REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK - Prestasi membanggakan ditorehkan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI). Cicih Nuraeni, dosen Program Studi (Prodi) Sastra Inggris UBSI, berhasil masuk dalam jajaran Top 5 Best Speaker pada ajang Global Youth Congress (GYC) 2026 yang berlangsung di C ASEAN Ratchada, Bangkok, Thailand, Jumat (3/7/2026).
Dalam forum internasional yang mempertemukan pemuda, akademisi, dan pemimpin muda dari berbagai negara tersebut, Cicih tampil sebagai delegasi Indonesia dengan membawakan pidato berjudul “Innovation Begins with Education” atau Inovasi Dimulai dari Pendidikan.
Melalui pidatonya, Cicih menekankan inovasi terbesar tidak lahir dari kecanggihan teknologi semata, melainkan dari pendidikan yang mampu membentuk karakter, pola pikir, dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Ketika kita berbicara tentang inovasi, kita sering kali memikirkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), robotika, atau teknologi yang revolusioner. Namun, saya percaya bahwa inovasi terbesar tidak dimulai dari mesin, melainkan dari pendidikan,” kata Cicih di hadapan para delegasi internasional.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Ia menjelaskan meskipun kecerdasan buatan mampu menghasilkan ide, menjawab pertanyaan, dan menyelesaikan berbagai persoalan dengan cepat, teknologi tidak dapat menggantikan rasa ingin tahu, empati, integritas, serta keberanian dalam mengambil keputusan yang etis. Menurutnya, nilai-nilai tersebut dibangun melalui proses pendidikan dan peran guru.
Dalam pidato tersebut, Cicih menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi sebagai sarana untuk memperkuat kualitas pembelajaran, bukan menggantikan peran pendidik. Ia menegaskan inovasi pendidikan harus berorientasi pada terciptanya pembelajaran yang lebih inklusif, personal, dan bermakna bagi peserta didik.
Untuk memperkuat argumennya, Cicih mengutip hasil studi PISA 2022 dari OECD yang menunjukkan bahwa siswa dengan growth mindset atau pola pikir berkembang cenderung memiliki capaian belajar yang lebih baik dibandingkan siswa dengan fixed mindset. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berfungsi untuk mentransfer pengetahuan, tapi juga membangun kemampuan beradaptasi dan berinovasi sepanjang hayat.
“Sebagai seorang dosen, saya percaya bahwa tanggung jawab kami tidak hanya mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi ujian. Kami sedang mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan yang bahkan belum ada saat ini, serta pekerjaan yang belum pernah diciptakan,” ujar Cicih.
Sebagai penutup pidatonya, ia mengajak seluruh peserta untuk memandang pendidikan sebagai investasi terbesar bagi masa depan dunia. Menurutnya, setiap inovasi, terobosan, dan solusi bagi berbagai tantangan global berawal dari ruang kelas yang mampu menumbuhkan mimpi serta inspirasi bagi generasi muda.
Prestasi Cicih sebagai Top 5 Best Speaker menjadi bukti bahwa gagasan yang lahir dari dunia pendidikan Indonesia mampu mendapat apresiasi di tingkat internasional. Pencapaian ini sekaligus menunjukkan komitmen UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif dalam mendorong dosen dan sivitas akademika untuk aktif berkontribusi dalam forum global serta menghadirkan pemikiran yang relevan terhadap berbagai isu masa depan.
Melalui partisipasi dalam Global Youth Congress 2026, UBSI berharap semakin banyak pendidik dan generasi muda Indonesia yang berani menyuarakan ide, membangun kolaborasi internasional, serta berkontribusi dalam menciptakan perubahan positif bagi masyarakat dunia.




