Startup UBTech Robotics asal Shenzhen, China, memperkenalkan U1 sebagai robot humanoid berukuran penuh pertama di dunia, yang desain bagian luarnya dapat di-custom menyerupai kulit manusia. Ia dirancang untuk produksi massal sebagai robot pendamping manusia.
Dibekali rangka logam yang dilapisi kulit sintetis lentur layaknya manusia, robot ini dirancang untuk memberikan interaksi sosial berbasis kecerdasan buatan (AI). U1 dilengkapi dengan kamera pada mata, sensor di dada, mikrofon perekam suara, hingga jemari dengan kuku yang dirapikan secara estetis.
Harganya mulai dari 119.800 yuan atau sekitar Rp 316 juta untuk versi standar, hingga 990.000 yuan, yakni sekitar Rp 2,6 miliar untuk versi "Ultra" yang memiliki fitur lebih canggih.
Menariknya, pembeli dengan anggaran lebih dapat memesan custom wajah, rambut, hingga pakaian, agar bagian luar robot menyerupai orang terkasih, selebritas, atau karakter imajiner.
Kepala brand UBTech Robotics, Michael Tam, menjelaskan bahwa robot bionik ini ditujukan bagi konsumen yang ingin memenuhi kebutuhan emosional, khususnya manusia kelompok lanjut usia dan mereka yang hidup sendiri.
"Robot bionik kami dapat menemani Anda seumur hidup. Ia tidak akan pernah mengkhianati Anda, akan selalu setia, dan mencintai Anda tanpa syarat," ujar Michael Tam dalam acara peluncuran di Shenzhe dalam laporan AFP.
Teman ngobrol, tidak untuk pekerjaan rumahMeskipun memiliki kemampuan interaksi sosial, U1 tidak dirancang untuk melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak atau membersihkan rumah. Robot ini memiliki daya tahan baterai hingga empat jam untuk menggerakkan kepala, mata, dan mulut. Kemampuannya berfokus pada fungsi pendampingan ke manusia, seperti mengobrol ringan, mengingatkan jadwal minum obat, mendeteksi kelelahan pengguna, hingga menemani menonton pertandingan olahraga bersama.
UBTech Robotics mengeklaim telah menerima lebih dari 13.300 pesanan dengan pengiriman perdana yang dijadwalkan mulai September 2026.
Kendati pasarnya menggiurkan, kehadiran robot humanoid yang sangat mirip manusia ini tetap memicu perbincangan hangat di kalangan analis teknologi, terutama terkait aspek psikologis interaksi manusia-robot.
Lian Jye Su, kepala analis di Omdia yang berbasis di Singapura, menilai robot pendamping ini memiliki nilai tersendiri, namun keberadaannya masih berada di pasar yang sangat spesifik.
"Ada value untuk robot pendamping, meskipun spesifik di pasar khusus seperti perawatan lansia atau kesehatan mental. Namun, mereka harus melewati uji 'uncanny valley' agar dapat diterima secara fisik dan emosional," kata Su.
Fenomena uncanny valley sendiri merujuk pada perasaan tidak nyaman, aneh, atau ngeri yang kerap muncul saat manusia berinteraksi dengan objek buatan yang dirancang terlalu menyerupai manusia asli.
Selain faktor psikologis, isu privasi data juga menjadi perhatian serius di tengah maraknya adopsi teknologi robotika fisik berbasis AI. Menjawab kekhawatiran tersebut, UBTech Robotics menegaskan bahwa seluruh data yang diproses oleh robot U1 dienkripsi sepenuhnya dan tidak akan digunakan untuk melatih model AI mereka secara eksternal.





