka. Seperti yang dikatakan pemimpin kami, kami memiliki dendam darah terhadap Amerika Serikat. Hubungan kami dengan Amerika Serikat tidak akan pernah baik," ujar Arash Rahimi, 40 tahun, kepada Reuters.

Prosesi pemakaman berlangsung pada saat yang sangat menentukan bagi Iran. Kepemimpinan ulama yang didukung militer merasa berhasil mempertahankan sistem pemerintahannya meski diterpa serangan besar selama perang.

Perang sendiri kini memasuki masa jeda menyusul gencatan senjata berdasarkan kesepakatan dengan Washington. Pemerintah Iran meyakini kesepakatan tersebut pada akhirnya akan membawa manfaat ekonomi yang besar dan menganggapnya sebagai bentuk kemenangan atas negara adidaya.

Di sisi lain, situs berita Axios mengutip Presiden AS Donald Trump yang mengatakan pembicaraan damai ditunda selama sepekan untuk menghormati rangkaian pemakaman tersebut.

Menurut Axios, Trump bahkan mengatakan bahwa dengan seluruh pemimpin Iran berkumpul dalam satu lokasi, Washington sebenarnya bisa menghabisi mereka sekaligus.

"Tetapi kami tidak akan melakukan itu karena kalau begitu kami tidak akan punya siapa pun lagi untuk diajak berunding," kata Trump.

Trump juga mengaku terkejut melihat banyak warga Iran menangisi kematian Khamenei.

"Saya kira rakyat membenci Khamenei. Mungkin itu air mata palsu," ujarnya.

Pernyataan tersebut langsung mendapat respons keras dari Kedutaan Besar Iran di Armenia melalui media sosial X.

"Anda tidak memahami hal-hal seperti ini karena Anda tidak memiliki peradaban, sejarah, maupun kehormatan," tulis kedutaan tersebut.

Baca: Jenazah Khamenei Disemayamkan, 20 Juta Orang Diperkirakan Hadir

Loyalitas Publik Masih Sulit Diukur

Di balik demonstrasi solidaritas yang diperlihatkan selama prosesi pemakaman, tingkat dukungan masyarakat terhadap pemerintah Iran sesungguhnya masih sulit diukur.

Beberapa pekan sebelum perang pecah, ratusan ribu warga Iran turun ke jalan menentang pemerintah. Demonstrasi tersebut dibubarkan melalui tindakan represif yang menurut laporan menewaskan ribuan orang.

Namun sejak serangan AS dan Israel dimulai, hampir tidak terlihat lagi aksi penentangan terbuka terhadap pemerintah.

Selama perang berlangsung, lebih dari 3.000 orang tewas, termasuk sejumlah politikus senior dan komandan militer Iran. Berbagai pangkalan militer serta proyek infrastruktur strategis juga hancur sehingga menimbulkan kerugian hingga miliaran dolar.

Meski demikian, Iran berhasil membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, memberikan tekanan kepada negara-negara Arab Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan Amerika, serta mempertahankan kendali atas Selat Hormuz.

Penguasaan terhadap jalur pelayaran strategis tersebut memicu lonjakan harga energi dunia, yang menurut Trump menjadi salah satu alasan Washington mempercepat upaya mencapai perdamaian.

Kesepakatan sementara yang dicapai bulan lalu juga mencakup pencairan miliaran dolar aset Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri, serta pemberian pengecualian terhadap sejumlah sanksi keuangan yang sebelumnya melumpuhkan perekonomian Iran.

Baca: Diam-Diam Trump Bantu Iran, Bongkar Rencana Busuk Israel

Makna Religius di Balik Pemakaman

Dalam sistem pemerintahan teokrasi Iran, Khamenei bukan sekadar kepala negara dan pemimpin revolusi. Ia juga dipandang sebagai wakil Imam terakhir Syiah di bumi, tokoh suci yang diyakini menghilang pada abad ke-9.

Kematian Khamenei akibat serangan musuh memiliki makna simbolis yang kuat dalam tradisi Syiah, yang sejak lama mengagungkan konsep kesyahidan. Tradisi tersebut berakar dari gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Hussein, dalam Pertempuran Karbala pada abad ke-7, peristiwa yang kemudian menjadi titik pemisah antara Islam Syiah dan Sunni.

Dalam ajaran Islam, jenazah umumnya dimakamkan dalam waktu satu hari setelah meninggal dunia. Namun, karena tingginya risiko keamanan selama perang berlangsung, pemakaman Khamenei ditunda hingga tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara bulan lalu.

Peti jenazah Khamenei pertama kali diperlihatkan kepada publik pada Kamis malam. Sejak Jumat hingga Minggu malam, jenazah disemayamkan di aula salat besar yang dibangun untuk menghormati pendahulunya, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Setelah prosesi akbar yang dijadwalkan berlangsung di pusat Kota Teheran pada Senin, jenazah akan dibawa ke Kota Qom, pusat pendidikan ulama Syiah Iran, untuk menjalani rangkaian upacara pada Selasa.

Selanjutnya, jenazah akan diterbangkan ke Irak guna mengikuti prosesi penghormatan di dua kota suci Syiah, Najaf dan Karbala, pada Rabu. Setelah itu, jenazah kembali ke Iran pada Kamis untuk prosesi terakhir di Kota Mashhad sebelum dimakamkan di dekat makam salah satu imam Syiah abad pertengahan.

Pemerintah Iran menyatakan akan mengerahkan jutaan orang untuk mengikuti seluruh rangkaian prosesi pemakaman dalam beberapa hari mendatang, dengan menyediakan fasilitas transportasi, makanan, dan penginapan bagi para pelayat.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: PM Pakistan Bakal Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Apa Itu Tatar Sunda? Ini Arti, Sejarah, dan Wilayah yang Termasuk di Dalamnya
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Melalui Pangan Lokal dan Edukasi VR, ​Tim Pengabdian Masyarakat Unhas Gelar Gerakan Desa Bebas Stunting di Selayar
• 22 jam laluharianfajar
thumb
Ironi Bupati Langkat Back To Back Jadi Tersangka KPK
• 6 jam laludetik.com
thumb
Dugaan Intimidasi Mendiang Dokter Icha Diusut, Polisi Telusuri Jejak Digital
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Nadiem Makarim Bakal Dapat Amnesti dari Presiden Prabowo? Ini Kata Menko Yusril
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.