Fakultas Hukum (FH) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memperkuat pengembangan keilmuan hukum melalui kolaborasi dengan tiga fakultas hukum di Eropa, yakni Tilburg University di Belanda, Université Libre de Bruxelles (ULB) di Belgia, dan Paris 1 Panthéon-Sorbonne Law School di Prancis.
Arinto Nugroho Dekan FH Unesa mengatakan, kolaborasi tersebut dilakukan untuk memperkuat riset hukum internasional, hukum disabilitas hingga humum keolahragaan.
“Kerja sama ini merupakan langkah konkret untuk menghadirkan pendidikan hukum berkelas dunia, memperkuat riset tentang inklusivitas disabilitas, serta mengembangkan kajian hukum keolahragaan sebagai salah satu keunggulan,” katanya dalam keterangan resmi pada Minggu (5/7/2026).
Ia mengatakan, kesepakatan kerja sama itu terjalin dalam rangkaian program Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition (EQUITY) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia.
Di Tilburg University, Belanda, kedua institusi menyepakati penguatan riset kolaboratif melalui Pusat Kajian Hukum Disabilitas yang akan diwujudkan melalui program pertukaran mahasiswa serta mobilitas dosen antara FH Unesa dan Tilburg University.
Di Belgia, FH Unesa menjalin kerja sama dengan ULB melalui skema Erasmus+ Mobility yang akan menerapkan program berupa pertukaran mahasiswa selama satu semester dengan sistem transfer kredit, disertai mobilitas dosen sebagai bagian dari penguatan kualitas pembelajaran dan pengalaman akademik lintas negara.
Sementara di Prancis, FH Unesa membangun kesepakatan dengan Paris 1 Panthéon-Sorbonne Law School yang difokuskan pada riset bersama dan publikasi ilmiah di bidang Hukum Internasional serta Hukum Keolahragaan.
“Bidang hukum keolahragaan dipilih karena menjadi salah satu kekuatan akademik yang terus dikembangkan,” ucapnya.
Ia mengatakan, kemitraan dengan tiga universitas itu akan membuka lebih banyak peluang bagi mahasiswa dan dosen untuk mengembangkan kompetensi akademik melalui kolaborasi internasional.
“Program ini sekaligus mendukung peningkatan kualitas riset, publikasi ilmiah, dan penguatan rekognisi di tingkat global,” pungkasnya. (ris/saf/ham)




