CORE: Implementasi B50 Harus Hitung Biaya Peluang Ekspor CPO

republika.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet berpendapat penerapan mandatori biodiesel B50 perlu mempertimbangkan biaya peluang yang timbul akibat berkurangnya ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Evaluasi penerapan B50 perlu dilakukan secara lebih komprehensif dengan mempertimbangkan faktor di luar penghematan impor solar untuk memastikan manfaat ekonomi program terukur secara akurat.

Pemerintah sebelumnya memperkirakan implementasi B50 mampu menghemat devisa dari penurunan impor solar sekitar Rp 157,28 triliun pada 2026.

Baca Juga
  • Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Nimbun Foto dan Video di Ponsel
  • Trump Singgung Komunisme dalam Pidato Hari Kemerdekaan AS
  • Kebakaran TPA Jatiwaringin Dinilai Perkuat Urgensi Percepatan Waste-to-Energy

Di sisi lain, kebutuhan insentif biodiesel yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) diproyeksikan mencapai sekitar Rp 32 triliun.

Berdasarkan perhitungan tersebut, manfaat ekonomi program dinilai lebih besar dibandingkan biaya langsung yang dikeluarkan.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Namun, Yusuf menilai perhitungan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan biaya ekonomi secara keseluruhan.

Menurut dia, penghematan impor seharusnya dihitung bersamaan dengan potensi berkurangnya penerimaan devisa akibat sebagian produksi CPO dialihkan dari pasar ekspor ke pasar domestik untuk memenuhi kebutuhan biodiesel.

“Ukuran keberhasilan program tidak cukup hanya membandingkan penghematan impor dengan besarnya subsidi, melainkan juga harus memasukkan biaya peluang dari ekspor yang dikorbankan,” ujarnya, Ahad (5/7/2026).

Selain itu, keberhasilan fiskal program B50 dinilai sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas global, terutama selisih harga CPO dan solar berbasis minyak bumi.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
sumber : ANTARA
@font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Red Velvet Comeback Agustus 2026, SM Entertainment Konfirmasi Kehadiran Album Baru 
• 18 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Tol Jagorawi Macet Parah Minggu Malam, 5 Juli, Antrean Kendaraan Capai 5 Km
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
KLH akan Investigasi Sebab Kebakaran TPA Jatiwaringin, Lokasi Pernah Kena Sanksi
• 16 jam lalukatadata.co.id
thumb
IWF Soroti Pentingnya Akses Pendanaan untuk Perempuan Bangun Bisnis
• 14 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Implementasi Pengembangan Kompetensi Berbasis OBE: Mungkinkah bagi ASN?
• 19 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.