REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Mendapatkan celaan, direndahkan, atau diperlakukan tidak adil merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Menurut Ustadz Adi Hidayat (UAH), justru kondisi tersebut merupakan sesuatu yang normal dialami setiap manusia, bahkan oleh para nabi dan rasul.
UAH menjelaskan bahwa tidak ada kehidupan yang berjalan sepenuhnya sesuai keinginan. Perbedaan pendapat hingga kritik merupakan keniscayaan. Bahkan, kata dia, dalam rumah tangga saja bisa berbeda pandangan. Misalnya, suami dan istri bisa berbeda memilih hal-hal sederhana seperti pakaian.
- Meski Kalah Timnas Tanjung Verde Disambut Meriah
- Dalam 20 Bulan, OJK Terima Lebih dari 608 Ribu Laporan Penipuan di Sektor Jasa Keuangan
- UMS dan UKM Malaysia Fokus Perkuat Kolaborasi Internasional untuk Tingkatkan Daya Saing Global
"Jadi dalam kehidupan itu, tidak akan berjalan sempurna seperti yang ingin kita rasakan. Selalu akan ada perbedaan pandangan. Bahkan dalam kehidupan rumah tangga," ujar UAH dalam kajian bertema "Hadiah Allah Ketika Mengalami Kesulitan" di kanal YouTube resminya, dikutip Senin (6/7/2026),
Namun, menurut dia, perbedaan pandangan terkadang berkembang menjadi tindakan yang kontraproduktif, seperti celaan atau perendahan terhadap orang lain.
.rec-desc {padding: 7px !important;}UAH mengingatkan, orang yang berharap hidup tanpa kritik sejatinya menginginkan sesuatu yang mustahil.
"Allah dicela. Malaikat dicela. Rasul dicela. Nabi dicela. Sahabat dicela. Tabiin dicela. Ulama dicela. Kita siapa yang mungkin belum menjadi bagian dari orang-orang itu, dan ingin bebas dari celaan itu, mustahil," ujarnya.
Karena itu, ia mengajak jamaahnya untuk mengubah cara pandang terhadap ujian tersebut.
"Jadi kalau mendapatkan celaan, berbahagialah. Berarti kehidupan kita normal, jelas?" katanya.
Menurut UAH, yang lebih penting bukanlah bagaimana menghindari kritik, melainkan membangun ketenangan hati agar tetap mampu berpikir jernih dan mengambil keputusan secara terukur.
"Ketenagan itu yang membawa pikiran tenang, dan tindakan yang terukur. Dan kadang-kadang ketenangan itu, itu lebih penting bahkan dibandingkan dengan harta yang berlimpah," ujarnya.
UAH kemudian menyinggung fase berat yang pernah dialami Nabi Muhammad SAW ketika wahyu sempat terhenti turun selama beberapa waktu. Situasi itu dimanfaatkan oleh kaum Quraisy untuk menyerang dan meragukan kenabian beliau. Bahkan, muncul tuduhan, 'Muhammad sudah ditinggalkan Tuhannya. Muhammad sudah gila.'
"Kalau Anda berbuat baik, pasti ada tantangan. Ingat ya? Kalau Anda berbuat baik, apapun itu, pasti ada tantangan yang menguji konsistensi kebaikan itu apakah serius untuk dilakukan atau tidak," ucapnya.




