Bisnis.com, JAKARTA — PT Agrinas Palma Nusantara membuka lowongan kerja untuk lebih dari 20.000 orang hingga Agustus 2026. Langkah tersebut diambil untuk mengejar target produksi di kebun sawit sitaan negara yang mereka kelola.
Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani menjelaskan bahwa pembenahan tim menjadi fokus utama saat ini. Perubahan besar harus dilakukan karena perusahaan ini awalnya bergerak di bidang konstruksi (perusahaan karya), sebelum akhirnya ditunjuk mengelola perkebunan.
“Pertama menyusun organisasi dulu di korporasi perkebunan. Insyaallah bulan Juli ini seluruh tenaga manajemen yang dibutuhkan akan kita penuhi,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin (6/7/2026).
Ghani memerinci lowongan tersebut terdiri atas 1.844 karyawan pimpinan, 9.500 mandor, dan 11.000 tukang panen. Perusahaan berkomitmen mendahulukan warga lokal di sekitar perkebunan yang tersebar dari Aceh hingga Papua.
Penambahan pekerja ini sangat dibutuhkan karena lahan yang harus diurus sangat luas. Saat ini, Agrinas Palma memegang 4,11 juta hektare lahan sitaan negara, dengan area yang sudah tertanam sawit baru seluas 729.677 hektare.
Akibat peralihan dari bisnis konstruksi ke sawit, laba bersih perusahaan pada 2025 hanya senilai Rp2,7 miliar. Meski begitu, Ghani yakin masuknya para pekerja baru pada Agustus nanti akan mendongkrak kinerja di paruh kedua tahun ini.
Baca Juga
- Kelola Jutaan Hektare Lahan, Agrinas Palma Cetak Laba Rp2,7 Miliar pada 2025
- Kemenkop Gandeng Agrinas Palma, 20% Lahan Sawit Produktif Akan Dikelola Koperasi
- PMJS Raih Kontrak Agrinas Rp10,8 T, Pasok 20.600 Truk Kopdes Merah Putih
“Kalau di Maret kita hanya separuh dari target, bulan Mei sudah tinggal 25%. Juni mungkin tinggal 15% dan bulan Agustus kita sudah akan mencapai target,” ucapnya.
Berdasarkan data operasional perusahaan, Gani memaparkan bahwa dari total 4,11 juta hektare lahan yang tersebar dari Aceh hingga Papua, sebanyak 1,7 juta hektare masuk dalam penyerahan tahap I hingga V yang telah terverifikasi.
Dari jumlah lahan terverifikasi tersebut, area yang telah tertanam sawit baru mencapai 729.677 hektare, sedangkan sisanya merupakan lahan non-sawit. Saat ini, perseroan juga tengah memproses verifikasi sisa lahan seluas 2,5 juta hektare.
Adapun aset-aset tersebut bersumber dari tiga jalur penegakan hukum, yaitu lahan inkrah PT Turganda di Sumatra Utara seluas 48.000 hektare, lahan sitaan kasus Duta Palma di Riau dan Kalimantan Barat yang masih dalam proses pengadilan, serta lahan yang disita oleh Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH).





