Dari Brasil, Kamboja, sampai Kenya: Bagaimana Jurnalis Hari Ini Menggunakan AI?

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Mon Meng Ean membuka ponsel pintar miliknya, lalu menunjukkan aplikasi ChatGPT. Di dalam aplikasi tersebut, terdapat Custom GPT yang dibuat khusus untuk menerjemahkan berita dalam bahasa Khmer ke bahasa Inggris. Custom GPT adalah versi ChatGPT yang dikustomisasi untuk tugas tertentu.

Meng Ean merupakan jurnalis Fresh News, sebuah media daring di Kamboja. Fresh News memublikasikan berita dalam beberapa bahasa di situsnya, termasuk Khmer dan Inggris. Khmer merupakan bahasa resmi dan bahasa nasional di Kamboja.  

Untuk mempercepat proses penerjemahan berita yang ditulis dalam bahasa Khmer, para jurnalis Fresh News menggunakan aplikasi kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) seperti ChatGPT. Tim Fresh News bahkan membuat Custom GPT yang diatur secara khusus untuk menjalankan tugas penerjemahan itu.    

”Jika kamu menyalin berita dalam bahasa Khmer ke chatbot tersebut (Custom GPT), berita itu otomatis diterjemahkan ke bahasa Inggris,” kata Meng Ean saat ditemui di sela-sela mengikuti program ”SputnikPro AI in Media”, Senin (22/6/2026), di Moskwa, Rusia.

Program SputnikPro AI in Media diselenggarakan oleh Rossiya Segodnya dan Rossotrudnichestvo di Moskwa, Rusia, pada 21-27 Juni 2026. Program ini diikuti sejumlah jurnalis dari beberapa negara, termasuk Kompas yang mewakili Indonesia.   

Rossiya Segodnya merupakan grup media asal Rusia yang menaungi sejumlah media, termasuk kantor berita Sputnik. Adapun Rossotrudnichestvo merupakan lembaga Pemerintah Rusia yang menangani hubungan kebudayaan, pendidikan, dan kerja sama kemanusiaan dengan negara lain.  

Baca JugaAdopsi AI di Media, Membeli Produk Jadi atau Membangun Sistem Sendiri?

Di sela-sela mengikuti program tersebut, Kompas berbincang dengan sejumlah jurnalis dari beberapa negara, termasuk Meng Ean, tentang praktik pemanfaatan AI yang mereka lakukan untuk mendukung pekerjaan jurnalistik.

Menurut Meng Ean, timnya memilih menggunakan ChatGPT untuk menerjemahkan berita dibandingkan dengan alat penerjemahan seperti Google Translate. Hal ini karena ChatGPT dinilai lebih pintar dalam melakukan alih bahasa sehingga hasil terjemahannya pun lebih natural. ”Hasil terjemahan ChatGPT dari Khmer ke Inggris juga sangat akurat,” ujarnya.

Meski begitu, Meng Ean mengatakan, jurnalis tetap harus mengecek hasil terjemahan yang diberikan oleh ChatGPT. Hal ini untuk menghindari adanya kesalahan penerjemahan. Apalagi, chatbot AI seperti ChatGPT bisa berhalusinasi dengan mengarang sesuatu yang tak sesuai fakta. 

”Kami harus mengecek (hasil terjemahan AI), seperti kata-katanya, tanggal, tanda baca, dan keseluruhan beritanya,” ujarnya.

Baca JugaKebebasan Pers Kritis, Forum Media Global DW Serukan Jurnalisme Bersuara Lantang

Meng Ean menambahkan, tim Fresh News juga mengembangkan chatbot bernama Fresh AI. Chatbot yang bisa diakses melalui website dan aplikasi telepon seluler itu bisa menjawab beragam pertanyaan dalam bahasa Khmer.

Pengguna juga bisa bertanya kepada chatbot Fresh AI mengenai berita terkini dari situs Fresh News. Pengguna pun dapat menemukan beberapa informasi lain di Kamboja, seperti lokasi pengisian daya untuk kendaraan listrik, harga emas, serta nilai tukar mata uang riel Kamboja terhadap dolar AS.

Cek fakta dan ide judul

Tak hanya di Kamboja, jurnalis dari sejumlah negara lain pun aktif memanfaatkan AI untuk keperluan sehari-hari. Rocio Paik, jurnalis Opera Mundi yang merupakan media daring di Brasil, mengatakan, beberapa wartawan di medianya menggunakan AI untuk membantu sejumlah pekerjaan, misalnya melakukan cek fakta serta membuat judul untuk berita.

”Beberapa reporter menggunakan AI untuk membantu mengecek fakta sejarah dan untuk mendapatkan ide mengenai judul artikel berita,” kata jurnalis perempuan itu.   

Baca JugaIndonesia Perlu Aturan Main AI yang Lebih Jelas

Sebagai wartawan media daring, Rocio dan kawan-kawannya harus membuat berita yang memperhatikan search engine optimization (SEO) agar mudah ditemukan di mesin pencari. Oleh karena itu, mereka memanfaatkan AI untuk memberikan ide judul berita yang ramah SEO.

Rocio menuturkan, jurnalis di medianya banyak menggunakan DeepSeek, platform AI dari China, untuk membantu keperluan jurnalistik. Saat ditanya kenapa tidak menggunakan ChatGPT yang jauh lebih populer, dia menyebut, ChatGPT dianggap sebagai aplikasi AI yang merepresentasikan kepentingan negara Barat.  

”Banyak orang menggunakan ChatGPT, tapi jurnalis di media kami lebih banyak menggunakan DeepSeek,” ujar Rocio.

Nicholas Amol Awuor, jurnalis asal Kenya, juga mengaku memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaannya sebagai wartawan. Sehari-hari, Nicholas bekerja sebagai editor di The Star yang merupakan koran dan media daring di Kenya.

Nicholas mengaku banyak menggunakan AI untuk membuat judul berita dan menemukan kesalahan penulisan dalam berita yang dikirimkan oleh reporter. Menurut dia, aplikasi AI seperti ChatGPT dan Gemini sangat membantu mempercepat pekerjaan, terutama ketika dirinya berhadapan dengan deadline yang mepet.

Jika kita menghilangkan intervensi manusia, AI tidak akan membantu. Kita tidak bisa menyerahkan semuanya pada AI.

”Saya seorang editor yang bekerja di dua platform, cetak dan digital. Saya sering berada dalam kondisi deadline yang ketat, terutama untuk koran yang akan dicetak. Jadi, saya menggunakan AI, kebanyakan ChatGPT dan Gemini, untuk membuat judul dan menemukan kesalahan dalam berita dengan sangat cepat,” ujar Nicholas.

Nicholas menuturkan, editor video di The Star juga menggunakan aplikasi AI untuk mengedit video. Dengan bantuan AI, proses pengeditan video bisa selesai lebih cepat. Selain itu, beberapa reporter juga memanfaatkan AI untuk melakukan riset, memperbaiki draf berita yang mereka tulis, serta membuat gambar dan video.

Menurut Nicholas, seperti di beberapa negara lain, media di Kenya mengalami tekanan akibat berkurangnya pendapatan. Akibatnya, sejumlah media memberhentikan sebagian jurnalis sehingga jumlah pekerja di media pun berkurang. Kondisi itu membuat jurnalis yang tersisa harus menanggung beban kerja lebih banyak.

Dalam kondisi itu, kehadiran AI dinilai membantu karena jurnalis bisa mempercepat sebagian pekerjaan dengan bantuan teknologi tersebut. ”Sebelumnya jurnalis harus menanggung beban kerja yang ekstrem, tapi sekarang AI bisa membantu dalam banyak hal,” kata Nicholas.

Kekhawatiran dan harapan

Meski begitu, Nicholas mengakui, sebagian jurnalis di Kenya masih tidak setuju dengan pemanfaatan AI di ruang redaksi. Hal ini karena mereka khawatir kehadiran AI akan menggantikan peran jurnalis di media massa. ”Ada beberapa jurnalis yang masih sangat konservatif dan berpendapat bahwa AI akan mengambil pekerjaan mereka,” katanya.

Namun, Nicholas meyakini, AI tidak akan menggantikan peran jurnalis di media. Menurut dia, penggunaan AI di ruang redaksi tetap membutuhkan keterlibatan jurnalis karena AI hanyalah alat. Sebagai alat, pemanfaatan AI sangat bergantung pada manusia sebagai pengguna.  

”Jika kita menghilangkan intervensi manusia, AI tidak akan membantu. Kita tidak bisa menyerahkan semuanya pada AI,” ucapnya.    

Bahkan, Nicholas menuturkan, jika dimanfaatkan dengan baik, AI bisa meningkatkan kualitas produk jurnalistik. Dalam jangka panjang, hal ini juga diyakini bakal meningkatkan kepercayaan publik pada media massa.

”Saya percaya, jika diimplementasikan dengan efisien dan baik di ruang redaksi, bukan hanya di Kenya, melainkan seluruh dunia, AI akan membuat jurnalisme menjadi lebih baik dan itu akan meyakinkan audiens bahwa media massa masih layak didukung secara finansial. Jadi, bagi saya, AI akan membuat pekerjaan kami menjadi lebih baik dan tidak akan mengambil pekerjaan kami,” ungkap Nicholas.    

Baca JugaBanjir Disinformasi di Era AI, Akankah Jurnalisme Bertahan?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemuda yang Minta Uang Bermodus Habis Bensin di Kelapa Gading Ditangkap, Dibawa ke Panti Sosial
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Dokter Anak Ingatkan Pentingnya Membaca Komposisi Produk, Catat Ya Moms!
• 8 jam laluherstory.co.id
thumb
80% PWNU Ingin Adanya Perubahan Total dalam PBNU, Ini Alasannya
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Piala Dunia 2026: Haaland Ungkap Rahasia Ketajamannya Singkirkan Brasil
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Miris! Kasus Korupsi Bupati Langkat, Seragam Sekolah Jadi Lahan Gratifikasi
• 23 menit laludetik.com
Berhasil disimpan.