KEPUTUSAN kilat Presiden Prabowo Subianto pada 25 Mei 2026 untuk mereaktivasi Bandara Husein Sastranegara di Bandung dan Bandara Adisutjipto di Yogyakarta kembali memantik perdebatan hangat di kalangan perencana wilayah.
Kabar yang dikonfirmasi oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dua hari kemudian itu seolah membawa angin segar bagi industri pariwisata daerah yang sempat lesu.
Namun, di balik antusiasme jangka pendek tersebut, kebijakan ini menghadapkan publik pada benturan antara kalkulasi ekonomi instan dengan cetak biru pembangunan infrastruktur jangka panjang yang telah menelan biaya triliunan rupiah.
Sejak seluruh penerbangan jet komersial dipindahkan ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka pada 29 Oktober 2023, Bandara Husein Sastranegara praktis mengalami mati suri komersial.
Bandara historis ini hanya diperbolehkan melayani penerbangan militer pangkalan TNI Angkatan Udara, aktivitas sekolah penerbangan, serta pesawat baling-baling (propeller) berjadwal dengan frekuensi sangat minim.
Status internasionalnya bahkan resmi dicabut pada April 2024. Padahal, sebelum pembatasan tersebut diberlakukan, Husein Sastranegara adalah mesin uang pariwisata Priangan yang sangat produktif, dengan mencatatkan arus penumpang mencapai 3,8 juta orang pada tahun 2019.
Baca juga: Pelajaran Strategi dari Akuisisi Bakmi GM
Secara fisik, Husein Sastranegara sebenarnya merupakan bandara dengan keterbatasan.
Terletak di tengah cekungan Bandung dengan ketinggian 742 meter di atas permukaan laut, bandara ini dikelilingi perbukitan dan kawasan urban padat.
Panjang landas pacunya yang hanya 2.250 meter berpermukaan aspal tidak mungkin diperpanjang lagi.
Hal ini membatasi operasional pesawat jet maksimal pada kelas berbadan sedang (narrow-body) seperti Boeing 737 atau Airbus A320.
Kondisi ini sangat kontras dengan BIJB Kertajati yang berdiri megah di atas lahan 1.800 hektare dengan landas pacu 3.000 meter yang siap melayani pesawat berbadan lebar sekelas Airbus A380.
Aglomerasi dan Kanibalisasi SpasialDari kacamata ekonomi regional, reaktivasi penerbangan jet di tengah Kota Bandung memang menjadi stimulus instan.
Akses udara langsung yang hanya berjarak 15 menit dari pusat kota akan langsung memanjakan para pelancong berkantong tebal dan pelaku bisnis premium.
Data menunjukkan, ekonomi Kota Bandung tumbuh 5 persen dengan okupansi hotel berbintang melampaui 60 persen.
Angka-angka ini mencerminkan adanya ceruk pasar pariwisata premium yang sangat mendambakan konektivitas tanpa jeda.





