Bisnis.com,JAKARTA — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin edar produk dengan zat aktif tirzepatide oleh PT Anugerah Pharmindo Lestari. Tirzepatide digunakan sebagai terapi untuk penyakit diabetes melitus tipe 2 dan pada Juli 2026 dengan tambahan indikasi untuk manajemen berat badan.
Tirzepatide merupakan zat aktif yang bekerja dengan mekanisme serupa dengan hormon yang secara alami dilepaskan tubuh, yaitu glucose-dependent insulinotropic polypeptide/GIP dan glucagon-like-peptide 1/GLP-1. Kedua hormon tersebut diproduksi di usus dan terikat pada beberapa reseptor spesifik di tubuh, termasuk di organ pankreas dan otak.
Sebagaimana kerja dari kedua hormon tersebut, tirzepatide bekerja di dalam tubuh dengan meningkatkan sekresi insulin, menekan hormon glukagon, dan meningkatkan sensitivitas insulin yang membantu mengatur kadar gula di dalam darah. Selain itu, tirzepatide juga memperlambat pengosongan lambung sehingga juga dimanfaatkan dalam manajemen berat badan.
“Kehadiran tirzepatide sebagai terapi inovatif diharapkan dapat memperluas pilihan pengobatan bagi pasien, khususnya dalam pengelolaan diabetes melitus tipe 2 dan berat badan. BPOM akan terus berkomitmen untuk terus melakukan berbagai terobosan sebagai upaya meningkatkan ketersediaan obat-obatan baru yang inovatif di Indonesia,” kata Kepala BPOM Taruna Ikrar dikutip dari laman resmi BPOM, Minggu (5/7/2026).
Keberadaan tirzepatide sebagai bentuk terapi inovatif menjadi salah satu pilihan terapi dalam mengatasi penyakit diabetes melitus tipe 2 dan obesitas, dua kondisi yang saat ini menjadi tantangan bagi kesehatan global. Kedua kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena prevalensinya yang terus meningkat dan dampaknya yang luas terhadap kualitas hidup masyarakat.
Diabetes melitus tipe 2 merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi yang tinggi. Data International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas (2025) menunjukkan bahwa sekitar 11,1% populasi dewasa dunia hidup dengan diabetes, dengan 4 dari 10 orang tidak sadar mereka memiliki penyakit tersebut.
Baca Juga
- Perluas Pilihan Terapi Diabetes, Daewoong Hadirkan SGLT2 Inhibitor
- BPOM Temukan Obat Ilegal Berbahaya Merek Codrela dan Trivam Fliege
- Dexa Group Kembali Ekspor Obat Diabetes ke Eropa
Peningkatan prevalensi obesitas juga menjadi tantangan kesehatan yang tidak kalah penting. Data global menunjukkan bahwa jumlah individu dengan kelebihan berat badan dan obesitas terus meningkat, termasuk di Indonesia.
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi obesitas pada penduduk dewasa (usia 18 tahun ke atas) dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan, dari 21,8% pada tahun 2018 menjadi 23,4% pada tahun 2023. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit kronis dan berdampak pada beban sistem kesehatan serta produktivitas nasional.
“Kondisi tersebut menegaskan pentingnya pendekatan holistik dalam penanganan penyakit metabolik, yang meliputi pencegahan, deteksi dini, perubahan gaya hidup, serta ketersediaan terapi yang efektif dan berbasis bukti ilmiah,” jelas Kepala BPOM lebih lanjut.
Inovasi terapi tirzepatide dalam pengobatan diabetes melitus tipe-2 dan manajemen berat badan menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Selain tirzepatide, BPOM juga telah menerbitkan izin edar terhadap obat sejenis dengan indikasi serupa, yaitu semaglutide dan liraglutide.
BPOM memastikan bahwa setiap produk obat yang beredar di Indonesia, termasuk tirzepatide, telah melalui proses evaluasi yang ketat. Evaluasi yang dilakukan mengacu pada standar internasional, termasuk penerapan good laboratory practices (GLP), good clinical practices (GCP), dan good manufacturing practices (GMP).
"Dengan demikian, aspek keamanan, khasiat, dan mutu produk tetap terjamin. Setelah memperoleh izin edar, keamanan obat terus dipantau melalui farmakovigilans sebagai bagian dari pengawasan pascapemasaran," ujar Taruna.





