Rupiah diperkirakan menguat pada perdagangan Senin (6/7/2026), seiring pernyataan dovish Kevin Warsh Gubernur Federal Reserve (The Fed) yang mendorong ekspektasi pembatalan kenaikan suku bunga tahun ini.
“Rupiah pada perdagangan hari ini memiliki ruang penguatan pada kisaran di Rp17.920-Rp17.970 dipengaruhi oleh faktor global melemahnya index dollar seiring dengan pernyataan Gubernur The Fed yang dovish menggiring ekspektasi pasar atas pembatalan kenaikan suku bunga tahun ini dan harga minyak yang terus turun,” ucap Rully Nova Analis Bank Woori Saudara kepada Antara di Jakarta, Senin.
Pada pembukaan perdagangan Senin pagi, rupiah sempat melemah 29 poin atau 0,16 persen ke Rp17.992 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp17.963.
Mengutip Anadolu, pasar sebelumnya memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober mencapai 82 persen. Namun pasca rilis data nonfarm payroll AS untuk Juni yang lebih rendah dari perkiraan, probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun dari 67 persen menjadi 63 persen.
Menurut Rully, sikap hati-hati The Fed dipicu kekhawatiran atas dampak kenaikan harga minyak di semester pertama terhadap inflasi di semester kedua. Kondisi pasar tenaga kerja juga dinilai lebih mengkhawatirkan The Fed karena berpotensi berdampak lebih dalam pada perekonomian AS.
Dari sisi domestik, Rully mengingatkan masih ada sejumlah faktor pemberat bagi penguatan rupiah. “Dari domestik, masih menjadi faktor pemberat bagi penguatan rupiah terkait data-data ekonomi antara lain ruang fiskal, defisit neraca perdagangan, dan cadangan devisa,” ungkapnya.(ant/iss/ham)




