Baru-baru ini Kedutaan Republik Islam Iran di Indonesia melalui akun X resminya merilis daftar negara yang disebut mengirimkan perwakilan mereka untuk memberikan penghormatan terakhir bagi pemimpin mereka, Ayatollah Ali Khamenei.
Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 lalu. Serangan tersebut memicu konflik intens yang berlangsung hampir tiga pekan sebelum akhirnya berakhir melalui gencatan senjata selama berbulan-bulan.
Diketahui dari daftar nama yang beredar, tidak ada nama Indonesia. Tidak adanya Indonesia dalam daftar negara pengirim delegasi langsung mendapat sorotan warganet di media sosial.
Menanggapi hal tersebut, media sosial KBRI Teheran @indonesiaintehran mengonfirmasi Indonesia akan diwakili oleh Duta Besar RI untuk Iran, Rolliansyah Soemirat, untuk menghadiri rangkaian upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.
"Duta Besar RI Teheran bersama sejumlah WNI yang berada di Iran telah hadir pada acara penghormatan dan doa bersama Almarhum Yang Mulia Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, yang digelar di Grand Mosalla Tehean (4/7), " demikian keterangan dalam unggahan di akun Instagram KBRI di Tehran, Iran pada Sabtu, 4 Juli 2026.
Dino Patti Djalal Kritik Absennya RISementara itu, Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal mengkritik sikap Pemerintah Indonesia yang tidak mengirimkan delegasi resmi ke pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran.
Menurutnya, sikap pemerintah Indonesia ini perlu dipertanyakan mengenai konsistensi arah diplomasi luar negeri yang menganut bebas aktif.
"Dengan hormat, saya sungguh heran kenapa Pemerintah Indonesia tidak memenuhi undangan Iran untuk mengirim delegasi resmi ke pemakaman almarhum Ayatollah Khamenei yang terbunuh dalam serangan militer ilegal," kata Dino dalam unggahan di media sosial miliknya, Minggu, 5 Juli 2026.
Dalam unggahannya Dino mengaku memperoleh informasi bahwa pemerintah Iran telah berupaya mengundang Indonesia melalui berbagai jalur. Namun, upaya tersebut tidak memperoleh respons dari pemerintah Indonesia.
"Yang saya dengar, berbagai upaya gigih Iran untuk mengundang Pemerintah Indonesia tidak mendapat tanggapan. Akhirnya, yang hadir hanya Dubes RI di Teheran—yang dianggap oleh Teheran sebagai sikap menyepelekan undangan ini," sambungnya.
Dino juga turut membandingkan sikap Indonesia dengan sejumlah negara lain yang mengirimkan delegrasi resminya seperti Arab Saudi, Qatar, Turki, Oman, Pakistan, Kazakhstan, Rusia, China, India, Malaysia, hingga Bangladesh.
"Apakah ini berarti polugri "bebas aktif" kita mulai luntur karena Indonesia takut atau sungkan terhadap Amerika? Has "Fear" become a factor in Indonesian foreign policy?" tekannya.
Di akhir unggahannya, ia berharap agar prinsip politik luar negeri bebas aktif tidak hanya menjadi slogan, tetapi diwujudkan melalui sikap yang konsisten dalam menghadapi situasi internasional yang sensitif.
"Jangan sampai kita selalu lantang bicara bebas aktif, tapi begitu diminta menentukan sikap dalam situasi yang sensitif, kita bersembunyi. Please remember: bebas aktif adalah #diplomasiberprinsip, bukan #diplomasisungkan.".
Daftar 32 Negara yang Hadir-
Rusia
-
China
-
Pakistan
-
India
-
Turkey
-
Turkmenistan
-
Tajikistan
-
Irak
-
Georgia
-
Armenia
-
Afghanistan
-
Oman
-
Qatar
-
Azerbaijan
-
Kirgizstan
-
Uzbekistan
-
Bangladesh
-
Mesir
-
Kazakhstan
-
Ghana
-
Nikaragua
-
Republik Demokratik Kongo
-
Serbia
-
Tunisia
-
Lebanon
-
Namibia
-
Malaysia
-
Kuba
-
Sri Lanka
-
Myanmar
-
Gambia
-
Thailand
Baca Juga:Jadwal Produksi Massal iPhone Ultra Dimulai Pada Juli 2026, Harga Diperkirakan Sentuh Rp 40 Juta





