Pengalaman buruk di masa kecil, umumnya diakibatkan oleh kekerasan yang pernah mereka alami atau saksikan di lingkungan rumah dan sekolah, seringkali berpotensi menimbulkan trauma. Dalam jangka panjang, pengalaman buruk itu dapat meningkatkan risiko munculnya masalah kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi.
Dari laporan Kesehatan Remaja Awal di Indonesia: Basis Bukti dari GEAS-Indonesia, sekitar 78 persen remaja Indonesia mengaku pernah mengalami pengalaman buruk pada masa kecil (adverse childhood experiences/ACE).
Sayangnya, orang-orang di lingkungan sekitar, seperti keluarga dan guru, seringkali belum memahami dampak pengalaman buruk pada masa kecil tersebut. Akibatnya, kasus kesehatan mental di Indonesia kerap terlambat didiagnosis dan ditangani.
Guna membantu meningkatkan kesadaran warga mengenai penanganan pengalaman buruk di masa kecil, para peneliti dari Monash University, Indonesia sedang mengembangkan sebuah platform digital berbasis AI bernama ”Kita Bersama”.
Berdasarkan media release Monash University, Indonesia, pada Kamis (2/7/2026), hingga pertengahan 2026, para peneliti telah menyelesaikan proses co-design dengan anak muda dan orangtua di Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Jakarta. Dari proses ini, tim peneliti memperoleh wawasan penting mengenai kebutuhan layanan kesehatan mental digital di tingkat lokal.
Tim yang terlibat dalam pengembangan platform Kita Bersama untuk membantu kesehatan mental anak-anak muda di Indonesia ini dipimpin Grace Wangge sebagai peneliti utama. Adapun peneliti pendamping yakni Adi Palguna, Gabriela Fernando, Yuslina Mutia Sari, Anggi Wulandari, dan Patrick Oliver.
Mengutip riset yang diterbitkan pada 2021 dalam jurnal Child Abuse & Neglect, individu yang memiliki pengalaman buruk pada masa kecil berisiko mengulangi kekerasan yang pernah mereka alami pada anak mereka maupun anak-anak lain. Karena itu, platform ”Kita Bersama” diharapkan membantu anak muda meningkatkan kemampuan mereka beradaptasi di bawah bayang-bayang pengalaman buruk di masa kecil.
Platform ”Kita Bersama” memanfaatkan akal imitasi (AI). Sebuah studi tahun 2024 yang diterbitkan dalam Journal of Medicine, Surgery, and Public Health mengungkapkan, AI mampu mendeteksi perubahan emosional seseorang sejak dini melalui bahasa yang digunakan, pola tidur, aktivitas fisik, serta interaksi. Kemampuan ini didukung kapasitas sistem AI dalam mengenali pola dan menganalisisi data berjumlah besar.
Grace Wangge menjelaskan, agar dapat dimanfaatkan secara tepat sasaran, pengembangan AI perlu disesuaikan dengan konteks lokal dan kebutuhan warga Indonesia. Hal ini mencakup sistem kesehatan, pendidikan, bahasa, budaya, serta dinamika keluarga dalam pengambilan keputusan medis.
Tujuannya adalah mengurangi risiko bias diagnosis akibat keterbatasan AI dalam memahami konteks sosial, budaya, dan sistem kesehatan di Indonesia. Selain berpotensi menghasilkan diagnosis yang keliru, bias AI juga dapat memperburuk stigma terhadap kelompok rentan.
Oleh karena itu, dalam pengembangan platform Kita Bersama, tim peneliti menyelenggarakan serangkaian lokakarya co-design. Lokakarya ini melibatkan peserta berusia 10–24 tahun, orangtua dan guru mereka, serta tenaga kesehatan.
Tim peneliti juga melibatkan para penyintas gangguan kesehatan mental. Keterlibatan ini penting agar platform yang dikembangkan benar-benar mampu menjawab kebutuhan para penyintas.
Prototipe yang dihasilkan saat ini sedang menjalani tahap konsultasi dengan para ahli dan para pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Kesehatan, sebelum uji coba dilakukan secara sukarela di Jawa Barat dan Kalimantan Timur pada akhir 2026. Hasil lengkap dari uji coba tersebut diperkirakan akan tersedia pada Februari 2027.
Gabriela Fernando menegaskan, kehadiran platform ”Kita Bersama” bukan untuk menggantikan peran psikolog atau psikiater. Karena itu, pengguna platform yang terindikasi mengalami tanda-tanda masalah kesehatan mental akibat pengalaman buruk di masa kecil mereka akan tetap diarahkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Berbagai penelitian menunjukkan, AI belum dapat menggantikan aspek keterhubungan dan empati dalam interaksi antarmanusia, khususnya antara pasien dan terapis. Padahal, kedua aspek tersebut merupakan inti dari proses pemulihan dalam terapi psikologis.
Perkembangan platform ”Kita Bersama” menghadapi banyak tantangan agar bisa berperan luas memenuhi kebutuhan pengguna layanan kesehatan mental di Indonesia. Kesenjangan digital yang lebar jadi salah satu tantangan utama. Di banyak daerah terpencil, akses internet terbatas, perangkat yang tersedia belum memadai, dan literasi kesehatan digital masyarakat rendah.
Kehadiran platform ’Kita Bersama’ bukan untuk menggantikan peran psikolog atau psikiater. Karena itu, pengguna platform yang terindikasi mengalami tanda-tanda masalah kesehatan mental akibat pengalaman buruk di masa kecil mereka akan tetap diarahkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Selain itu, isu etika dan privasi perlu mendapat perhatian serius. Informasi kesehatan mental termasuk kategori data amat sensitif dan rentan disalahgunakan. Karena itu, proses pengumpulan, penyimpanan, dan penggunaan data itu harus sejalan dengan prinsip transparansi, persetujuan berdasarkan informasi memadai (informed consent), serta perlindungan data yang ketat.
Sementara dari studi otak tentang trauma masa kanak-kanak yang dilakukan peneliti University of Essex, Inggris, dan dipublikasikan di Jurnal Biological Psychiatry : Cognitive Neuroscience and Neuroimaging, ditemukan adanya gangguan jaringan saraf yang terlibat dalam fokus diri dan pemecahan masalah.
“Ini berarti anak di bawah 18 tahun yang mengalami pelecehan kemungkinan akan kesulitan dalam hal emosi, empati, dan pemahaman tentang tubuh mereka,” kata Megan Klabunde dari Departemen Psikologi, University of Essex, yang memimpin penelitian.
Studi tersebut menemukan perbedaan yang mencolok pada jaringan mode default (DMN) dan jaringan eksekutif pusat (CEN) pada anak-anak yang mengalami trauma. Keduanya merupakan sistem otak berskala besar. DMN dan insula posterior terlibat dalam bagaimana seseorang merasakan tubuh mereka, kesadaran diri, dan refleksi internal mereka.
Studi-studi baru menemukan bahwa DMN memainkan peran penting dalam sebagian besar masalah kesehatan mental. Kemungkinan ini dipengaruhi oleh pengalaman trauma masa kanak-kanak.
Adapun CEN juga lebih aktif dibandingkan pada anak-anak sehat. Hal ini berarti bahwa anak-anak dengan riwayat trauma cenderung merenung dan menghidupkan kembali pengalaman mengerikan ketika dipicu.
"Selain mencegah penghindaran situasi yang menakutkan dan mengatasi pikiran seseorang, terapi trauma pada anak-anak juga harus membahas bagaimana trauma berdampak pada tubuh, rasa diri, pemrosesan emosional/empati, dan hubungan seseorang," kata Klabunde.
Klabunde berharap studi tersebut akan menjadi batu loncatan untuk mengetahui lebih banyak tentang bagaimana trauma memengaruhi perkembangan pikiran. Jika gejala tidak diobati, kemungkinan akan berkontribusi pada masalah kesehatan dan kesehatan mental lainnya sepanjang hidup.





